Sapu di Tangan Calon Pemimpin

1 hour ago 2

loading...

Ada momen menarik saat kunjungan Syaikh Abdul Aziz al-Thani dari Qatar sore itu. Saat berkeliling di kompleks pondok pesantren di Darunnajah Jakarta. Foto/UDN.

KH. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., Presiden Universitas Darunnajah

Ada momen menarik saat kunjungan Syaikh Abdul Aziz al-Thani dari Qatar sore itu. Saat berkeliling di kompleks pondok pesantren di Darunnajah Jakarta. Matanya menangkap pemandangan yang membuatnya berhenti melangkah: sekelompok santri remaja, mengenakan baju olahraga sedang menyapu halaman asrama dengan khusyuk. Di sudut lain, santri lainnya mengangkut sampah. Yang lain lagi sedang mengepel teras masjid.

“Mengapa anak-anak ini menyapu?” tanyanya kepada pengasuh yang mendampingi, nada suaranya campuran heran dan penasaran. “Bukankah bisa dipekerjakan tukang kebun?”

Sang pengasuh tersenyum. “Ya Syaikh, ini bukan soal kebersihan semata. Ini pendidikan kepemimpinan.”

“Kepemimpinan?” alis Syaikh Abdul Aziz terangkat.

“Sayyidul qoum khodimuhum—pemimpin kaum adalah pelayan mereka. Kami sedang menyiapkan pemimpin sejati. Dan pemimpin sejati harus mengerti rasanya melayani. Mereka tidak sedang melayani saya,” lanjut sang pengasuh, “mereka sedang beribadah kepada Allah dengan melayani kepentingan bersama. Pondok hanya memberi wadah dan arahannya.”

Syaikh Abdul Aziz terdiam. Lalu perlahan mengangguk. Ada kilat pengertian di matanya—seolah ia baru saja menemukan kembali mutiara yang selama ini tersembunyi di balik debu zaman.

Fenomena yang Sama di Belahan Dunia Berbeda

Ribuan kilometer dari pesantren itu, di sebuah sekolah dasar di Tokyo, pemandangan serupa terjadi setiap hari. Pukul 12.30, bel berbunyi. Bukan bel pulang, melainkan bel o-soji—waktu bersih-bersih. Selama 20 menit, seluruh siswa—tanpa kecuali—mengambil sapu, kain pel, dan ember. Mereka membersihkan kelas, koridor, bahkan toilet.

Yutaka Okihara, penulis buku Gakko Soji (School Cleaning), mencatat pesan moral di balik tradisi ini: “Tidak ada pekerjaan, bahkan pekerjaan kotor seperti membersihkan, yang terlalu rendah untuk seorang siswa. Semua harus berbagi secara setara dalam tugas bersama. Pemeliharaan sekolah adalah tanggung jawab semua orang.”

Yang menarik, di Jepang, anak konglomerat dan anak sopir duduk bersama membersihkan toilet yang sama. Anak yang populer menyapu lantai. Anak yang pandai mengepel jendela. Tidak ada yang merasa tugasnya lebih “mulia” dari yang lain.

Fenomena serupa, bahkan lebih intens, terjadi di pesantren-pesantren Indonesia. Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, yang didirikan tahun 1926, tradisi khidmah menjadi tulang punggung pendidikan karakter. Setiap santri—tanpa memandang latar belakang keluarga—wajib mengikuti jadwal piket: menyapu halaman, membersihkan kamar mandi, mencuci piring di dapur umum, hingga menjaga keamanan malam. Tidak ada pengecualian.

Hal yang sama berlaku di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, pesantren yang berdiri setengah abad lalu ini tetap mempertahankan tradisi khidmah sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum pembentukan karakter. Yang menarik, Darunnajah sebagai pesantren kota menerima santri dari berbagai kalangan—termasuk anak-anak pejabat tinggi negara, pengusaha besar, dan tokoh masyarakat. Namun di dalam asrama, semua status sosial itu luruh. Anak seorang menteri menyapu halaman bersama anak pedagang kaki lima. Anak konglomerat mengepel kamar mandi yang sama dengan anak petani dari desa. Putra jenderal mencuci piringnya sendiri di dapur umum.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |