Strategi China Bertahan ditengah Kenaikan Harga Pupuk

5 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

01 May 2026 21:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran ikut menyeret pasar pupuk global ke dalam tekanan.

Harga pupuk dunia melonjak tajam seiring dengan gangguan pasokan dan jalur perdagangan. Meski demikian, China justri mampu bertahan karena industri pupuknya banyak bertumpu pada batu bara, bukan gas alam.

Setiap tahun, petani di seluruh dunia menggunakan hampir 200 juta ton dari tiga nutrisi utama tanaman. Mulai dari nitrogen, fosfor, dan kalium. Ketiganya merupakan unsur penting yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh.

Melansir Refinitiv, nitrogen merupakan komponen terbesar dalam penggunaan pupuk anorganik dunia. Pada 2023, pupuk berbasis nitrogen menyumbang sekitar 58% dari total produksi pupuk global.

Salah satu jenis pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan adalah urea. Urea termasuk pupuk nitrogen anorganik tunggal, karena hanya memasok unsur nitrogen bagi tanaman, bukan kalium maupun fosfor.

Nitrogen sangat penting bagi pertumbuhan tanaman dan dibutuhkan dalam jumlah besar.

Namun, tanaman tidak bisa menyerap nitrogen secara langsung dari udara dan air seperti halnya oksigen atau karbon. Karena itu, kebutuhan nitrogen tanaman harus dipenuhi melalui pupuk, salah satunya urea.

China Mandiri Berkat Batu Bara

Kemandirian China dalam produksi urea banyak ditopang oleh batu bara. China sebagian besar sudah mampu memenuhi kebutuhan urea dari produksi dalam negeri, dengan sekitar 78% outputnya berasal dari batu bara, bukan gas alam.

Hal ini menjadi pembeda utama China dengan eksportir besar lainnya, seperti Qatar, Rusia, dan Arab Saudi, yang sebagian besar mengandalkan gas alam.

Secara teknis, proses mengubah batu bara maupun gas menjadi urea pada dasarnya hampir sama. Namun, ada beberapa perbedaan utama di tahap awal produksi.

Dalam jalur berbasis batu bara, batu bara diproses melalui gasifikasi untuk menghasilkan bahan dasar yang kemudian digunakan dalam produksi urea. Sementara jalur berbasis gas alam lebih bertumpu pada pemrosesan gas sebagai sumber energi dan bahan baku awal.

Produksi urea bisa dilakukan melalui dua bahan pokok, yakni berbasis batu bara dan berbasis gas alam.

Pada pembuatan urea dengan bahan batu bara, prosesnya dimulai dengan memasukkan batu bara ke dalam reaktor gasifier yang dicampurkan dengan oksigen dan uap panas dalam suhu yang tinggi untuk menghasilkan syngas atau gas sintesis.

Sedangkan pada basis gas alam, gas terlebih dahulu diolah melalui proses steam methane reforming menggunakan uap panas. Proses ini juga menghasilkan gas sintesis, tetapi tidak membutuhkan oksigen di awal.

Dari gas sintesis tersebut, kedua sumber bahan ini sama-sama menghasilkan hidrogen dan karbondioksida.

Hidrogen kemudian dicampur dengan nitrogen yang diambil dari udara untuk membentuk amonia. Setelah itu, karbon dioksida akan dicampur dengan amonia untuk menghasilkan urea.

Dari Energi Menjadi Pupuk

Model produksi berbasis batu bara memberi China akses ke energi domestik yang melimpah. Dengan begitu, China bisa mengurangi dampak terhadap volatilitas harga gas dunia dan gangguan pasokan global.

Keunggulan ini terlihat saat perang Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026. Perang tersebut mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur yang menangani sekitar 30% perdagangan pupuk global.

Akibat gangguan tersebut, harga urea dunia pun melonjak sekitar 70%.

Namun, kondisi di China berbeda. Negara Tirai Bambu itu tetap mampu mempertahankan stok yang cukup besar. Alhasil, harga urea di dalam Negeri China tetap jauh lebih murah, bahkan sekitar sepertiga dari harga acuan global.

Investasi Batu Bara Jadi Tameng China

Produksi urea berbasis batu bara China mencerminkan besarnya sumber daya domestik yang dimiliki negara tersebut. Hal ini juga menunjukkan hasil dari investasi panjang dalam infrastruktur coal-to-chemicals, serta fokus kebijakan pada kemandirian pupuk dan ketahanan pangan.

Keunggulan seperti ini hanya dimiliki sedikit negara produsen urea lainnya.

Industri pupuk China berkembang bersama sistem industri berat berbasis batu bara, bukan berbasis gas. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO menyebut pupuk nitrogen mendominasi penggunaan dan produksi pupuk global.

China juga menjadi produsen sekaligus pengguna pupuk nitrogen terbesar di dunia.

China Eksportir Besar, Tapi Kini Tahan Pasokan

China bukan hanya produsen besar, tetapi juga eksportir besar pupuk utama. Tahun lalu, China menyumbang sekitar seperlima dari impor pupuk Brasil, Indonesia, dan Thailand.

Untuk Malaysia dan Selandia Baru, porsi impor pupuk dari China mencapai sekitar sepertiga. Data tersebut berasal dari International Trade Centre.

Sementara untuk India, porsinya sekitar 16% berdasarkan data perdagangan negara tersebut.

Namun, China kini membatasi ekspor pupuk. Berdasarkan analisis yang dikutip dari Refinitiv terhadap data bea cukai China, antara separuh hingga 80% dari ekspor tersebut kini dibatasi.

Langkah ini membuat pasar global semakin khawatir karena sebelumnya banyak pembeli berharap China bisa masuk dan menutup kekurangan pasokan.

"Pembeli berharap China akan masuk dan mengisi kekurangan pasokan, tetapi keputusan ini hanya akan semakin memperketat pasokan," kata seorang pejabat perusahaan pupuk yang berbasis di New Delhi mengenai pembatasan terbaru tersebut dikutip dari Refinitiv.

China memasok porsi besar dari impor pupuk utama banyak negara. Karena itu, keputusan Beijing menahan ekspor bisa berdampak luas ke pasar global.

Sumber industri mengatakan China memperketat ekspor pupuk untuk melindungi pasar domestiknya. Namun, langkah tersebut menambah tekanan pada pasar global yang sudah bergulat dengan kekurangan pasokan akibat perang AS-Israel terhadap Iran.

China termasuk salah satu eksportir pupuk terbesar dunia. Nilai pengirimannya mencapai lebih dari US$13 miliar pada tahun lalu. Negara ini juga memiliki riwayat mengendalikan ekspor untuk menjaga harga pupuk tetap rendah bagi petani dalam negeri.

Dengan kondisi tersebut, pasar pupuk global menghadapi tekanan berlapis. Perang Iran mengganggu jalur perdagangan dan mendorong harga urea naik, sementara China sebagai salah satu pemasok besar justru memperketat ekspor.

Bagi negara importir, situasi ini bisa menjadi masalah serius. Jika pasokan pupuk makin ketat dan harga terus tinggi, biaya produksi pertanian bisa ikut naik. Pada akhirnya, tekanan tersebut dapat merembet ke harga pangan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |