Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
15 May 2026 08:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah negara masih menanggung utang besar ke Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF). Data terbaru per 13 Mei 2026 menunjukkan posisi kredit IMF yang masih beredar atau IMF Credit Outstanding mencapai SDR 121,32 miliar, atau setara sekitar US$167,62 miliar (asumsi 1 SDR setara US$1,38).
Sebagai catatan, Special Drawing Rights (SDR) merupakan instrumen cadangan internasional yang diterbitkan IMF. Nilainya mengacu pada gabungan beberapa mata uang utama dunia, yakni dolar Amerika Serikat, euro, yuan China, yen Jepang, dan pound sterling Inggris dengan bobot tertentu.
Karena itu, nilai SDR terhadap dolar AS dapat berubah mengikuti dinamika pasar valuta asing global. Dengan asumsi kurs rupiah di level Rp17.500/US$, total kredit IMF tersebut setara kurang lebih Rp2.933 triliun.
Argentina masih menjadi negara dengan utang IMF terbesar. Total kredit IMF yang masih beredar untuk Argentina mencapai SDR 41,79 miliar, atau setara sekitar US$57,74 miliar. Bila dirupiahkan, nilainya mencapai sekitar Rp1.010 triliun.
Posisi Argentina masih jauh di atas negara lain. Hal ini menunjukkan negara tersebut masih menjadi salah satu peminjam terbesar IMF, seiring tekanan ekonomi yang beberapa tahun terakhir kerap diwarnai inflasi tinggi, tekanan nilai tukar, dan kebutuhan pembiayaan eksternal.
Ukraina berada di posisi kedua dengan total utang IMF sebesar SDR 10,75 miliar, atau setara sekitar US$14,85 miliar. Sebagai catatan, Ukraina masih menghadapi perang berkepanjangan dengan Rusia sejak Februari 2022, di mana kondisi tersebut membuat kebutuhan pembiayaan negara tetap besar, baik untuk menjaga stabilitas fiskal, ekonomi, maupun sistem keuangan domestik.
Di bawah Ukraina, terdapat Pakistan dengan utang IMF sebesar SDR 8,21 miliar atau sekitar US$11,34 miliar. Ekuador menyusul dengan utang sebesar SDR 7,28 miliar atau sekitar US$10,06 miliar.
Mesir juga masih masuk jajaran lima besar dengan total utang IMF sebesar SDR 7,25 miliar, atau setara sekitar US$10,01 miliar. Dengan begitu, tiga negara yakni Pakistan, Ekuador, dan Mesir sama-sama memiliki utang IMF di kisaran US$10 miliar hingga US$11 miliar.
Sejumlah negara Afrika turut masuk dalam daftar 10 besar. Pantai Gading berada di posisi keenam dengan utang sekitar US$4,98 miliar, disusul Bangladesh sebesar US$3,99 miliar, Kenya US$3,97 miliar, Ghana US$3,77 miliar, dan Angola US$3,37 miliar.
Masuknya Bangladesh menambah daftar negara Asia yang masih memiliki ketergantungan pembiayaan pada lembaga tersebut. Komposisi ini menunjukkan tekanan ekonomi global belum sepenuhnya mereda bagi banyak negara berkembang.
Sejumlah negara masih menghadapi tantangan mulai dari defisit transaksi berjalan, pelemahan mata uang, tekanan inflasi, hingga kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar.
IMF sendiri berperan memberikan dukungan pembiayaan kepada negara anggota untuk menjaga stabilitas ekonomi, menstabilkan nilai tukar, membantu kebutuhan neraca pembayaran, hingga mendukung implementasi reformasi struktural.
Bagi banyak negara, fasilitas IMF menjadi penopang penting saat menghadapi tekanan ekonomi maupun gejolak pasar keuangan. Namun, besarnya utang juga membuat keberlanjutan pembayaran dan pengelolaan fiskal menjadi tantangan utama bagi negara peminjam.
Di sisi lain, bagi IMF, kelancaran pengembalian pinjaman menjadi penting untuk menjaga kapasitas lembaga tersebut dalam memberikan dukungan pembiayaan kepada negara anggota lain saat krisis terjadi.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/sef)
Addsource on Google

9 hours ago
6

















































