Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah suara mesin yang meraung tanpa henti di kota industri Gumi, Korea Selatan (Korsel), lahir salah satu "senjata rahasia" ekonomi Negeri Ginseng: mie instan atau ramyeon. Mie instan yang dulu identik dengan makanan murah pengganjal lapar kini berubah menjadi mesin uang bernilai triliunan rupiah, penggerak wisata, hingga alat diplomasi budaya Korea Selatan ke seluruh dunia.
Di pabrik terbesar milik Nongshim di Gumi, sekitar 600 bungkus ramyeon diproduksi setiap menit. Fasilitas seluas lebih dari 42 ribu meter persegi itu mampu menghasilkan 6 juta bungkus per hari hanya dengan sekitar 600 pekerja berkat dukungan sensor berbasis AI dan kamera pintar yang memantau seluruh proses produksi.
"Tahun lalu, kami memproduksi 1,23 miliar unit senilai 884 miliar won (sekitar Rp10,3 triliun)," kata manajer pabrik Sang Hoon Kim, seperti dikutip CNN International, dikutip Jumat (15/5/2026).
Pabrik ini menjadi tulang punggung produksi Shin Ramyun dan Chapagetti yang mendominasi pasar domestik Korsel saat ini. Namun di Gumi, ramyeon bukan sekadar produk makanan.
Kota berpenduduk sekitar 400 ribu jiwa yang dulu dikenal sebagai kawasan industri membosankan kini menjelma menjadi destinasi wisata berbasis mie instan. Pemerintah kota mulai menggelar festival ramyeon sejak 2022 untuk membangun identitas budaya baru.
Hasilnya di luar dugaan. Jumlah pengunjung melonjak dari 10 ribu orang pada festival pertama menjadi 350 ribu orang pada 2025, dengan penjualan mencapai 54 ribu mangkuk dan 480 ribu bungkus ramyeon hanya dalam tiga hari.
"Sebagai kota industri, kami membutuhkan identitas budaya," ujar pejabat senior Balai Kota Gumi, Jeong-tae Kim.
Festival itu menghadirkan jalur kuliner sepanjang 475 meter yang dipenuhi kreasi berbahan dasar ramen, mulai dari sandwich ramen hingga sup mie dengan daging asap. Dampaknya langsung terasa ke ekonomi lokal, dari tiket kereta yang habis terjual hingga lonjakan omzet pedagang setempat.
Makanan Murah Penyelamat saat Pasca Perang
Kisah sukses ramyeon sendiri berakar dari masa sulit Korsel pasca-Perang Korea pada 1960-an. Saat itu negara mengalami kekurangan pangan dan pemerintah mendorong konsumsi tepung terigu bantuan militer AS sebagai alternatif beras. Dari situlah industri mie instan Korea lahir.
Samyang Foods menjadi pelopor pada 1963 dengan mengadaptasi mie instan Jepang ciptaan Momofuku Ando, lalu menyesuaikannya dengan lidah Korea yang menyukai rasa pedas dan gurih. Sang Hoon Kim masih mengingat ketika Shin Ramyun diluncurkan pada 1986 dengan harga hanya 200 won atau sekitar Rp2.300 dalam nilai saat ini.
"Saya makan banyak sekali. Saya membeli dalam kardus," kenangnya. "Paling banyak saya makan 10 bungkus sehari."
Kini, warga Korea mengonsumsi lebih dari 4 miliar porsi mie instan per tahun atau rata-rata 77 mangkuk per orang. Demam ramyeon lalu meluas ke seluruh dunia seiring gelombang budaya pop Korea.
Adegan "ram-don" dalam film Parasite hingga aksi makan mie di K-Pop Demon Hunters ikut mendorong popularitas ramen Korea secara global. Menurut kepala pemasaran global Nongshim, Jinny Seo, momen budaya pop itu menjadi katalis penting yang memperluas basis konsumen internasional mereka.
Ekspor mie instan Korea pada 2025 melonjak 22% menjadi US$1,5 miliar atau sekitar Rp26,24 triliun. Permintaan dari Eropa dan berbagai negara terus membludak hingga kapasitas produksi mulai kewalahan.
Untuk menjawab lonjakan itu, Nongshim membangun pabrik ekspor baru di Busan senilai 191,8 miliar won atau sekitar Rp2,3 triliun. Ini diproyeksikan memproduksi 500 juta bungkus ramyeon per tahun.
(sef/sef)
Addsource on Google

6 hours ago
3

















































