Jakarta, CNBC Indonesia - Iran kini sedang diguncang peperangan. Sejak 28 Februari, negara itu diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan. Iran pun membalas dengan menyerang Israel dan kepentingan Amerika, termasuk pangkalan militernya di negara-negara Timur Tengah, termasuk Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Total sudah seminggu perang terjadi. Namun belum ada tanda-tanda perang berakhir, malah dikhawatirkan makin melebar ke kawasan.
Berbicara tentang Iran, sebenarnya negara ini merupakan pusat politik dan syiah terbesar, salah satu dari dua sekte utama besar Islam. Sebagian besar warga, 90-95% mengidentifikasi diri sebagai Muslim Syiah.
Lalu bagaimana ceritanya Iran bisa menjadi negara Syiah terbesar dunia seperti sekarang?
Sebelum Islam: Persia Zoroastrian
Mengutip NDTV Minggu (8/3/2026), sebelum Islam tiba, wilayah yang sekarang kita sebut Iran adalah jantung kekaisaran Persia kuno. Dari sekitar tahun 1000 SM hingga penaklukan Arab pada tahun 651 M, agama yang dominan adalah Zoroastrianisme.
Di bawah kekaisaran Akhemenid, Parthia, dan Sasanian, Zoroastrianisme membentuk kehidupan politik dan sosial. Agama ini berpusat pada penyembahan Ahura Mazda dan perjuangan moral antara kebaikan dan kejahatan. Kuil api dan kelas pendeta yang dikenal sebagai Magi memainkan peran kunci.
Agama lain hidup berdampingan di tanah Persia, termasuk Yudaisme dan Kristen. Kekaisaran itu beragam secara agama, meskipun Zoroastrianisme memegang peran utama.
Penaklukan Muslim, Sunni-Syiah
Islam memasuki Iran melalui penaklukan Arab pada tahun 651 M. Selama berabad-abad berikutnya, sebagian besar orang Iran memeluk Islam.
Perpecahan antara Islam Sunni dan Syiah dimulai lebih awal, setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M. Perselisihan itu terkait dengan kepemimpinan.
Satu kelompok mendukung Abu Bakr sebagai khalifah. Kelompok lain percaya bahwa kepemimpinan adalah milik Ali, sepupu dan menantu Nabi.
Pembunuhan Husayn, putra Ali, di Karbala pada tahun 680 M memperdalam perpecahan. Kematiannya menjadi elemen utama identitas Syiah di mana ritual berkabung selama Asyura masih memperingati peristiwa ini.
Selama berabad-abad, Iran sebagian besar beragama Sunni. Hal itu berubah pada abad ke-16.
Deklarasi Shah Ismail I Menjadi Negara Syiah
Pada tahun 1501, Shah Ismail I mendirikan dinasti Safawi dan mendeklarasikan "Syiah 12 Imam" sebagai agama negara. Keputusan ini mengubah Iran secara permanen.
Safawi awalnya beragama Sunni dengan akar Sufi. Pergeseran mereka ke Syiah bersifat politis.
Hal itu membedakan Iran dari Kekaisaran Ottoman Sunni yang menjadi saingannya saat itu. Hal tersebut pun membantu memusatkan kekuasaan.
Ulama didatangkan dari wilayah Arab di Lebanon dan Irak saat ini untuk membangun lembaga keagamaan Syiah. Seiring waktu, para cendekiawan Syiah Iran muncul dan mendapatkan pengaruh.
Di bawah tokoh-tokoh seperti Mohammad Baqir Majlisi pada abad ke-17, yurisprudensi Syiah menjadi pusat pemerintahan. Ritual seperti Asyura dipromosikan.
Tempat-tempat suci di Mashhad dan Qom semakin penting. Ekspresi keagamaan alternatif, terutama gerakan Sufi, dibatasi.
Sejak periode ini, identitas Iran terikat erat dengan Islam Syiah. Namun di 1906 semua berubah ke konstitusional.
Era Konstitusional
Pada tahun 1906, Iran mengalami Revolusi Konstitusional. Parlemen diperkenalkan.
Kekuasaan monarki dibatasi. Meskipun Islam Syiah tetap menjadi agama negara, minoritas seperti Yahudi, Kristen, dan Zoroaster menerima pengakuan hukum.
Ide-ide Barat seperti nasionalisme dan konstitusionalisme memengaruhi para reformis. Ini adalah awal dari negara-bangsa Iran modern.
Dinasti Pahlavi
Dari tahun 1925 hingga 1979, Iran diperintah oleh dinasti Pahlavi. Reza Shah Pahlavi mengurangi kekuasaan ulama, memusatkan otoritas, dan memperkenalkan reformasi hukum yang dipengaruhi oleh Eropa.
Ia melarang hijab pada tahun 1936 dan mempromosikan pakaian Barat. Pengadilan agama kehilangan kendali atas pendidikan dan hukum.
Putranya, Mohammad Reza Shah, melanjutkan kebijakan ini. Revolusi Putih tahun 1963 memperkenalkan reformasi agraria dan hak pilih perempuan. Negara, bukan ulama, mengendalikan wakaf keagamaan.
Iran selama periode ini dapat digambarkan sebagai negara sekuler hibrida. Islam Syiah tetap menjadi agama resmi di bawah konstitusi 1906, tetapi otoritas keagamaan terpinggirkan secara politik.
Shah juga mempromosikan warisan Persia pra-Islam Iran, merayakan tokoh-tokoh seperti Cyrus Agung. Hal ini dilaporkan membuat marah kelompok-kelompok agama konservatif, yang melihatnya sebagai westernisasi budaya.
Sementara kota-kota dimodernisasi, sebagian besar masyarakat pedesaan tetap sangat religius. Ketegangan antara reformasi sekuler dan identitas keagamaan meningkat.
Revolusi Islam 1979
Ketidakpuasan terhadap pemerintahan Shah, ketidaksetaraan ekonomi, dan persepsi campur tangan Barat menyebabkan protes massal pada tahun 1978-79. Ayatollah Ruhollah Khomeini, seorang ulama dalam pengasingan, kembali dari Prancis sebagai pemimpin revolusi.
Ia menganjurkan pemerintahan berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Setelah Shah melarikan diri, Republik Islam Iran didirikan.
Konstitusi baru tersebut menetapkan "Syiah 12 Imam" sebagai agama negara dan memperkenalkan konsep Velayat-e Faqih, Perwalian Ahli Hukum Islam. Pemimpin Tertinggi, seorang ulama senior, menjadi otoritas tertinggi.
Hukum Syariah membentuk kehidupan hukum dan sosial. Ulama mendominasi lembaga-lembaga kunci.
Kode-kode keagamaan tentang pakaian dan perilaku diberlakukan. Minoritas yang diakui mempertahankan hak-hak terbatas, sementara kelompok-kelompok yang tidak diakui seperti Baha'i menghadapi penganiayaan.
Iran telah beralih dari monarki dengan reformasi sekuler menjadi teokrasi modern. Di masa ini, Iran menjadi pemimpin 15% muslim Syiah global, terkonsentrasi di koridor yang membentang dari Lebanon melalui Irak hingga Iran, kerap disebut "bulan sabit Syiah".
(sef/sef)
Addsource on Google

6 hours ago
4
















































