Kisah MSI: Perusahaan Tekstil RI, Bisa Bertahan 36 Tahun Lewati Krisis

4 hours ago 3

Nganjuk, CNBC Indonesia - PT Mitra Saruta Indonesia (MSI) telah bertahan menjadi eksportir produk tekstil selama 36 tahun berdiri, sejak 1989.

Industri padat karya di Nganjuk, Jawa Timur yang bisa mengolah limbah tekstil seberat 3.500 ton per bulan ini memiliki karyawan sebanyak 1.700 orang.

Produknya berupa berbagai olahan tekstil, dengan andalan ekspor berupa benang hingga sarung tangan berbagai rupa dan untuk berbagai tujuan.

"Setelah 2-3 tahun berdiri kita mampu ekspor pertama kita ke Jepang, sejak itu sampai hari ini kita masih ekspor ke Jepang. Jepang menjadi tujuan utama bagi produk kita sarung tangan, yang kedua adalah Amerika," kata Presiden Direktur PT Mitra Saruta Indonesia Yanto Andrian Hoo di pabrik PT MSI, dikutip Jumat (16/4/2026).

Pabrik PT SMI kini memiliki kapasitas produksi sarung tangan hingga 1,5 juta lusin sepasang per bulan, dan mesin produksi pemintalan benang berwarna seberat 3.250 ton benang per bulan, dari hasil olahan limbah tekstil.

Untuk benang, perusahaan ini telah mampu mengekspor ke 29 negara, seperti Armenia, Bangladesh, Belarus, Belgia, Bosnia, Brazil, Chili, Mesir, India, Italia, Jepang, Korea, Lithunia, Malaysia, Meksiko, Pakistan, Peru, Filipina, Polandia, Rusia, Afrika Selatan, Spanyol, Taiwan, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, Ukraina, Amerika Serikat, hingga Vietnam.

Sedangkan sarung tangan berbagai jenis mampu di ekspor ke 21 negara, terdiri dari Australia, Bahrain, Brazil, Kanada, Chili, Italia, Jepang, Kuwait, Malaysia, New Zealand, Filipina, Portugal, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, Sri Lanka, Thailand, Tunisia, Ukraina, Uni Emirat Arab, serta Amerika Serikat.

Diversifikasi negara tujuan ekspor inilah yang membuat perusahaan mampu bertahan selama 36 tahun sebagai industri padat karya pengolah limba tekstil dalam menghadapi berbagai krisis global. Termasuk krisis perdagangan dunia yang saat ini dipicu oleh konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

" Jadi sudah terbiasa katakan seperti itu. Kenapa efek daripada situasi-situasi yang kita alami sekarang ini tidak berdampak begitu signifikan? Karena market kita cukup diverse," tegas Yanto.

Selain diversifikasi pasar ekspor yang didorong oleh agresifitas pemasaran, kemampuan daya tahan industri yang Yanto klaim tak pernah merumahkan atau mengurangi karyawan atau buruh pabrik ini karena bahan baku produksi yang tak tergantung impor.

Produk tekstil yang diolah murni berasal dari limbah tekstil yang dipasok oleh pengepul ataupun UMKM lokal. Diiringi dengan memaksimalkan daya tampung stok bahan baku supaya produksi tidak pernah tersendat sedikit pun, termasuk gudang penampung produksi.

"Jadi bahan baku kita harus cukup, keuangan kita harus sehat. Stok kita, buffer stok kita itu bisa menjamin stabilitas harga yang kita berikan kepada customer kita. Customer itu happy-nya begitu. Bukan kalau ada kenaikan terus mereka yang disuruh nanggung selalu, tidak," ungkapnya.

Model bisnis ini menurut Yanto terbukti mampu mengeluarkan perusahaan dari berbagai terjangan krisis. Ia mencontohkan, saat Pandemi Covid-19 yang sempat membuat penjualan ambruk 50% selama 2-3 bulan pertama krisis, namun mampu pulih saat memasuki bulan ke empat dengan kenaikan 40%-90%.

"Pada waktu Covid-19 recovery kita itu cukup signifikan. Jadi cuman sekitar 2-3 bulan market kita itu drop cukup lumayan, 50%. Tapi setelah bulan keempat kita sudah menanjak 40-80% dan 90% itu tidak lebih dari 1 tahun. Jadi recovery rate kita terhadap risiko-risiko tersebut cukup bagus," tutur Yanto.

Dalam menjalankan bisnis, PT SMI juga mendapatkan bantuan pendanaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) alias Indonesia Eximbank. Badan Layanan Umum (BLU) yang bergerak di bawah kendali Kementerian Keuangan.

Kepala Divisi National Interest Account (NIA) dan Strategic Assignment LPEI Berlianto Wibowo mengatakan, dukungan ini mulai dari pendanaan investasi mesin hingga permodalan dalam memperluas kapasitas usaha dan target pasar luar negerinya. LPEI sudah satu dekade terakhir mendampingi bisnis PT MSI.

"Nah salah satu program yang memang ber-impact langsung ke pelaku ekspor adalah bagaimana mereka mendiversifikasi market. Kalau kondisi market sedang tidak baik-baik saja kita punya yang namanya program penugasan khusus ekspor," ucap Berlianto.

PT Mitra Saruta Indonesia merupakan debitur kelolaan Kantor Wilayah Surabaya LPEI yang memanfaatkan fasilitas Pembiayaan Kredit Modal Kerja Ekspor (KMKE) dan Kredit Investasi Ekspor (KIE).

Penyediaan kedua fasilitas ini sejalan dengan mandat LPEI sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.

Pada Pasal 3 disebutkan bahwa Pembiayaan Ekspor Nasional bertujuan untuk menunjang kebijakan Pemerintah dalam mendorong program ekspor nasional.

Selanjutnya, Pasal 5 dan Pasal 6 mengatur bahwa pembiayaan dapat diberikan dalam bentuk fasilitas pembiayaan, termasuk pembiayaan modal kerja dan/atau investasi.

Melalui fasilitas KMKE dan KIE, pelaku usaha berorientasi ekspor dapat memperoleh dukungan pembiayaan untuk memperkuat operasional dan meningkatkan kapasitas usaha. Pemanfaatan fasilitas ini mencakup antara lain pembelian bahan baku, pembangunan atau renovasi pabrik, serta refinancing untuk kebutuhan barang modal.

"Nah, di sinilah peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sebagai salah satu kepanjangan tangan dari pemerintah dalam hal memberikan support dalam pembiayaan ekspor nasional. Ini kita berikan kepada pelaku ekspor yang memang sudah siap berkembang," ujar Berlianto.

(arj/mij)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |