Setop Impor Timah, RI Bakal Kembangkan Industri Masa Depan

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menghentikan ekspor komoditas timah. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari strategi hilirisasi guna peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa komoditas timah mempunyai peran signfikan alam mendukung pengembangan industri barang modal. Khususnya industri panel surya yang saat ini tengah berkembang di Indonesia.

Selain itu, timah juga dinilai penting bagi pengembangan industri elektronik dan semikonduktor yang kini menjadi prioritas nasional. Apalagi pengembangan semikonduktor juga tercantum dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) sebagai salah satu sektor strategis yang akan dikembangkan.

"Jadi harapannya ke depan yang untuk timah itu justru ini bisa dimanfaatkan secara maksimal di industri di dalam negeri," kata Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (27/2/2026).

Di samping itu, dalam proses ekstraksi timah, terdapat sejumlah mineral ikutan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Mineral ikutan tersebut mencakup potensi logam tanah jarang serta mineral kritis lainnya yang memiliki nilai strategis tinggi untuk industri teknologi dan energi masa depan.

"Selama ini kan mineral ikutannya itu kan belum pernah kita manfaatkan secara maksimal. Jadi dalam rangka penataan sektor pertambangan, ya kami mengharapkan itu nanti juga bagian yang bisa logam tanah jarang yang ada di situ, ya kemudian critical mineral juga ada di situ, bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri di dalam negeri," katanya.

Sebagaimana diketahui, demi mendorong hilirisasi, Presiden Prabowo Subianto juga telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp 618 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis dan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini, termasuk hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga kilang minyak.

Produk hasil hilirisasi ini ditargetkan menjadi barang yang dapat menggantikan barang-barang impor dari luar negeri. Bahlil pun mengundang investor nasional, termasuk sektor perbankan, untuk masuk menyuntikkan dananya pada proyek strategis nasional ini.

"Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai. Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri," pungkasnya.

Hingga 2040 mendatang, program hilirisasi di berbagai sektor diprediksi akan mendatangkan investasi hingga US$ 618 miliar. Dari jumlah itu, US$ 498,4 miliar datang dari subsektor mineral dan batubara (minerba) dan US$ 68,3 miliar dari minyak dan gas bumi.

Hilirisasi juga diproyeksikan mendatangkan ekspor US$ 857,9 miliar, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) US$ 235,9 miliar, hingga lebih dari 3 juta tenaga kerja.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |