Apa Itu Halal Bihalal? Makna, Sejarah, dan Tradisi di Indonesia

11 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Halal bihalal yang identik dengan tradisi khas Indonesia dan Hari Raya Idul Fitri, menjadi momen penting bagi masyarakat untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.

Tradisi ini meskipun mengandung kata "halal" dari bahasa Arab yang berarti suci atau diizinkan, sebenarnya merupakan tradisi asli Indonesia yang berkembang seiring waktu.

Meskipun istilahnya mengandung kata 'halal', makna halal bihalal tidak bisa diartikan secara harfiah.

Lebih dari sekadar meminta maaf, tradisi ini merefleksikan nilai-nilai penting dalam budaya dan agama Islam di Indonesia, seperti pentingnya saling memaafkan dan memperkuat persaudaraan.

Mengutip laman resmi Kemenag, Jumat (5/4/2025), dalam kacamata Islam, halal bihalal bertujuan untuk menghormati sesama manusia dalam bingkai silaturahmi.

Halal bihalal dilihat dari sisi silaturahmi dapat menjadi perantara untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur.

Sebagaimana keterangan sebuah hadis dari AbuHurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi”.

Untuk mengetahui lebih dalam apa itu halal bihalal, berikut makna, sejarah, dan tradisi halal bihalal di Indonesia.

Makna Mendalam di Balik Tradisi Halal Bihalal

Halal bihalal lebih dari sekadar acara makan bersama atau kunjungan silaturahmi. Ini adalah kesempatan untuk membersihkan diri dari kesalahan dan dosa yang dilakukan selama setahun terakhir, baik disengaja maupun tidak.

Proses saling meminta dan memberi maaf ini dianalogikan seperti 'benang kusut yang terurai' atau 'air keruh yang menjadi jernih'.

Selain itu, halal bihalal juga bertujuan memperkuat ikatan persaudaraan dan hubungan sosial. Melalui pertemuan dan saling memaafkan, hubungan yang mungkin renggang atau tegang dapat dipulihkan dan diperbaiki. Ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya silaturahmi.

Terakhir, halal bihalal juga merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT atas keberkahan yang diberikan selama bulan Ramadan dan kesempatan untuk kembali kepada kesucian. Ini menunjukkan rasa syukur dan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Sejarah Halal Bihalal: Dari Mangkunegara I hingga Soekarno

Di Mekkah dan Madinah, tradisi halal bihalal tidak dikenal. Karena itu, bisa dikatakan 'halal bihalal made in Indonesia' atau ciptaan umat Islam Indonesia.

Dalam bahasa Prof. Dr. QuraishShihab adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara.

Ada beberapa versi mengenai asal-usul tradisi halal bihalal. Versi pertama menelusuri tradisi serupa hingga ke masa Mangkunegara I di Solo, di mana pertemuan antara raja, punggawa, dan prajurit setelah salat Idul Fitri untuk saling memaafkan menjadi cikal bakal tradisi ini.

Istilah 'alal behalal' dan 'halal behalal' bahkan tercatat dalam kamus Jawa-Belanda tahun 1938.

Versi kedua menghubungkan populernya halal bihalal dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah dan Presiden Soekarno.

Pada tahun 1948, KH. Abdul Wahab Hasbullah mengusulkan istilah 'halal bihalal' kepada Presiden Soekarno sebagai upaya mempererat silaturahmi antar pemimpin politik yang kala itu masih berkonflik. Presiden Soekarno kemudian mengadakan acara halal bihalal di Istana Negara.

Meskipun terdapat perbedaan versi, kedua versi tersebut menunjukkan bahwa tradisi halal bihalal telah ada dan berkembang di Indonesia sejak lama, mengalami adaptasi dan evolusi seiring perjalanan waktu. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia.

Praktik Halal Bihalal di Masyarakat Indonesia

Pelaksanaan halal bihalal sangat beragam, disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya masing-masing daerah. Biasanya, halal bihalal dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga, kerabat, teman, atau komunitas. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai dari kunjungan antar rumah yang lebih intim hingga pertemuan formal di tempat umum seperti aula atau gedung.

Ada juga yang menyelenggarakan acara makan bersama sebagai bagian dari halal bihalal. Namun, inti dari halal bihalal tetap sama: saling meminta maaf dan mempererat hubungan. Inilah yang menjadikan tradisi ini tetap lestari dan relevan hingga saat ini.

Perkembangan zaman juga memengaruhi cara masyarakat menjalankan halal bihalal. Dahulu, halal bihalal lebih bersifat kunjungan antar rumah. Kini, telah berkembang menjadi acara-acara besar yang melibatkan banyak orang, bahkan dengan variasi yang berfokus pada kuliner. Namun, inti dari tradisi ini tetaplah pada saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.

Tradisi halal bihalal telah menjadi bagian integral dari budaya Indonesia, mencerminkan nilai-nilai penting dalam budaya dan agama Islam di Indonesia, khususnya mengenai pentingnya saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan mensyukuri nikmat Allah SWT. Tradisi ini telah berkembang dan beradaptasi seiring waktu, namun inti maknanya tetap terjaga hingga saat ini.

Secara bahasa, istilah halal bihalal berasal dari kata 'halal' yang diulang dan diberi imbuhan 'bi' di tengahnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halal bihalal berarti bermaaf-maafan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, yang biasanya dilakukan oleh sekelompok orang sebagai bentuk silaturahmi.

Halal Bihalal dalam Perspektif Islam

Meskipun halal bihalal tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur'an maupun hadits, esensinya sangat sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang menganjurkan untuk saling memaafkan, memperkuat silaturahmi, dan mencairkan hubungan yang beku di antara sesama muslim.

Dalam perspektif Qur'ani, istilah halal seringkali dirangkai dengan kata thayyib (baik atau baik lagi menyenangkan).

Halal bihalal, dengan tujuan membersihkan diri dari kesalahan dan mempererat hubungan, selaras dengan ajaran Islam untuk hidup berdampingan secara harmonis dan saling mengampuni.

Memahami halal bihalal dari perspektif syariat Islam membutuhkan penggalian lebih dalam sumber-sumber hukum Islam dan pendapat para ulama.

Namun, secara umum, tradisi ini dianggap sebagai bentuk implementasi nilai-nilai luhur Islam dalam konteks budaya Indonesia.

Infografis Puncak Arus Mudik Lebaran 2025. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |