Saham WTE Manggung Jelang Pengumuman Lelang Proyek Sampah Jadi Energi

2 hours ago 1

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

20 January 2026 08:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang pengumuman hasil lelang proyek Waste to Energy (WtE) atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) pada akhir bulan ini, geliat saham-saham yang berkaitan dengan ini terpantau kembali manggung.

Inisiatif WtE ini merupakan bagian dari program strategis nasional dengan total nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp 600 triliun, dan dipimpin oleh Danantara Indonesia.

Tahap penetapan pemenang tender sudah dibuka sejak November 2025 dan hasilnya dijadwalkan diumumkan pada akhir Januari 2026. Pasca itu, groundbreaking atau peletakan tiang pertama proyek WtE direncanakan dimulai Maret-April 2026

Proyek Danantara pada tahap awal menargetkan pengolahan sampah menjadi listrik di tujuh lokasi prioritas dengan nilai investasi hingga Rp 91 triliun. Skema konsorsium mewajibkan kolaborasi mitra asing dan perusahaan lokal, membuka peluang bagi emiten bursa.

Sejumlah perusahaan bahkan telah menyiapkan konsorsium, mitra teknologi, hingga transformasi bisnis untuk masuk sektor energi terbarukan.

CNBC memantau setidaknya ada enam emiten yang memiliki kaitan dengan lelang WtE diantaranya PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Impack Pratama Industri Tbk (OASA), PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA), PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).

Seiring dengan proyek itu, lima saham WtE terpantau bergerak moncer. Pada Senin kemarin (19/1/2026), saham OASA bergerak paling ciamik sampai mentok Auto Reject Atas (ARA) ke posisi Rp3.390 per saham. MHKI menyusul dengan penguatan hampir 20%.

Lalu diikuti saham SOFA yang naik nyaris 10%, kemudian TOBA naik 6%nan, dan IMPC paling buncit hanya naik 2,42%. Adapun BIPI masih suspen sendiri, meski begitu geraknya dalam sebulan sudah terbang lebih dari 100%.

OASA

OASA memang memiliki eksposur langsung ke proyek PLTSa. Perusahaan ini telah menyatakan ikut lelang proyek WtE Danantara dan sedang menjajaki konsorsium dengan beberapa mitra asing besar. Salah satu proyek yang sudah disebutkan adalah PLTSa di Tangerang Selatan dengan kapasitas sekitar 25 MW di atas lahan luas.

Selain Tangerang Selatan, ada juga rencana pengembangan fasilitas PLTSa di Jakarta Timur dan lokasi lain dengan kapasitas rencananya cukup besar.

Ketika pemenang tender resmi diumumkan, OASA berpeluang menjadi salah satu dari pihak lokal yang berhak menandatangani perjanjian Joint Venture (JV) dan Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN. Dengan skema feed-in tariff selama 30 tahun, potensi pendapatan dari listrik yang dihasilkan bisa menjadi arus kas berulang jangka panjang, bukan hanya sekadar proyek satu kali.

BIPI

BIPI juga disebut ikut dalam radar pasar untuk proyek PLTSa, tetapi detail kerja sama teknologi atau konsorsium BIPI belum terekspos secara resmi lewat rilis keterbukaan informasi yang kuat.

Namun, karena BIPI sudah berkecimpung di bidang infrastruktur, pasar masih melihatnya sebagai salah satu kandidat potensial untuk masuk ke dalam konsorsium mitra lokal dengan perusahaan teknologi asing. Jika berhasil memenangkan tender, BIPI bisa mendapatkan bagian proyek sebagai pengelola atau penyedia layanan infrastruktur PLTSa di beberapa kota prioritas.

IMPC

Kolaborasi ini menunjukkan upaya serius IMPC dalam menggarap segmen energi bersih, dan bukan sekedar narasi pasar. Meski proyek tersebut belum tentu bagian dari tender utama Danantara (karena WtE Danantara mencakup beberapa wilayah prioritas lain), hal ini memberi IMPC track record pengalaman proyek PLTSa yang bisa menjadi alasan pendukung ketika membentuk konsorsium untuk mengikuti tender nasional.

IMPC mengelola sampai melalui anak usaha-nya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI). Diketahui, SKI telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT CCEPC Indonesia untuk menjajaki pengembangan proyek waste to energy (WtE) di wilayah Bali.

Dalam kolaborasi tersebut, SKI akan berperan sebagai penyedia dukungan investasi, sementara CCEPC akan menangani aspek teknis sebagai kontraktor EPC sekaligus operator O&M. Ruang lingkup kerja sama mencakup penyusunan studi kelayakan, survei lokasi, hingga penilaian karakteristik limbah yang akan diolah di fasilitas SKI. CCEPC juga menyatakan komitmen untuk mendukung SKI secara eksklusif dalam setiap tender proyek WtE yang diikuti.

CCEPC sendiri merupakan perusahaan rekayasa internasional yang fokus pada teknologi energi ramah lingkungan dan proyek infrastruktur, dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang riset, desain, konstruksi, hingga pengelolaan operasional.

Dukungan teknis dari mitra ini menjadi nilai tambah penting bagi SKI dalam mengembangkan proyek WtE yang lebih matang dan terukur. Manajemen SKI menilai kerja sama ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat komitmen perusahaan di sektor keberlanjutan. 

Selain proyek WtE, SKI juga terus mengembangkan solusi daur ulang dan ekonomi sirkular. Dengan inisiatif ini, IMPC dinilai memiliki prospek tambahan dari bisnis pengelolaan sampah yang sejalan dengan agenda energi bersih dan pengurangan limbah nasional.

SOFA

Sebelumnya dikenal sebagai emiten furnitur, SOFA telah melakukan rebranding dan fokus pada energi terbarukan, termasuk WtE, melalui anak usaha PT Parivarta Energi Nusantara (PEN).

Dalam konteks proyek WtE Danantara, SOFA sudah membentuk konsorsium dengan mitra asing seperti Hunan Construction Engineering Group Co. serta Kintan Usahasama Sdn. Bhd untuk mengajukan penawaran tender.

Perubahan arah bisnis ini menjadi salah satu alasan mengapa harga sahamnya menguat, karena pasar menilai langkah tersebut menempatkan SOFA sebagai pemain aktif di proyek PLTSa nasional. Keberhasilan konsorsium ini dalam memenangkan tender bisa memberikan SOFA kontrak yang menjadi sumber pendapatan baru dan memperkuat neraca perusahaan.

MHKI

Emiten berikutnya yang potensi dapat tender WTE ada MHKI yang diketahui merupakan pengelola limbah di Bantargebang, Bekasi, dan tengah menyiapkan ekspansi pengelolaan sampah ke wilayah lain seperti Lamongan, Jawa Timur.

Emiten ini juga mendapat dukungan pembiayaan dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp4,95 miliar untuk memperkuat operasional dan pengembangan teknologi pengolahan limbah yang lebih modern.

TOBA

TOBA yang dulu-nya terkenal sebagai perusahaan batu bara, akhirnya mengubah diri-nya fokus ke energi terbarukan sampai kendaraan listrik. TOBA menjadi sorotan karena mengakuisisi Sembcorp Enviro, membuat bisnisnya semakin dalam ke sektor pengelolaan sampah.

Berbeda dengan empat emiten lain, TOBA sempat menyatakan tidak mengikuti lelang WtE dalam waktu dekat ini.

Manajemen TOBA memang mempunyai pengalaman dan pipeline proyek waste management melalui akuisisi seperti Sembcorp Enviro, dan performa TOBA di sektor tersebut dinilai menarik oleh analis.

Namun untuk projekt WtE Danantara spesifik, perusahaan memilih untuk tak berpartisipasi di jalur tender yang sedang dibuka, fokus pada proyek existing, dan meninjau peluang WtE ke depannya secara bertahap.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |