Rupiah Selalu Jadi Pesakitan dan Korban Perang: 5 Bukti Ini Bicara

2 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

02 March 2026 17:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tensi geopolitik dalam beberapa tahun terakhir.

Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Senin (2/3/2026), rupiah berada di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,60% ke level Rp16.860/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level terlemah rupiah dalam dua pekan terakhir.

Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,30% di level Rp16.810/US$, lalu terus tertekan hingga penutupan sore hari.

Pelemahan ini terjadi seiring respon pelaku pasar terhadap meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah, setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 memicu gejolak besar di kawasan dan langsung mengguncang sentimen pasar global.

Selain itu, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap aset-aset AS di sejumlah negara sekitarnya, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah. Kondisi ini makin memperbesar kekhawatiran pasar terhadap risiko konflik yang meluas.

Karena itu, menarik untuk melihat bagaimana tren pergerakan rupiah saat konflik geopolitik besar terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

24 Februari 2022 - Rusia Memulai Invasi ke Ukraina

Rusia memulai invasi skala penuh ke Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin mengumumkan operasi militer yang kemudian diikuti serangan rudal ke sejumlah wilayah.

Peristiwa ini sempat memicu lonjakan ketidakpastian di pasar keuangan global, meski dampaknya terhadap rupiah saat itu relatif terbatas.

Pada Kamis (24/2/2022), rupiah melemah 0,31% ke level Rp14.380/US$ dari posisi sehari sebelumnya di Rp14.335/US$.

7 Oktober 2023 - Israel Serang Hamas

Pada konflik geopolitik ini, rupiah tercatat cukup terpengaruh. Hal itu terlihat pada perdagangan hari Senin berikutnya (9/10/2023), ketika rupiah melemah 0,51% ke level Rp15.685/US$.

Dalam sepekan, tekanan terhadap rupiah juga cukup dalam. Rupiah tercatat melemah 1,21% dan ditutup di level Rp15.870/US$.

Pelemahan itu bahkan berlanjut hingga (23/10/2023), ketika rupiah menembus level psikologis Rp15.900/US$. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sejak 8 April 2020, atau sekitar 3,5 tahun terakhir.

13 Juni 2025 - Israel Serang Iran dan Dapat Serangan Balik

Saat Israel melancarkan serangan ke Iran pada Jumat dini hari (13/6/2025), rupiah juga terlihat tertekan. Pada hari itu, rupiah ditutup melemah 0,37% di level Rp16.290/US$.

Tekanan kemudian berlanjut pada pekan berikutnya. Secara mingguan, rupiah tercatat melemah 0,55% dan ditutup di level Rp16.380/US$.

5 Januari 2026 - AS Menculik Presiden Venezuela

Pada awal Januari 2026, pasar global sempat diguncang oleh operasi militer AS di Caracas yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Kejadian itu, membuat rupiah tercatat melemah 0,12% ke level Rp16.735/US$. Itu baru memasuki hari kedua perdagngan di 2026. Setelahnya pun menarik, rupiah terus mengalami pelemahan hingga sepekan setelahnya, rupiah sudah berada di level Rp16.860.US$ atau melemah 0,87% secara mingguan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |