Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
21 January 2026 10:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan jual yang signifikan melanda pasar aset kripto pada perdagangan Rabu (21/01/2026). Mayoritas aset berkapitalisasi besar bergerak serempak di zona merah, menyusul sentimen negatif yang mengguncang pasar saham Amerika Serikat yang kehilangan kapitalisasi hingga US$ 1,1 triliun dalam semalam.
Koreksi tajam ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan ekonomi global. Pelaku pasar merespons negatif eskalasi retorika antara Amerika Serikat dan sekutu Eropanya di Forum Ekonomi Dunia (WEF), Davos, yang memicu aksi penghindaran risiko (risk-off) secara luas.
Bitcoin dan Ethereum Kehilangan Level Kunci
Berdasarkan data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) mengalami penurunan sebesar -3,59% dalam 24 jam terakhir ke level $89.137. Secara mingguan, aset kripto terbesar ini telah terkoreksi -6,55%.
Penurunan ini dinilai signifikan karena Bitcoin gagal mempertahankan level psikologis $90.000 yang selama ini menjadi area pertahanan bagi tren jangka pendek.
Tekanan lebih berat dialami oleh Ethereum (ETH) yang anjlok -6,83% ke level $2.967. Dalam sepekan terakhir, valuasi Ethereum menyusut hingga -11,17%. Jatuhnya harga di bawah level $3.000 mengindikasikan lemahnya permintaan beli di tengah ketidakpastian pasar saat ini.
Anomali Bitcoin Cash di Tengah Koreksi Altcoin
Di tengah tekanan pasar yang meluas, Bitcoin Cash (BCH) mencatatkan pergerakan anomali. BCH menjadi satu-satunya aset di daftar 10 besar yang mencatatkan kenaikan harian sebesar +1,39% ke level $588,53. Kenaikan ini kemungkinan didorong oleh rotasi defensif jangka pendek atau aktivitas spesifik jaringan.
Sebaliknya, Monero (XMR) mengalami aksi jual masif. Setelah sempat menguat pekan lalu, XMR kini menjadi aset dengan kinerja mingguan terburuk di papan atas, anjlok -26,03% dalam tujuh hari terakhir ke level $501,68. Aset utama lainnya seperti BNB, Solana (SOL), dan XRP juga terkoreksi di kisaran 3% hingga 5% hari ini.
Foto: Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato khusus dari jarak jauh selama pertemuan Forum Ekonomi Dunia (WEF) tahunan ke-55 di Davos, Swiss, 23 Januari 2025. (REUTERS/Yves Herman)
Isu Greenland dan Ancaman Tarif
Sentimen negatif pasar dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait ambisi pembelian wilayah Greenland dari Denmark. Melalui platform media sosialnya, Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor bertingkat terhadap delapan negara anggota NATO yang menentang rencana tersebut.
Selain itu, ancaman tarif sebesar 200% juga dilayangkan terhadap produk anggur Prancis sebagai respons atas penolakan Presiden Emmanuel Macron untuk bergabung dalam aliansi yang diusulkan AS.
Ancaman ini berdampak langsung pada stabilitas pasar keuangan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yields) melonjak, sementara mata uang Dolar AS justru melemah.
Reaksi konkret terlihat dari langkah Akademiker Pension, pengelola dana pensiun Denmark, yang mengumumkan penjualan kepemilikan surat utang AS karena kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan utang negara tersebut. Arus keluar modal dari aset AS ini menciptakan volatilitas yang merembet ke aset berisiko tinggi seperti kripto.
Peringatan 'Perang Modal' dari Ray Dalio
Kekhawatiran pasar diperparah oleh pandangan Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, di forum Davos. Ia memperingatkan bahwa konflik dagang saat ini telah berevolusi menjadi "Perang Modal". Dalio menyoroti risiko berkurangnya minat global untuk membeli utang AS, yang dapat memperketat likuiditas global.
Bagi pasar kripto, pengetatan likuiditas adalah sentimen negatif utama. Ketika investor institusi besar mulai mengamankan posisi kas dan menjauhi obligasi maupun saham, alokasi dana untuk aset spekulatif seperti kripto cenderung dikurangi secara drastis.
Menanti Pidato Davos
Fokus utama pelaku pasar hari ini tertuju pada pidato Presiden Trump di Davos. Pasar menanti apakah retorika mengenai tarif dan pengambilalihan Greenland akan dipertegas atau diredam.
Secara teknikal, level $88.000 kini menjadi batas pertahanan (support) krusial bagi Bitcoin. Jika sentimen geopolitik terus memanas dan level ini ditembus, potensi koreksi lanjutan menuju level selanjutnya sangat terbuka lebar. Investor disarankan untuk memprioritaskan manajemen risiko dan memantau perkembangan berita makroekonomi secara ketat.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

2 hours ago
1
















































