7 Kultum Singkat Acara Halal bihalal tentang Saling Memaafkan, Padat dan Jelas

22 hours ago 3
  • Mengapa saling memaafkan dianggap penting dalam tradisi halal bihalal?
  • Apa hikmah yang dapat diperoleh dari kegiatan halal bihalal?
  • Contoh susunan acara halal bihalal Idul Fitri?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Momen Ramadhan dan Idulfitri di Indonesia tidak lengkap tanpa tradisi halal bihalal. Dalam agenda tersebut, penyampaian kultum singkat menjadi segmen krusial untuk menyegarkan kembali semangat persaudaraan.

Naskah ceramah yang padat namun menyentuh hati sangat dibutuhkan agar esensi silaturahmi dapat tersampaikan secara efektif tanpa membosankan jamaah.

Firman Allah SWT: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf" (QS. Al-A'raf: 199). Menafsirkan ayat ini, Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, menjelaskan bahwa perintah memaafkan adalah puncak akhlak mulia, yakni menyambung hubungan dengan orang yang memutusnya dan memaafkan orang yang pernah berbuat zalim.

Berlandaskan dalil tersebut, materi ceramah harus mampu menggugah kesadaran jamaah untuk membersihkan hati. Berikut ini adalah tujuh contoh naskah kultum singkat acara halal bihalal tentang saling memaafkan.

Naskah Kultum Singkat 1: Memaafkan adalah Ciri Orang Bertakwa

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dalam suasana bulan Syawal yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah, momentum Halal Bihalal ini bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah manifestasi dari upaya kita untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan. Setelah kita memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah), kini saatnya kita memperbaiki hubungan horizontal sesama manusia (hablun minannas).

Salah satu indikator utama keberhasilan puasa seseorang adalah meningkatnya ketakwaan. Dan tahukah Anda, bahwa salah satu ciri paling utama dari orang yang bertakwa bukanlah yang rajin salat malam saja, melainkan mereka yang mampu memaafkan kesalahan orang lain di saat ia mampu membalasnya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 134, yang berbunyi:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Ayat ini menegaskan tingkatan yang tinggi bagi pemaaf. Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan jiwa dan pengendalian diri yang merupakan inti dari takwa itu sendiri.

Mengenai ayat ini, Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir monumentalnya, Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, menjelaskan bahwa frasa "wal 'afina anin nas" (dan memaafkan kesalahan manusia) bermakna: "Mereka memaafkan orang yang berbuat zalim kepada mereka, sehingga mereka tidak memendam rasa dendam dalam hati mereka dan tidak menuntut balasan."

Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa Allah menutup ayat ini dengan "wallahu yuhibbul muhsinin" (Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan) untuk menunjukkan bahwa memaafkan adalah tahapan ihsan, yaitu tingkatan ibadah dan akhlak yang paling tinggi di sisi Allah.

Maka, saudaraku sekalian, marilah di momen Halal Bihalal ini kita lapangkan dada. Jangan biarkan noda kesalahan saudara kita mengotori hati kita yang telah dibasuh oleh Ramadan. Memaafkan adalah jalan pintas menuju surga yang seluas langit dan bumi.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk mudah memberi maaf dan ringan dalam meminta maaf. Mari kita jadikan pertemuan ini sebagai saksi gugurnya dosa-dosa di antara kita.

Allahumma inna nas'aluka qalban salima, wa lisanan shadiqa. Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzabannar.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 2: Memaafkan agar Dimaafkan Allah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Bapak, Ibu, dan saudara-saudara sekalian yang dimuliakan Allah. Halal Bihalal adalah istilah khas Indonesia yang memiliki makna mengurai benang kusut, menjernihkan yang keruh, dan menghalalkan yang sebelumnya terhambat oleh dosa antar sesama.

Seringkali kita merasa berat untuk memaafkan kesalahan orang lain karena rasa sakit hati yang mendalam. Namun, sadarkah kita bahwa kita pun sangat membutuhkan ampunan Allah atas dosa-dosa kita yang tak terhitung jumlahnya?

Logikanya sederhana: jika kita ingin Allah memaafkan dosa-dosa besar kita, maka kita harus mau memaafkan kesalahan kecil saudara kita. Allah SWT memberikan teguran halus namun tegas mengenai hal ini dalam Surah An-Nur ayat 22:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni kamu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menempatkan ayat ini dalam bab khusus tentang keutamaan memaafkan. Beliau mengutip penjelasan para ulama bahwa ayat ini turun terkait Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bersumpah tidak mau lagi menolong Misthah (kerabatnya) yang telah memfitnah Aisyah RA. Namun setelah ayat ini turun, Abu Bakar langsung berkata, "Benar, demi Allah, aku sangat ingin Allah mengampuniku," lalu beliau kembali menolong Misthah.

Pelajaran dari kitab tersebut sangat jelas: memaafkan sesama adalah "tiket" untuk mendapatkan ampunan Allah. Sebesar apapun kesalahan orang lain kepada kita, tidak sebanding dengan besarnya dosa kita kepada Allah. Jika Allah yang Maha Agung saja mau mengampuni, siapalah kita yang enggan memaafkan?

Oleh karena itu, mari jadikan momen ini sebagai barter spiritual. Kita "jual" maaf kita kepada sesama manusia, untuk "membeli" ampunan dari Allah SWT.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, dan terimalah amal ibadah kami di bulan Ramadan yang lalu.

Rabbana zalamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 3: Kemuliaan bagi yang Memulai Minta Maaf

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat umur dan kesehatan sehingga bisa berkumpul dalam majelis Halal Bihalal yang penuh kekeluargaan ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW teladan pemaaf terbaik sepanjang masa.

Hadirin yang berbahagia, dalam sebuah konflik atau perselisihan, biasanya gengsi menjadi penghalang terbesar untuk berdamai. Masing-masing merasa benar dan menunggu pihak lain untuk meminta maaf terlebih dahulu.

Padahal, dalam pandangan Islam, orang yang paling mulia bukanlah orang yang "menang" dalam pertengkaran, melainkan orang yang mampu mengalahkan egonya untuk memulai perdamaian.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، يَلْتَقِيَانِ : فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

Artinya: "Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan mengucapkan salam."

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Baari (Syarah Shahih Bukhari) menjelaskan hadis ini dengan sangat indah. Beliau menyebutkan bahwa "memulai salam" di sini bermakna inisiatif untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang putus dan menghilangkan kebencian.

Ibnu Hajar menegaskan bahwa keutamaan (khairiyah) diberikan kepada yang memulai karena dialah yang berhasil mengalahkan hawa nafsu dan setan. Memulai minta maaf atau menyapa duluan adalah ciri jiwa ksatria (futuwwah) dalam Islam.

Jadi, jangan menunggu orang lain datang kepada kita. Jadilah "yang terbaik" seperti sabda Nabi, dengan cara mendatangi saudara kita, menjabat tangannya, dan mengucapkan "Mohon maaf lahir dan batin" dengan tulus.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk meruntuhkan tembok keangkuhan dalam hati kita demi persaudaraan yang abadi.

Allahumma allif baina qulubina wa ashlih dzata bainina wahdina subulas salam.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 4: Memaafkan Menambah Kemuliaan, Bukan Kehinaan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta. Shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW. Hadirin yang saya hormati, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita di bulan Syawal ini.

Seringkali ada bisikan setan dalam hati kita yang berkata, "Kalau kamu memaafkan dia, kamu akan terlihat lemah. Kalau kamu minta maaf, kamu akan terhina." Ini adalah tipu daya yang sangat menyesatkan.

Justru sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa sifat pemaaf akan mengangkat derajat seseorang, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT. Tidak ada kemuliaan dalam dendam, dan tidak ada kehinaan dalam memaafkan.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Artinya: "Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena sifat pemaaf yang dimilikinya kecuali kemuliaan."

