Bukan Iran, Trump Sebut Negara Komunis Ini Mau "Menyerah" Usai Ditekan

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintah Kuba tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan Washington setelah berbulan-bulan tekanan politik dan ekonomi dari AS terhadap negara komunis di Karibia tersebut.

Trump menyebut pembicaraan dengan Havana sedang berlangsung dan berpotensi menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat.

"Kuba juga ingin membuat kesepakatan, dan saya pikir dalam waktu dekat kita akan membuat kesepakatan atau melakukan apapun, yang harus kita lakukan" katanya, dilansir AFP, Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan bahwa pemerintahan AS saat ini sedang melakukan komunikasi dengan pihak Kuba, namun fokus Washington masih tertuju pada konflik lain yang lebih mendesak.

"Jadi kami sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kami akan menyelesaikan urusan Iran terlebih dahulu sebelum Kuba... Jadi saya pikir sesuatu akan terjadi dengan Kuba cukup cepat."

Pernyataan Trump muncul setelah Presiden Kuba Miguel Díaz‑Canel pada Jumat mengonfirmasi bahwa pemerintahnya telah melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Dilansir Reuters, Diaz-Canel mengatakan dialog tersebut berkaitan dengan "perbedaan bilateral" antara kedua negara. Namun ia tidak memberikan rincian mengenai isi atau arah pembicaraan tersebut.

Pengakuan Havana itu menjadi sinyal langka adanya komunikasi langsung di tengah hubungan yang selama ini tegang antara Washington dan negara komunis tersebut.

Pembicaraan itu terjadi setelah pemerintah Trump meningkatkan tekanan terhadap Kuba dalam beberapa bulan terakhir. Pada Januari lalu, Washington menempatkan pulau tersebut di bawah blokade minyak Amerika Serikat.

Langkah tersebut secara efektif membatasi pasokan bahan bakar Kuba yang selama ini sudah terbatas. Trump menyebut kebijakan itu diperlukan karena apa yang ia gambarkan sebagai ancaman luar biasa yang ditimbulkan Kuba terhadap AS.

Kebijakan tersebut juga menambah panjang daftar sanksi ekonomi yang telah diterapkan Washington terhadap Havana selama puluhan tahun.

Adapun Kuba makin berada dalam tekanan setelah jatuhnya sekutu utamanya di kawasan Karibia, Presiden Venezuela Nicolás Maduro, pada Januari lalu.

Maduro selama ini menjadi pemasok utama minyak murah bagi Kuba, yang sangat bergantung pada impor energi untuk menjaga operasional ekonomi dan jaringan listriknya.

Setelah pemimpin Venezuela itu digulingkan oleh Washington, aliran minyak yang sebelumnya menopang ekonomi Kuba terhenti. Situasi tersebut membuat pemerintah di Havana menghadapi krisis energi yang semakin berat.

Sejak saat itu, pemerintah Trump semakin menempatkan Kuba sebagai target kebijakan luar negeri Washington di kawasan Karibia.

Sementara itu, Meski Trump menyatakan kesepakatan bisa tercapai dengan cepat, ia tidak menjelaskan secara rinci seperti apa bentuk kesepakatan yang dimaksud.

Yang pasti, hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba telah lama dipenuhi ketegangan sejak Revolusi Kuba pada 1959 yang membawa pemerintahan komunis berkuasa di Havana.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |