Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
24 March 2026 17:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Indonesia akan kembali dibuka besok, Rabu (25/3/2026).
Pelaku pasar akan kembali mencermati sejumlah sentimen penting pada sisa perdagangan minggu ini, setelah pasar keuangan domestik libur pada Senin dan Selasa, 23-24 Maret 2026, dalam rangka cuti bersama serta libur pasca-Lebaran.
Meski pekan ini lebih singkat, perhatian investor tetap tertuju pada berbagai agenda penting dari global dan domestik. Mulai dari perkembangan uang beredar, data consumer sentiment Amerika Serikat, rilis harga impor dan ekspor AS, hingga klaim pengangguran awal AS yang akan memberi gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam.
Rangkaian sentimen tersebut diperkirakan mampu menjadi katalis penggerak pasar, mulai dari saham, nilai tukar rupiah, hingga harga komoditas di sepanjang perdagangan pekan ini.
Perkembangan Perang
Perang Iran versus Israel dan AS masih panas. Memanasnya perang akan berdampak besar terhadap pergerakan saham Indonesia.
Dikutip dari Reuters, Iran meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal ke Israel, kata militer Israel, setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana pengeboman pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran karena apa yang ia sebut sebagai pembicaraan yang produktif dengan pejabat Iran.
Rudal-rudal tersebut memicu sirene serangan udara di sejumlah wilayah Israel, termasuk Tel Aviv, di mana ledakan dari sistem pencegat terdengar. Dalam salah satu serangan, rumah-rumah di Israel utara rusak akibat puing-puing yang jatuh setelah rudal berhasil dicegat. Tidak ada laporan korban jiwa.
Trump menulis di platform Truth Social pada Senin bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang "sangat baik dan produktif" mengenai "penyelesaian penuh dan total permusuhan di Timur Tengah".
Sebagai hasilnya, Trump mengatakan ia menunda selama lima hari rencana untuk menyerang pembangkit listrik Iran, yang sebelumnya ia ancam jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Namun, penundaan ini hanya berlaku untuk fasilitas energi Iran, sementara serangan AS terhadap negara tersebut tetap berlanjut, menurut laporan media AS Semafor yang mengutip seorang pejabat AS.
Iran secara efektif telah menutup selat penting tersebut-jalur bagi sekitar 20% minyak dunia dan gas alam cair (LNG)-sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari. Lebih dari 2.000 orang telah tewas dalam konflik tersebut.
Iran merespons ancaman itu dengan menyatakan akan menyerang infrastruktur milik sekutu AS di Timur Tengah, meningkatkan risiko gangguan ekstrem terhadap pasokan energi global.
Langkah mundur Trump sempat mendorong kenaikan harga saham di AS dan penurunan tajam harga minyak hingga di bawah US$100 per barel, berbalik dari tekanan pasar akibat ancaman akhir pekan dan janji balasan Iran.
Namun, kenaikan itu terancam pada Selasa setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf-yang disebut sebagai perantara dalam pembicaraan oleh pejabat Israel dan sumber lain-mengatakan tidak ada negosiasi yang terjadi.
"Tidak ada negosiasi dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta keluar dari situasi sulit yang dihadapi AS dan Israel," tulisnya di platform X.
Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan mereka meluncurkan serangan baru terhadap target AS, serta menyebut pernyataan Trump sebagai "operasi psikologis" yang sudah usang dan tidak berpengaruh terhadap perjuangan Teheran.
Pada Selasa, imbal hasil obligasi AS naik dan dolar kembali menguat, seiring dunia masih menghadapi guncangan energi akibat ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di selat tersebut.
Uang Beredar
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan menanti rilis perkembangan uang beredar yang dijadwalkan diumumkan Bank Indonesia pada Jumat (27/3/2026). Data ini penting untuk melihat bagaimana kondisi likuiditas di perekonomian, terutama setelah periode sebelumnya menunjukkan pertumbuhan yang masih cukup tinggi.
Pada rilis terakhir, Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh 10,0% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,6% secara tahunan. Nilai M2 pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp10.117,8 triliun, dengan pertumbuhan ditopang oleh uang beredar sempit (M1) yang naik 14,9% dan uang kuasi yang tumbuh 5,4%.
Karena itu, rilis Februari 2026 akan dicermati untuk melihat apakah pertumbuhan likuiditas masih berlanjut, melambat, atau justru semakin kuat. Arah uang beredar biasanya juga diperhatikan pasar karena dapat memberi gambaran awal mengenai permintaan domestik, kondisi kredit, dan ruang gerak aktivitas ekonomi ke depan.
Keyakinan Konsumen AS
Dari Amerika Serikat, pasar akan menunggu rilis final indeks sentimen konsumen Maret dari University of Michigan pada Jumat waktu AS. Lembaga itu sudah menjadwalkan rilis final Maret 2026 pada Jumat, 27 Maret 2026, pukul 10.00 pagi waktu setempat.
Pada pembacaan awal, indeks sentimen konsumen turun menjadi 55,5 pada Maret 2026 dari 56,6 pada Februari. Penurunan ini menunjukkan rumah tangga AS mulai lebih berhati-hati, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan tekanan harga energi. Survei awal Michigan juga menunjukkan pelemahan terutama terjadi pada komponen ekspektasi, yang turun ke 54,1 dari 56,6.
Data final pekan ini akan menjadi perhatian karena dapat memberi sinyal seberapa besar lonjakan harga bensin dan ketidakpastian global mulai menekan kepercayaan konsumen AS. Jika sentimen konsumen kembali melemah, pasar bisa menilai daya tahan belanja rumah tangga Amerika mulai menghadapi tekanan lebih besar.
Impor-Ekspor AS Beri Sinyal Tekanan Inflasi
Sentimen lain yang juga akan dipantau datang dari data harga impor dan ekspor Amerika Serikat untuk Februari 2026 yang dijadwalkan rilis pada Rabu (25/3/2026) pukul 08.30 waktu AS. Yang akan diumumkan oleh Bureau of Labor Statistics (BLS).
Sebagai pembanding, pada rilis sebelumnya BLS melaporkan harga impor AS secara tahunan turun 0,1% pada Januari 2026. Namun secara bulanan, harga impor justru naik 0,2% setelah juga meningkat 0,2% pada Desember. Kenaikan bulanan ini terutama dipengaruhi oleh naiknya harga barang non-energi, meski harga impor bahan bakar turun 2,2%.
Pasar akan mencermati data Februari ini karena laporan tersebut masih lebih banyak mencerminkan kondisi sebelum lonjakan besar harga komoditas pada Maret. Artinya, data ini dapat memberi gambaran dasar mengenai tekanan harga dari sisi perdagangan luar negeri AS sebelum dampak perang dan lonjakan energi benar-benar terlihat lebih penuh pada data-data berikutnya.
Klaim Awal Pengangguran AS
Dari pasar tenaga kerja AS, investor juga akan menunggu rilis klaim pengangguran mingguan atau jobless claims pada Kamis (26/3/2026). Departemen Tenaga Kerja AS secara rutin menerbitkan laporan ini setiap Kamis pagi, kecuali bila bertepatan dengan hari libur federal.
Pada rilis terakhir yang dipublikasikan 19 Maret 2026, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 14 Maret tercatat 205.000, turun 8.000 dari pekan sebelumnya yang sebesar 213.000. Sementara itu, rata-rata empat minggunya berada di level 210.750. Angka tersebut memberi sinyal bahwa pemutusan hubungan kerja di AS masih tergolong rendah.
Karena itu, bila angka jobless claims pekan ini masih bergerak di sekitar level tersebut, pasar kemungkinan akan menilai pasar tenaga kerja AS masih cukup solid. Kondisi ini penting karena ketahanan pasar kerja akan ikut memengaruhi prospek konsumsi rumah tangga, arah kebijakan moneter The Fed, serta sentimen investor terhadap dolar AS dan aset berisiko.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

3 hours ago
4
















































