Siswa AS Jadi Bahan Percobaan Rp500 Triliun, Hasilnya Gagal Total

1 hour ago 2

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

24 April 2026 13:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi besar-besaran dalam teknologi pendidikan di Amerika Serikat justru menimbulkan paradoks. Sekolah menggelontorkan dana sekitar US$30 miliar atau sekitar Rp 518,55 triliun Rp ( US$1=Rp 17.285)untuk laptop dan tablet, dengan harapan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Namun, berbagai temuan terbaru menunjukkan hasil sebaliknya, kemampuan kognitif siswa, terutama pada generasi pertama, justru mengalami penurunan.

Eksperimen Pembelajaran Digital

Eksperimen ini dimulai sejak awal 2000-an ketika negara bagian Maine menjadi pelopor dengan membagikan laptop ke seluruh siswa kelas tujuh. Tujuannya untuk menutup kesenjangan digital dan membawa internet ke ruang kelas.

Namun, hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak secara otomatis memperbaiki pembelajaran. Bahkan, guru seperti James Welsch mulai melihat kualitas tulisan siswa menurun, dimana dalam menulis esai menjadi terputus-putus dan cenderung hasil salin-tempel.

Biaya Besar, Hasil Akademik Stagnan

Selama bertahun-tahun, Maine mengeluarkan sekitar US$12 juta per tahun untuk program ini. Pada 2016, jumlah perangkat di sekolah mencapai puluhan ribu unit. Namun hasilnya tidak berubah signifikan, skor ujian siswa tidak berubah.

Peneliti seperti Amy Johnson menilai masalahnya ada pada implementasi perangkat tersedia, tetapi guru kurang mendapat pelatihan.

Selain itu, ketimpangan justru meningkat sekolah kaya memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran kreatif, sementara sekolah kurang mampu hanya menggunakannya untuk tugas dasar. Mantan gubernur Paul LePage bahkan menyebut program ini sebagai "kegagalan besar."

Investasi Meluas, Performa Tidak Mengikuti

Meski hasil awal tidak memuaskan, seluruh AS tetap mengikuti jejak Maine. Pada 2024, belanja teknologi pendidikan mencapai sekitar US$30 miliar, jauh melampaui pengeluaran buku teks.

Namun, performa siswa tidak ikut meningkat. Justru sebaliknya, siswa mengalami penurunan dalam literasi, numerasi, dan kreativitas. Hal ini membalik tren peningkatan kemampuan kognitif yang terjadi selama lebih dari satu abad.

Distraksi Tinggi di Balik Layar Pembelajaran

Salah satu penyebab utama adalah distraksi. Studi menunjukkan bahwa sekitar 60% waktu penggunaan laptop di kelas digunakan untuk aktivitas di luar pembelajaran, seperti media sosial.

Dalam kondisi ini, siswa lebih mudah terdistraksi dan kehilangan fokus. Pola ini juga terlihat di kelas, di mana penggunaan laptop justru berkorelasi dengan menurunnya kualitas berpikir dan menulis.

Masalah diperparah oleh desain aplikasi yang memang dibuat untuk menarik perhatian. Studi dari Baylor University menunjukkan bahwa platform seperti TikTok dirancang sangat mudah digunakan, dengan algoritma yang mampu memberikan konten yang sangat relevan dan menarik.

Fitur autoplay membuat pengguna langsung terlibat, sehingga waktu penggunaan meningkat dan berpotensi adiktif. Dalam kondisi ini, materi pelajaran harus bersaing dengan sistem yang merebut perhatian siswa.

Solusi: Penyesuaian di Ruang Kelas

Sebagai respons, sejumlah guru mulai menerapkan pendekatan yang lebih seimbang. Di Gorham, James Welsch tetap menggunakan teknologi untuk diskusi dan berbagi materi. Namun, untuk tugas penting seperti draft awal, ia meminta siswa menulis tangan.

Langkah sederhana ini bertujuan mengembalikan proses berpikir yang lebih mendalam dan mengurangi ketergantungan pada layar.

Eksperimen US$30 miliar ini memberikan pelajaran penting, bahwa teknologi bukan solusi otomatis dalam pendidikan. Tanpa penggunaan yang tepat, perangkat digital justru bisa melemahkan fokus, pemahaman, dan kemampuan kognitif siswa.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |