Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Fraksi Partai Amanat Nasional Eddy Soeparno mendukung arahan Presiden Prabowo yang meminta cadangan minyak dan gas nasional ditingkatkan sampai dengan tiga bulan dari posisinya hari ini yang hanya 20 hari.
"Setiap negara yang memiliki kebutuhan migas untuk menggerakkan perekonomian dalam negerinya memerlukan ketersediaan dan keandalan pasokan, agar berbagai sektor industri, seperti pupuk, petrokimia dan transportasi bisa tetap beroperasi di saat kondisi geopolitik meruncing seperti kita alami saat ini," ujar Eddy dikutip dari siaran pers, Jumat (6/3/2026).
"Karena Indonesia adalah net importer migas, saya sepakat dengan instruksi Presiden Prabowo agar cadangan strategis migas nasional ditingkatkan sampai dengan 90 hari," lanjutnya.
Menurut Eddy, penguatan ketahanan cadangan migas menjadi sangat penting di saat pasokan migas dunia terganggu akibat perang yang tengah berkecamuk di Timur Tengah. Ia menjelaskan saat ini kita tidak saja berbicara tentang availability of supply (ketersediaan pasokan), tetapi lebih dari itu reliability of supply (keandalan pasokan).
"Tidak bisa dibayangkan jika cadangan migas saat ini terkuras habis dan kita belum mendapatkan pasokan tambahan. Mobilitas masyarakat dan kegiatan industri praktis terhenti. Mobil dan sepeda motor tidak bisa bergerak, pesawat udara diistirahatkan di bandara dan kapal laut akan menumpuk di pelabuhan," jelasnya.
"Belum lagi industri yang membutuhkan minyak dan gas sebagai bahan bakunya: pabrik pupuk, produsen plastik, petrokimia akan stop berproduksi. Oleh karenanya, kita harus memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan volume cadangan strategis migas sesuai arahan Presiden Prabowo," lanjutnya.
Menurut Doktor Ilmu Politik UI ini, sampai sekarang belum ada yang bisa memprediksi kapan perang Iran-AS dan Israel akan selesai. Maka dari itu Indonesia perlu segera berbenah.
"Langkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain diversifikasi pasokan impor untuk memastikan pasokan migas dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah dapat diperoleh Indonesia," ungkapnya.
Selanjutnya Eddy menjelaskan urgensi pembangunan storage capacity (kapasitas penyimpanan) migas yang harus diprioritaskan.
"Kami juga mendorong penyediaan anggaran untuk membangun kapasitas penyimpanan tambahan, serta pembelian komoditas migas yang akan menjadi penyangga migas dalam negeri dalam kondisi kedaruratan," kata Eddy.
"Oleh karena itu kami mendukung pembentukan "National Petroleum Fund" yang antara lain dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi dalam negeri," tegasnya.
Eddy juga memandang bahwa penebalan cadangan migas nasional tetap akan bermanfaat sekalipun kondisi geopolitik berjalan normal
"Di masa nonkritis/darurat cadangan penyangga ini bisa berfungsi sebagai peredam gejolak harga komoditas, di saat harga migas naik mendadak di masa mendatang," ujar Eddy.
"Krisis geopolitik dan perang di Timur Tengah saat ini mengajarkan bahwa ketahanan energi sangat vital bagi keberlangsungan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, sudah sepatutnya ketahanan energi disejajarkan dengan ketahanan nasional," kata Wakil Ketua Umum PAN tersebut.
(miq/miq)
Addsource on Google

2 hours ago
2
















































