Rupiah Makin Tertekan, Dolar AS Kini Tembus Rp16.945

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026).

Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah berakhir di level Rp16.945/US$ atau terdepresiasi 0,06%. Posisi penutupan ini sekaligus menjadi level terlemah rupiah sepanjang masa.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak volatil dan cenderung tertekan sejak awal sesi. Pada pembukaan, rupiah dibuka melemah 0,18% di level Rp16.965/US$, lalu sempat menyentuh level terlemah intraday di Rp16.985/US$, sebelum akhirnya ditutup di Rp16.945/US$.

Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) justru terkoreksi cukup dalam. Per pukul 15.00 WIB, DXY tercatat turun 0,54% ke level 98,846. Artinya, rupiah tetap melemah meski dolar AS sedang berada di zona pelemahan di pasar global.

Pelemahan rupiah di perdagangan hari ini seiring dengan fokus pelaku pasar yang tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dimulai hari ini dan dijadwalkan mengumumkan hasil kebijakan pada Rabu (21/1/2026).

Pasar memperkirakan BI akan mengambil langkah hati-hati dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Meski inflasi domestik relatif terkendali di kisaran 2,92%, ruang pelonggaran suku bunga dinilai masih terbatas mengingat tekanan eksternal yang masih besar, sekaligus kebutuhan menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah di mata investor asing.

Dari eksternal, pelemahan DXY terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland, yang memicu aksi jual pada aset-aset AS.

Sentimen ini menghidupkan kembali fenomena "Sell America", ketika investor melepas saham, obligasi pemerintah AS, serta dolar, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan, memburuknya hubungan aliansi, hingga potensi percepatan tren dedolarisasi.

Namun demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang dibukanya kembali pasar AS pasca libur Martin Luther King Jr. Day, serta menanti arah kebijakan moneter The Federal Reserve.

Saat ini, kontrak berjangka Fed funds masih mencerminkan probabilitas sekitar 94,5% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan FOMC pekan depan, menurut CME Group FedWatch Tool.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |