Trump Klaim Iran Nego Diam-Diam, Takut Ngaku dan Dibunuh Rakyat Sendiri

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan bahwa Iran sebenarnya terlibat dalam pembicaraan damai, meski Teheran secara terbuka membantahnya. Ia bahkan menyebut para negosiator Iran takut mengakui proses tersebut karena khawatir dibunuh oleh pihak mereka sendiri di tengah konflik yang kini memasuki pekan keempat.

Berbicara dalam jamuan makan malam bersama anggota Partai Republik di Kongres, Rabu (25/3/2026) waktu setempat, Trump mengatakan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan.

"Mereka sedang bernegosiasi, omong-omong, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Tetapi mereka takut mengatakannya, karena mereka mengira mereka akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri," kata Trump, dilansir AFP.

"Mereka juga takut akan dibunuh oleh kami," tambahnya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa "kami tidak berniat untuk bernegosiasi". Trump juga mengulang klaimnya bahwa Iran sedang "dihancurkan" dalam konflik, meskipun Teheran masih mempertahankan kendali efektif atas jalur minyak penting Selat Hormuz.

Dalam kesempatan yang sama, Trump menyerang lawan politik domestiknya. Ia menuduh Partai Demokrat mencoba "mengalihkan perhatian dari semua keberhasilan luar biasa yang kami capai dalam operasi militer ini." Ia juga mengejek desakan Demokrat agar konflik mendapat persetujuan Kongres.

"Mereka tidak suka kata 'perang,' karena Anda seharusnya mendapatkan persetujuan, jadi saya akan menggunakan kata operasi militer," ujar Trump.

Sebelumnya, Gedung Putih menyatakan Trump siap "melepaskan neraka" jika Iran tidak mengakui kekalahan, sekaligus menegaskan bahwa Teheran masih terlibat dalam pembicaraan.

Media pemerintah Iran sebelumnya mengutip seorang pejabat anonim yang mengatakan Republik Islam tersebut merespons "secara negatif" terhadap rencana 15 poin dari Washington.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt memperingatkan Iran agar tidak salah perhitungan.

"Jika Iran gagal menerima realitas saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus demikian, Presiden Trump akan memastikan mereka dipukul lebih keras daripada sebelumnya," katanya kepada wartawan.

"Presiden Trump tidak menggertak dan dia siap melepaskan neraka. Iran seharusnya tidak salah perhitungan lagi," tambahnya.

Ketika ditanya apakah negosiasi dengan Iran terhenti, Leavitt menjawab pembicaraan berlanjut dan produktif.

Leavitt menolak menjelaskan siapa yang menjadi mitra pembicaraan Washington di Teheran setelah pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, sementara putranya sekaligus penerusnya Mojtaba Khamenei belum terlihat di depan publik. Sejumlah laporan menyebut tokoh yang menjadi perantara adalah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Juru bicara itu juga menolak mengonfirmasi laporan bahwa pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance, akan mengadakan pembicaraan dengan pihak Iran di Pakistan, yang disebut muncul sebagai mediator kunci.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |