Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
06 April 2026 12:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Ramadan dan Idulfitri selalu identik dengan lonjakan belanja masyarakat Indonesia. Pada periode inilah konsumsi rumah tangga biasanya mencapai puncaknya dalam setahun karena ditopang oleh tingginya permintaan akan kebutuhan pangan, pakaian, transportasi, mudik, hingga berbagai pengeluaran musiman lainnya.
Tahun ini, hal tersebut kembali terlihat. Bahkan, konsumsi masyarakat selama Ramadan 2026 tercatat lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan Laporan The Focal Point dari BCA Economic & Industry Research menunjukkan indeks belanja konsumen BCA atau BCA Consumer Spending Index sempat menyentuh puncaknya di 2026 di level 132,7.
Angka ini lebih tinggi dibanding puncak Ramadan 2025 yang berada di 129,8 namun lebih rendah dibandingkan 2024 yang tercatat 134,2. BCA juga menilai puncak konsumsi tahun ini datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dibanding dua tahun sebelumnya.
Sekilas, data ini memberi sinyal positif bahwa konsumsi rumah tangga masih cukup kuat dan bisa menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.
Foto: BCA Economic & Industry Research
BCA Spending Index
Namun, di balik lonjakan itu, justru terlihat sinyal yang patut diwaspadai. Konsumsi yang tinggi pada Ramadan tahun ini diduga bukan sepenuhnya didorong oleh kenaikan pendapatan masyarakat, melainkan juga karena rumah tangga mulai mengandalkan tabungan untuk menjaga belanja tetap tinggi.
Konsumsi Tinggi Ditopang Tabungan
Menguatnya konsumsi selama Ramadan tahuh ini tidak sepenuhnya mencerminkan daya beli yang sehat.
Dalam laporannya, BCA menyebut kenaikan transaksi konsumen bulan lalu tampaknya didahului oleh penurunan saving rate, yang menunjukkan konsumsi lebih banyak ditopang oleh pengurangan bantalan keuangan rumah tangga, bukan oleh pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat.
Indikasinya terlihat dari menurunnya porsi kepemilikan rumah tangga dan reksa dana pada aset finansial.
Pada instrumen surat berharga negara (SBN), porsinya turun dari 12,3% menjadi 11,8% pada Maret 2026. Sementara pada ekuitas atau saham, porsinya turun lebih dalam dari 18,0% menjadi 16,6%.
Melambatnya pembelian paper assets mengindikasikan bahwa rumah tangga mengalokasikan lebih banyak sumber daya yang ada untuk kebutuhan konsumsi selama Ramadan.
Foto: BCA Economic & Industry Research
Saving Rate
Dengan kata lain, masyarakat memang tetap belanja besar pada momen Ramadan dan Idulfitri tahun ini, tetapi sebagian belanja itu diduga dibiayai dengan menarik cadangan tabungan. Ini membuat konsumsi yang terlihat kuat di permukaan menjadi menyisakan pertanyaan besar soal keberlanjutannya setelah Lebaran berlalu.
Sebab, ketika tabungan sudah terpakai untuk menopang belanja musiman, ruang belanja pada bulan-bulan berikutnya berisiko menyempit.
Kondisi ini juga mengarah pada potensi front-loading consumption, yakni ketika rumah tangga memajukan belanja ke periode Ramadan. Risiko dari pola tersebut adalah munculnya koreksi konsumsi setelah Lebaran usai.
Dalam laporan itu, BCA menyebut moderasi transaksi konsumen pasca-Eid tahun ini memang masih terlihat lebih baik dibanding beberapa tahun sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan bahwa setelah puncak konsumsi terlewati, belanja rumah tangga mulai melandai.
Pada hari H Lebaran, indeks konsumsi 2026 turun ke 49,3, lebih tinggi dibanding 42,0 pada 2025, lalu pulih ke 69,4 setelahnya. Walau lebih baik dari tahun sebelumnya, pola itu tetap memperlihatkan bahwa konsumsi pasca-puncak mulai mengalami penyesuaian.
Artinya, kuatnya konsumsi Ramadan 2026 tidak otomatis berarti kondisi keuangan rumah tangga benar-benar membaik. Sebaliknya, ada risiko bahwa masyarakat sudah "habis-habisan" berbelanja saat Lebaran, sehingga daya dorong konsumsi ke depan bisa lebih terbatas.
Ancaman Menanti di Depan Mata
Persoalan konsumsi rumah tangga tak berhenti pada tabungan yang menipis. Risiko ke depan justru makin besar, terutama dari lonjakan harga minyak global, tekanan inflasi, dan peluang penyesuaian harga BBM subsidi.
Harga minyak sempat menyentuh US$116,37 per barel atau melonjak 49,7% sejak perang Iran pecah.
Kenaikan ini menjadi ancaman bagi Indonesia karena dapat menekan fiskal pemerintah sekaligus mendorong biaya hidup masyarakat.
Di saat yang sama, ada pula risiko dari inflasi pangan. Pemerintah memberi sinyal potensi penurunan area panen padi basah sebesar 3,87% secara tahunan. Jika pasokan terganggu, harga pangan akan lebih sulit dijaga dan daya beli masyarakat bisa makin tertekan.
Ancaman paling sensitif tetap datang dari kemungkinan penyesuaian harga BBM subsidi.
Kenaikan moderat sebesar 10-15% diperkirakan bisa menambah inflasi sekitar 1,8-2,2%. Dalam kondisi tabungan masyarakat sudah tergerus, kenaikan biaya hidup seperti ini jelas akan makin mempersempit ruang belanja rumah tangga.
Pemerintah memang masih berupaya menghindari skenario tersebut lewat efisiensi anggaran dan realokasi belanja.
Namun jika tekanan subsidi terus membesar, ruang gerak fiskal akan makin terbatas. Pada akhirnya, setelah puncak konsumsi Ramadan terlewati, tantangan terbesar adalah menjaga agar belanja masyarakat tidak turun terlalu dalam.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

4 hours ago
4













































