Ego AS-Iran Sama-Sama Besar, Warga Dunia yang Menanggungnya

4 hours ago 3

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

23 April 2026 18:50

Jakarta. CNBC Indonesia - Tingginya ego Amerika Serikat dan Iran melanjutkan ketegangan konflik. Meski gencatan senjata sementara diperpanjang oleh Donald Trump, konflik ini belum benar-benar mereda.

Di balik tarik-ulur diplomasi, ego kedua negara justru memperpanjang kebuntuan-dan pada akhirnya, perekonomian rakyat, baik domestik maupun global, ikut menanggung dampaknya.

Blokade & Serangan Balasan: Jalur Perdagangan Lumpuh

Ketegangan ini langsung menghantam jalur vital energi dunia, yakni Selat Hormuz. Amerika Serikat memperketat blokade terhadap kapal-kapal Iran, bahkan hingga menyita beberapa armada di luar kawasan utama. Trump percaya bahwa blokade ini akan membuat Iran lebih sengsara dari posisinya.

Namun di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) tetap melakukan serangan terhadap kapal yang melintas. Selain itu, melemahnya kualitas koordinasi pihak internal Amerika Serikat turut memberikan rasa percaya diri kepada Iran.

Perang akan lebih susah berhenti ketika kedua pihak yakin bahwa mereka akan menang. Namun, konflik yang berlarut-larut ini memberikan gangguan serius terhadap rantai pasok global. Jalur distribusi energi dan barang terganggu, menciptakan efek domino ke berbagai sektor ekonomi dunia.

Minyak Mahal, Rakyat Terjepit

Dampak paling cepat terasa ada di pasar energi. Harga minyak dunia bertahan di kisaran tinggi, sekitar US$100 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar di banyak negara.

Bagi Iran, tekanan terasa lebih langsung. Blokade membuat ekspor minyak tersendat, memaksa penyimpanan penuh dan berpotensi menurunkan produksi. Jika Iran harus penutupan pelabuhan, kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok akan terjadi dan mencekik masyarakat Iran.

Di sisi lain, Amerika Serikat turut mengalami tekanan. Kenaikan harga bensin dapat memicu ketidakpuasan publik dan menjadi risiko politik bagi pemerintahan Trump, terutama menjelang pemilu.

Ego Mengalahkan Logika, Solusi Kian Jauh

Upaya diplomasi sebenarnya masih berjalan, namun terus menemui jalan buntu. Salah satu isu utama adalah program nuklir Iran.

Padahal, secara rasional, baik Amerika maupun Iran memiliki kepentingan untuk menghindari perang yang lebih luas. Namun dalam dinamika konflik, logika kerap kalah oleh ego, kepentingan politik, dan persepsi kemenangan.

Selama kedua negara tetap bertahan pada posisi masing-masing, kebuntuan ini berisiko terus berlanjut, dengan biaya ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat luas.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |