Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang adalah Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menilai kenaikan harga sejumlah bahan pokok menjelang Ramadan lebih disebabkan persoalan distribusi ketimbang pasokan.
Ia merujuk data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan lonjakan harga terjadi di rantai pasok tingkat menengah.
"Sudah pasti. Itu di BPS kelihatan, naik 30% di rantai pasok middleman. Kasihan konsumen," ujar Amran di Kementan, Rabu (4/3/2026)
Menurutnya, produksi dalam negeri justru dalam kondisi melimpah, terutama untuk minyak goreng. Karena itu, lonjakan harga dianggap tidak rasional.
"Sekarang produksi melimpah harga naik tinggi, minyak goreng," katanya.
Pemerintah menemukan adanya selisih harga signifikan di tingkat distributor besar di salah satu daerah.
"Salah satu kemarin di Bandung. Langsung kami turunkan tim malam-malam ke sana, ternyata selisih 2.000-3.000 per kilo. Ini nggak manusiawi," ungkapnya.
Ia menegaskan praktik semacam ini tidak boleh terus berulang setiap menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
"Memang cari keuntungan di bulan suci Ramadan. Nah, ini harus kita beresin jangan tiap tahun," tegasnya.
Amran menyatakan pemerintah akan mengambil langkah tegas, termasuk pencabutan izin usaha jika ditemukan pelanggaran.
"Kami minta dicabut dan ditindaklanjuti," katanya terkait temuan distributor bermasalah.
Ia juga menegaskan, produsen tidak boleh ikut-ikutan menaikkan harga dengan alasan apapun.
"Kalau produsen menaikkan, khususnya importir naikkan yang sapi bakalan, aku cabut izinnya dan tidak boleh impor lagi," pungkas Amran.
(dce)
Addsource on Google

3 hours ago
2
















































