Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan sejak awal tahun. Aktivitas transaksi di pasar juga mulai melambat menjelang periode libur Lebaran, seiring dengan banyaknya pelaku pasar yang cenderung menahan langkah dan memilih wait and see.
Namun di balik kondisi pasar yang relatif sepi ini, sering kali muncul peluang bagi investor untuk mulai mencermati saham-saham dengan fundamental kuat yang harganya sudah terkoreksi cukup dalam. Tidak jarang, fase pelemahan pasar justru menjadi momen bagi investor jangka panjang untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap.
Secara historis, setelah periode libur panjang seperti Lebaran, aktivitas pasar biasanya kembali meningkat seiring kembalinya likuiditas dan sentimen baru di pasar. Karena itu, investor dapat mulai menyiapkan watchlist saham yang memiliki prospek menarik ketika pasar kembali bergairah.
Lalu, saham apa saja yang dinilai memiliki potensi menarik untuk dicermati dan berpeluang menguat setelah Lebaran?
Berikut ada tiga saham yang menurut kami bisa dicermati:
Saham MPMX
Pertama, ada saham portofolio grup Saratoga yang rajin bagi-bagi dividen, yaitu PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX).
Saham ini menarik dilirik walaupun IHSG sedang loyo, karena volatilitasnya rendah, saham ini seringkali disebut forever sideways, karena harga nya bergerak naik turun dalam rentang support-resistance yang sama berbulan-bulan.
Seiring dengan geraknya yang sideways itu, kemudian menjadi menarik karena potensi dividen yang ciamik.
MPMX sudah lama dikenal sebagai emiten yang royal bagi dividen. Dari tahun ke tahun, pembagian dividen relatif konsisten dengan yield yang kompetitif.
Jika tahun ini MPMX membagikan dividen Rp100 per saham saja, dengan asumsi harga saham di kisaran Rp1.015, maka potensi yield bisa mendekati 10%. Angka dua digit tentu menarik, apalagi bagi investor yang fokus pada pendapatan rutin.
Dengan rekam jejak pembagian dividen sebelumnya yang stabil, MPMX masih jadi salah satu kandidat kuat saham "penghasil cuan rutin".
Saham BBNI
Posisi kedua ada saham bank pelat merah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang menarik dicermati, apalagi sudah ada pengumuman mau bagi dividen dengan yield ciamik.
Baru-baru ini, BBNI mengumnumkan bagi dividen per saham Rp349, nilai ini bisa membuka peluang cuan sampai 8% lebih kalau beli di harga saham terkini di Rp4.240 per lembar.
Perbaikan kinerja fundamental BBNI juga diperkirakan mulai terlihat seiring siklus penurunan suku bunga yang terjadi sepanjang 2025, di mana bank sentral telah memangkas suku bunga hingga lima kali. Kondisi ini diharapkan dapat mendorong pemulihan aktivitas ekonomi sekaligus meningkatkan permintaan kredit ke depan.
Dari sisi kinerja, laba bersih BBNI pada 2025 diperkirakan mengalami sedikit koreksi menjadi sekitar Rp20,36 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp21,46 triliun.
Namun setelah fase penyesuaian tersebut, kinerja perseroan diproyeksikan kembali menguat, dengan laba bersih pada 2026 berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp22,28 triliun.
Saham ADMR
Berikutnya ada saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), yang merupakan anak usaha PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan fokus bisnis di batu bara kokas dan bertahap ke bisnis alumunium.
Bisnis aluminium berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan baru di masa depan. Proyek smelter aluminium tersebut dijalankan melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang berada di bawah struktur kepemilikan PT Alamtri Indo Aluminium, entitas yang masih terafiliasi dengan ADMR.
Dalam struktur KAI, Alamtri Indo Aluminium memegang sekitar 65 % saham. Sisanya dimiliki oleh Aumay Mining berbasis Singapura sebesar 22,5 % dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) sebesar 12,5 %.
Peran CITA sendiri cukup strategis karena perusahaan ini memiliki fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina yang berpotensi menjadi pemasok bahan baku utama bagi smelter aluminium tersebut. Keterkaitan ini semakin kuat dengan adanya kepemilikan minoritas Alamtri Indo Aluminium di CITA.
Dari sisi perkembangan proyek, smelter aluminium ini sudah mulai memasuki fase operasional awal setelah first pot operation dilakukan pada akhir 2025. Pada tahap pertama, kapasitas produksinya ditargetkan mencapai sekitar 500 ribu ton aluminium ingot per tahun dan secara bertahap direncanakan meningkat hingga 1,5 juta ton per tahun dalam beberapa fase pengembangan berikutnya.
Meski demikian, dalam jangka pendek hingga menengah, bisnis utama ADMR masih ditopang oleh produksi coking coal yang menjadi sumber arus kas utama perseroan. Selama permintaan baja global tetap kuat, segmen ini berperan menjaga stabilitas kinerja perusahaan. S
Sementara itu, bisnis aluminium diposisikan sebagai mesin pertumbuhan baru yang berpotensi memberikan kontribusi lebih besar dalam beberapa tahun ke depan, dengan dampak yang diperkirakan mulai terlihat lebih jelas pada kinerja keuangan sekitar 2027.
Dari sisi pergerakan harga, saham ADMR memang sudah tidak berada di level harga paling menarik untuk akumulasi. Namun selama tren kenaikannya masih terjaga, saham ini masih berpotensi dimanfaatkan untuk strategi trading dengan pendekatan mengikuti arah tren pasar.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae)
Addsource on Google

3 hours ago
2
















































