Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (27/2/2026). Di tengah pergerakan dolar yang cenderung stabil di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan pagi ini rupiah berada di level Rp16.755/US$ atau terdepresiasi 0,03%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Kamis (26/2/2026), rupiah mampu menguat 0,18% ke posisi Rp16.750/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis 0,01% ke level 97,782. Meski demikian, pada perdagangan sebelumnya indeks dolar berhasil menguat 0,09%.
Secara eksternal, pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika dolar AS. Dolar sempat bangkit dari pelemahan pada Kamis kemarin setelah data klaim awal pengangguran mingguan AS naik 4.000 menjadi 212.000. Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi pasar di 216.000, sehingga mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup kuat.
Penguatan dolar juga didorong oleh meningkatnya permintaan likuiditas setelah pasar saham AS mengalami tekanan. Namun, penguatan dolar relatif terbatas seiring adanya komentar dovish dari Presiden The Chicago Fed, Alan Goolsbee, yang menyebut suku bunga masih berpeluang turun tahun ini jika inflasi terus mereda.
Pasar swap saat ini hanya memperkirakan peluang sekitar 3% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 17-18 Maret mendatang.
Meski begitu, secara keseluruhan dolar masih menghadapi tekanan jangka menengah karena pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga sekitar 50 basis poin sepanjang 2026.
Dengan kombinasi faktor tersebut, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini, mengikuti arah dolar AS dan sentimen global.
(evw/evw)
Addsource on Google

5 hours ago
3
















