Dalam kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menafsirkan kata 'Izzan (kemuliaan) dalam hadis tersebut menjadi dua makna. Pertama, kemuliaan batin di dunia, di mana orang yang pemaaf akan disegani, dihormati, dan dicintai oleh manusia karena kebesaran jiwanya.

Kedua, kemuliaan di akhirat, di mana Allah akan meninggikan derajatnya di surga karena ia telah bersabar menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain di dunia.

Jadi, jangan takut dianggap rendah saat kita mengulurkan tangan meminta maaf atau membuka hati memberi maaf. Saat itulah Allah sedang menaikkan level kemuliaan kita. Halal Bihalal ini adalah panggung bagi kita untuk meraih kemuliaan tersebut.

Mari kita buang jauh-jauh rasa gengsi. Mari kita ganti dendam dengan doa, dan ganti amarah dengan senyuman.

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari sifat sombong dan dendam, serta memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mulia.

Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 5: Bahaya Memutus Silaturahmi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan silaturahmi sebagai sarana perekat umat. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Hadirin yang dirahmati Allah, Halal Bihalal hakikatnya adalah majelis penyambung silaturahmi. Momen ini sangat krusial karena ancaman bagi orang yang memutus tali persaudaraan dan enggan memaafkan sangatlah berat.

Islam sangat mengecam keras pemutusan hubungan (hajar) antar sesama muslim. Seseorang yang menyimpan dendam dan tidak mau bertegur sapa, terancam tertolak amal ibadahnya.

Rasulullah SAW bersabda mengenai ancaman memutus silaturahmi:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Artinya: "Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali silaturahmi)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, ketika membahas ayat-ayat tentang silaturahmi, menjelaskan bahwa memutus silaturahmi termasuk dosa besar (kaba'ir). Beliau menukil pendapat bahwa ampunan Allah dan rahmat-Nya akan terhalang bagi kaum yang di dalamnya terdapat orang yang memutus silaturahmi.

Lebih lanjut, dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari, disebutkan bahwa amal manusia dilaporkan setiap hari Senin dan Kamis. Maka diampunilah setiap hamba yang tidak syirik, kecuali orang yang bermusuhan dengan saudaranya. Dikatakan kepada malaikat: "Tundalah (ampunan) bagi kedua orang ini sampai mereka berdamai."

Sungguh rugi jika puasa kita, tarawih kita, dan sedekah kita tertahan di langit hanya karena kita enggan memaafkan kesalahan saudara, teman, atau kerabat kita.

Oleh sebab itu, marilah kita cairkan kebekuan hati di acara Halal Bihalal ini. Tidak ada masalah duniawi yang layak dipertahankan dengan mengorbankan surga kita.

Ya Allah, satukanlah hati kami, jauhkanlah kami dari perselisihan, dan jadikanlah kami bersaudara saling mencintai karena-Mu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 6: Hati yang Salim (Qalbun Salim)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Zat Pemilik Hati. Shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW, dokter hati umat manusia. Bapak/Ibu sekalian, selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.

Tujuan akhir dari perjalanan spiritual kita, termasuk puasa Ramadan dan Halal Bihalal ini, adalah untuk menghadap Allah dengan hati yang bersih, atau dalam bahasa Al-Qur'an disebut Qalbun Salim.

Hati yang bersih adalah hati yang bebas dari syirik, dan juga bebas dari penyakit hati terhadap sesama manusia seperti iri, dengki, dan dendam. Kita tidak ingin membawa "sampah" emosi saat nanti kembali kepada Allah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Asy-Syu'ara ayat 88-89:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinya: "(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."

Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya Ihya Ulumuddin, pada bab Riyadhatun Nafs (Melatih Jiwa), menjelaskan bahwa Qalbun Salim tidak akan tercapai jika masih ada kebencian kepada sesama muslim. Beliau menekankan bahwa memaafkan adalah cara untuk "mengosongkan" hati dari kotoran duniawi agar bisa diisi dengan cahaya ilahi.

Menurut Al-Ghazali, orang yang menyimpan dendam sama seperti orang yang menyimpan bara api dalam genggamannya; dia yang pertama kali terbakar sebelum orang lain. Maka, melepaskan maaf adalah melepaskan bara api tersebut.

Di momen Halal Bihalal ini, mari kita lakukan detoksifikasi hati. Kita buang racun-racun masa lalu dengan memaafkan secara tulus (lillahi ta'ala). Biarkan hati kita kembali fitrah, suci, dan damai.

Semoga Allah menganugerahkan kita Qalbun Salim, hati yang damai di dunia dan selamat di akhirat.

Allahummaghfir lil mukminina wal mukminat, wal muslimina wal muslimat, al-ahya-i minhum wal amwat.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 7: Halal Bihalal Sebagai Wujud Ukhuwah Islamiyah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Hadirin yang saya muliakan, marilah kita manfaatkan pertemuan ini untuk memperkokoh tali persaudaraan kita.

Halal Bihalal adalah tradisi indah yang berakar dari nilai-nilai Islam. Inti dari acara ini adalah Ishlah (perbaikan hubungan) dan memperkuat Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim).

Islam mengibaratkan orang-orang mukmin itu bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan, atau satu tubuh yang jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya. Memaafkan adalah obat untuk menyembuhkan bagian tubuh yang sakit itu.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi, seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh badan akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam."

Ulama kontemporer Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur'an, menjelaskan bahwa Halal Bihalal adalah upaya untuk mengubah hubungan yang "haram" (keruh, penuh dosa, dan sengketa) menjadi "halal" (cair, baik, dan harmonis).

Beliau menjelaskan bahwa kata "maaf" dalam bahasa Al-Quran sering menggunakan kata 'afw yang berarti menghapus. Jadi, memaafkan bukan sekadar mengucapkan di lisan, tapi menghapus bekas-bekas kesalahan itu dari memori hati, seolah-olah kesalahan itu tidak pernah terjadi.

Mari kita jadikan Halal Bihalal ini sebagai momentum untuk menyatukan visi dan misi, serta mempererat kolaborasi dalam kebaikan. Persatuan kita adalah kekuatan kita.

Semoga Allah SWT meridhoi perkumpulan kita ini, menguatkan ukhuwah kita, dan menjadikan kita umat yang bersatu padu dalam kebaikan.

Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul alim, watub 'alaina innaka antat tawwabur rahim.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

People also Ask:

Mengapa saling memaafkan dianggap penting dalam tradisi halal bihalal?

Halal Bihalal bukan hanya sekadar bersalaman atau bermaaf-maafan. Lebih dari itu, tradisi ini mencerminkan nilai-nilai luhur seperti: Pembersihan hati dan jiwa: Memaafkan dan meminta maaf menjadi langkah awal untuk membersihkan hati dari dendam dan rasa sakit.

Apa hikmah yang dapat diperoleh dari kegiatan halal bihalal?

Biasanya, Halal Bihalal diselenggarakan di rumah, aula, ataupun auditorium, dan menjadi ajang untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan. Dalam konteks keagamaan, Halal Bihalal memiliki makna yang mendalam dan menjadi momen penting untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan antar umat Islam.

Contoh susunan acara halal bihalal Idul Fitri?

Contoh Susunan Acara Halal Bihalal Reuni Teman LamaPembukaan oleh MC.Penyampaian kata sambutan dari ketua panitia acara.Penyampaian kata sambutan atau kesan pesan dari perwakilan tamu undangan.Sharing session atau ice breaking untuk mencairkan suasana.Acara makan bersama.Foto bersama.Penutupan oleh MC.

Apa yang diucapkan ketika halal bihalal?

Selamat Lebaran! Mari sambut kemenangan dengan hati yang bersih dan penuh kasih. Halal bihalal, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Muhamad Ridlo, Fadila AdelinTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |