loading...
Sebuah keluarga berjalan melintasi perairan yang mengering di selatan Manila, di mana fenomena cuaca El Nino telah meluluhlantakkan lahan pertanian dan merusak tanaman. FOTO/Reuters
JAKARTA - Konflik geopolitik di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia kini dinilai bukan satu-satunya ancaman bagi ekonomi global. Gangguan jalur energi di Timur Tengah dan potensi Super El Nino berisiko memicu badai ganda yang dapat mengerek harga pangan pokok hingga 18% sampai pertengahan tahun depan.
"Ketika Anda menumpuk pola cuaca baru yang berpotensi merusak di atas situasi geopolitik yang sudah sangat tegang, hal itu menciptakan lingkungan yang sangat tidak pasti dan mengkhawatirkan," ujar Analis Eurasia Group Nick Kraft dikutip dari Reuters, Minggu (2/8/2026).
Eurasia Group memperingatkan komoditas pangan utama dunia seperti gandum, jagung, dan beras berisiko mengalami kenaikan harga 10% hingga 18% pada musim panas. Di saat bersamaan, JPMorgan menaksir ada peluang 81% bahwa fenomena El Nino tahun ini berkembang menjadi sangat kuat atau Super El Nino, dengan dampak yang diperkirakan bertahan hingga 2027.
Sementara, ketegangan di Selat Hormuz semakin memanas setelah Garda Revolusi Iran menghentikan dua kapal dan memutar balik empat kapal lainnya yang melintas di jalur strategis itu pada Jumat. Selat sempit antara Iran dan Oman tersebut menjadi urat nadi energi dunia karena mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi global, sehingga gangguan di kawasan itu memicu ketidakpastian pasar global.
Dampaknya terlihat pada harga minyak mentah berjangka Brent yang naik hingga 23% secara bulanan sepanjang Juli 2026. Meski data pelayaran Kpler menunjukkan sejumlah tanker masih dapat melintas, otoritas Iran menyebut transit normal belum memungkinkan karena eskalasi aksi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Eskalasi tidak hanya terjadi di laut. Militer Iran juga mengklaim menyerang fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Arab Saudi ke Irak. Di saat yang sama, risiko logistik global kian memburuk setelah pelabuhan Damietta di Mesir diserang pesawat nirawak, yang membuat pasar asuransi maritim London memperluas wilayah risiko tinggi di Laut Merah.


















































