Bukan Impor, Tanaman Asli RI Ini Bisa Jadi Penyelamat dari Krisis BBM!

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, khususnya konflik di Timur Tengah yang semakin memanas, dunia kini dihadapkan pada ancaman krisis minyak.

Pasalnya, konflik Timur Tengah berimbas pada arus distribusi logistik utama minyak melalui Selat Hormuz menjadi terganggu. Setidaknya, 20% pasokan minyak dunia ini didistribusikan melalui Selat Hormuz. Adapun, mayoritas pasokan minyak dari Timur Tengah ini ditujukan ke pasar Asia.

Terganggunya pasokan minyak dunia langsung berdampak pada lonjakan harga minyak.

Pada perdagangan Senin pekan lalu (9/3/2026), harga Brent bahkan sempat tercatat di US$ 113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 113,25 per barel. Lonjakan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Meskipun kemudian sempat turun lagi di kisaran US$ 86 per barel, namun pada Kamis (12/3/2026), harga minyak sempat melonjak kembali ke US$ 110 per barel.

Menyikapi kondisi dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan bisa berdampak pada krisis minyak, Indonesia harus memberdayakan segala sumber energi di dalam negeri.

Ternyata, ini bisa dilakukan melalui sumber energi hijau berbasis tanaman yang asli tumbuh di Tanah Air.

Beberapa jenis tanaman yang bisa menjadi "penyelamat" RI dari tekanan krisis bahan bakar, yaitu minyak kelapa sawit (crude palm oil/ CPO), maupun tebu, jagung, sorgum, hingga singkong.

Indonesia selama ini sudah terbukti mengoptimalkan minyak sawit untuk pencampuran bahan bakar diesel/ Solar melalui kebijakan mandatori biodiesel hingga 40% (B40). Rencananya, tahun ini pemerintah akan menerapkan pencampuran biodiesel berbasis sawit hingga 50% (B50).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah saat ini masih melakukan uji coba program mandatori campuran biodiesel berbasis sawit sebesar 50% (B50) pada bahan bakar Solar. Uji coba tersebut ditargetkan rampung pada semester II tahun ini.

"Kita B50 sekarang masih dalam uji coba. Nanti di semester dua uji cobanya sudah selesai," kata Bahlil di Kementerian ESDM, belum lama ini.

Ia menilai Indonesia memiliki keuntungan besar karena memiliki sumber daya CPO yang melimpah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Bahlil mengatakan, jika kondisi geopolitik global terus memicu gangguan pasokan energi, pemerintah dapat meningkatkan kadar campuran biodiesel lebih tinggi lagi, mulai dari B50 hingga B60.

"Karena ini kan kita mencari akal semuanya dengan memakai semua sumber-sumber energi domestik untuk kita memperkuat sebagai bagian daripada ketahanan energi," kata dia.

Sementara tanaman tebu, singkong, sorgum maupun jagung bisa diberdayakan untuk menggantikan bahan bakar minyak jenis bensin, melalui program pencampuran bioetanol, apakah 5% (E5) maupun 20% (E20).

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimismenya bahwa Indonesia mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) dari tanaman. Hal ini disampaikan di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan energi global serta lonjakan harga minyak dunia akibat konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat.

Menurut Prabowo, RI memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk mencapai swasembada energi melalui pengembangan bahan bakar nabati. Sebagai contoh, tanaman seperti kelapa sawit dan singkong dapat diolah menjadi sumber energi alternatif yang mampu mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

Prabowo lantas mengingatkan bahwa selama bertahun-tahun pemerintah telah memperjuangkan kemandirian energi nasional. Adapun, Indonesia dianugerahi sumber daya yang memungkinkan kebutuhan BBM dipenuhi dari dalam negeri.

"Kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa, bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita dari, bukan dari impor luar negeri, bahkan dari tanaman-tanaman kita. Dari kelapa sawit, dari singkong," kata Prabowo dalam Konferensi Pers secara virtual, dikutip Selasa (10/3/2026).

Harga Minyak Berpotensi Melonjak

Meski sempat turun lagi, namun harga minyak diramal masih berfluktuasi, bahkan berpotensi mengalami kenaikan pada perdagangan Senin (16/3/2026) ini.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg. Ancaman tersebut langsung dibalas Teheran dengan pernyataan siap melakukan serangan balasan.

Lonjakan ketegangan ini telah mendorong harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak tajam dan mengguncang pasar keuangan global. Kedua kontrak tersebut tercatat sudah naik lebih dari 40% sepanjang bulan ini hingga mencapai level tertinggi sejak 2022.

Kenaikan harga terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mendorong Teheran menghentikan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut merupakan titik penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.

Trump juga mendesak sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran tersebut. Langkah ini dinilai penting untuk membuka kembali akses energi global yang terganggu.

Militer Amerika Serikat dilaporkan menyerang target militer di Pulau Kharg pada Sabtu. Serangan itu kemudian direspons Iran dengan meluncurkan drone yang menargetkan terminal minyak utama di Uni Emirat Arab.

Analis JP Morgan yang dipimpin oleh Natasha Kaneva menyebut kejadian ini menandai eskalasi baru dalam konflik di kawasan Timur Tengah. Selama ini, menurut mereka, infrastruktur minyak di wilayah tersebut relatif masih terhindar dari serangan langsung.

Selain terminal minyak Fujairah di Uni Emirat Arab, analis juga menyoroti terminal ekspor Ras Tanura di Arab Saudi serta fasilitas pemrosesan minyak Abqaiq sebagai titik energi yang sangat krusial dan rentan di kawasan Teluk. Ketiga fasilitas tersebut dinilai memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas pasokan minyak global.

Meski demikian, operasi pemuatan minyak di terminal Fujairah dilaporkan telah kembali berjalan. Terminal yang berada di luar Selat Hormuz tersebut menjadi jalur ekspor sekitar 1 juta barel per hari minyak mentah Murban milik Uni Emirat Arab atau setara sekitar 1% dari permintaan minyak dunia.

Gangguan distribusi energi diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap pasokan minyak global. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency memperkirakan pasokan minyak dunia dapat turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret akibat gangguan pengiriman.

Selain itu, produsen minyak di Timur Tengah dilaporkan telah memangkas produksi setidaknya 10 juta barel per hari. Kondisi ini semakin memperketat pasokan energi di pasar global.

Untuk meredam lonjakan harga, IEA pekan lalu menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggotanya. Jepang bahkan berencana mulai melepas cadangan minyaknya pada Senin pekan ini.

(wia)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |