Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak kembali melandai di tengah tekanan kenaikan dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 5.175,45 per troy ons atau menguat 0,31% pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Pelemahan ini berbanding terbalik dengan kenaikan 1,06% pada Selasa.
Pada hari ini, harga emas masih jatuh. Pada Kamis (12/3/2026) pukul 06.29 WIB, harga emas diperdagangkan di US$ 5.153,27 per troy ons atau melandai 0,43%.
Harga emas dan perak turun pada hari ini meskipun ketegangan geopolitik mendominasi berita utama global.
Pergerakan ini mengejutkan banyak investor karena logam mulia biasanya justru menguat saat terjadi krisis geopolitik. Namun kali ini pasar justru melihat pergeseran dana secara tiba-tiba ke dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yields), yang menekan seluruh sektor logam mulia.
Indeks dolar AS kembali melonjak ke 99,23 pada Rabu kemarin, dari 98,8 pada hari sebelumnya. Pembelian emas global dikonversi ke dolar AS sehingga kenaikan dolar membuat permintaan turun.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury melesat ke 4,23% pada Rabu atau tertinggi sejak 5 Februari 2026. Emas tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan US Treasury membuat emas kurang menarik.
Meski mengalami penurunan, gambaran besar pasar tetap cukup kompleks. Harga emas masih bertahan di dekat rekor tertinggi di atas US$5.200, sementara perak juga masih berada di kisaran puncak tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah reli kuat pada awal tahun ini.
Para analis mengatakan penurunan hari ini lebih mencerminkan guncangan makro jangka pendek, bukan runtuhnya permintaan jangka panjang.
Permintaan industri terhadap perak, khususnya dari sektor energi surya dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), terus meningkat dengan cepat.
Sementara itu, ketegangan yang berlanjut di Timur Tengah masih menjaga permintaan terhadap aset safe haven tetap tinggi.
Singkatnya, pergerakan hari ini mencerminkan benturan antara kekuatan makro finansial dan risiko geopolitik.
Meski gejolak global biasanya mendorong harga logam mulia naik, kali ini dolar AS yang kuat, kenaikan suku bunga, serta penyesuaian margin secara tiba-tiba justru mendominasi narasi pasar.
Harga emas saat ini berada di bawah tekanan terutama karena penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi (bond yields). Kedua faktor tersebut membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau aset berbunga lainnya.
Addsource on Google

6 hours ago
2
















































