Petani sayuran di Benguet, wilayah pegunungan di Filipina utara, mengeluhkan kenaikan harga solar yang dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Lonjakan harga bahan bakar tersebut menggerus pendapatan petani yang sudah rapuh dan memperparah kesulitan keuangan akibat meningkatnya biaya operasional pertanian. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Ketergantungan Filipina pada bahan bakar impor, yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah, membuat sektor pertanian sangat rentan terhadap gejolak harga global. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Harga solar dilaporkan hampir menyentuh 150 peso atau sekitar 2,50 dolar AS per liter (setara Rp42 ribu) pada pekan ini, sehingga meningkatkan beban biaya produksi dan distribusi hasil pertanian. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Salah seorang petani kubis di Benguet, mengatakan kenaikan harga solar berdampak besar pada seluruh proses pertanian, mulai dari penanaman hingga panen. Ia menjelaskan bahwa solar dibutuhkan untuk menggerakkan pompa air irigasi saat musim kemarau serta untuk mengangkut hasil panen ke pasar yang berjarak berjam-jam, sehingga sering kali tidak ada keuntungan yang tersisa. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Selain tekanan biaya, ketidakpastian ekonomi juga menimbulkan beban emosional bagi para petani. Capin mengaku khawatir karena tidak mengetahui dari mana mereka akan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, sementara krisis diperkirakan tidak akan segera berakhir. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Di daerah terpencil, masalah semakin rumit karena pasokan bahan bakar tidak stabil. Petani Jazer Melis (36) mengatakan tidak ada lagi SPBU di kotanya yang menjual solar, sehingga petani harus bergantung pada rekan kerja untuk membawa bahan bakar dari kota lain, yang menambah waktu dan biaya. (REUTERS/Eloisa Lopez)

6 hours ago
1
















































