Jakarta, CNBC Indonesia - Pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu lalu, sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) dilaporkan masih meragukan bahwa operasi militer AS dan Israel terhadap Republik Islam tersebut akan berujung pada perubahan pemerintahan dalam waktu dekat.
Sebelum dan sesudah serangan dimulai, para pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, sempat mengisyaratkan bahwa menumbangkan sistem pemerintahan Iran yang represif adalah salah satu dari beberapa tujuan AS, selain melumpuhkan program rudal balistik dan nuklir Iran.
Namun, tiga pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen mengatakan ada skeptisisme serius bahwa oposisi Iran yang babak belur dapat menumbangkan sistem pemerintahan otoriter teokratis yang telah berdiri sejak 1979 tersebut.
Walau begitu, tidak ada pejabat yang sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan jatuhnya pemerintah Iran, yang saat ini terpukul oleh kehilangan personel kunci akibat serangan udara AS dan Israel yang sedang berlangsung serta sangat tidak populer menyusul gelombang represi kekerasan yang luar biasa pada Januari lalu. Tetapi, para pejabat tersebut menegaskan bahwa keruntuhan rezim jauh dari kata mungkin atau bahkan kecil kemungkinannya terjadi dalam jangka pendek.
Laporan Badan Intelijen Pusat (CIA) yang dipresentasikan kepada Gedung Putih beberapa minggu sebelum serangan terhadap Iran menyimpulkan bahwa jika Khamenei tewas, ia kemungkinan besar akan digantikan oleh tokoh-tokoh garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atau ulama yang sama-sama berhaluan keras.
"Pejabat IRGC tidak mungkin menyerah secara sukarela, sebagian karena mereka telah diuntungkan oleh jaringan perlindungan luas yang dirancang untuk menjaga loyalitas internal," tutur seorang pejabat dikutip Reuters, Senin (2/3/2026).
Penilaian CIA tersebut mengikuti setidaknya satu laporan dari lembaga intelijen AS terpisah yang mencatat bahwa tidak ada pembelotan IRGC selama gelombang besar protes anti-pemerintah pada bulan Januari, meskipun aksi tersebut dihadapi dengan kekuatan brutal oleh pasukan keamanan Iran.
"Pembelotan semacam itu kemungkinan besar akan menjadi prasyarat bagi revolusi yang sukses," menurut tiga sumber tambahan yang meminta agar lembaga intelijen spesifik tersebut tidak disebutkan namanya.
Bahkan Trump sendiri menyatakan pada hari Minggu bahwa ia berencana untuk membuka kembali komunikasi dengan Iran, yang menunjukkan bahwa Washington tidak melihat pemerintah tersebut akan segera lengser, setidaknya dalam jangka pendek.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar, sementara pihak CIA menolak untuk memberikan pernyataan resmi.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu mengatakan bahwa dewan kepemimpinan yang terdiri dari dirinya sendiri, kepala yudisial, dan anggota Dewan Garda yang berpengaruh telah mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi untuk sementara waktu.
Kepala Keamanan Ali Larijani menuduh Amerika Serikat dan Israel mencoba merampok serta menghancurkan Iran, sembari memperingatkan "kelompok separatis" akan adanya respons keras jika mereka mencoba melakukan tindakan apa pun.
Pernyataan tersebut disiarkan televisi pemerintah pada hari Minggu setelah kedua negara meluncurkan gelombang serangan udara ke Iran yang dilaporkan mencakup pemboman sebuah sekolah dasar anak perempuan, meskipun laporan media pemerintah ini belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Nasib Program Nuklir
Diskusi intelijen AS mengenai dampak dari kemungkinan tewasnya Khamenei tidak hanya terbatas pada apakah hal itu akan menyebabkan perubahan kepemimpinan pemerintahan, tetapi juga menyangkut arah kebijakan luar negeri Iran.
Dua pejabat AS mengatakan bahwa sejak Januari telah terjadi perdebatan signifikan mengenai sejauh mana tewasnya Khamenei akan menyebabkan pergeseran besar dalam cara Iran melakukan negosiasi dengan AS terkait program nuklirnya.
Pejabat AS juga memperdebatkan sejauh mana kematian atau penggulingan Khamenei akan menghalangi negara tersebut untuk membangun kembali fasilitas dan kapasitas rudal atau nuklirnya di masa depan.
Menyusul protes Januari, Steve Witkoff yang merupakan utusan khusus sekaligus sekutu utama Trump, sempat berbicara beberapa kali dengan tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang diasingkan, guna membahas dukungan administrasi jika pemerintah Iran jatuh.
Namun, dalam beberapa minggu terakhir, para pejabat senior AS menjadi semakin pesimis bahwa tokoh oposisi mana pun yang didukung oleh Washington akan mampu mengendalikan negara tersebut secara realistis.
"Pada akhirnya, setelah serangan AS dan Israel berhenti, jika rakyat Iran keluar, keberhasilan mereka dalam mendorong berakhirnya rezim akan bergantung pada aparat keamanan yang memilih untuk minggir atau memihak mereka," kata Jonathan Panikoff, mantan pejabat tinggi intelijen AS yang kini berada di Atlantic Council.
"Jika tidak, sisa-sisa rezim, mereka yang memegang senjata, kemungkinan besar akan menggunakannya untuk mempertahankan kekuasaan," tegas Panikoff.
(tps/luc)
Addsource on Google

2 hours ago
1
















































