Krisis Migas Bikin Banyak Negara Kembali Lirik Batu Bara

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi hebat kembali membayangi kawasan Asia. Perang di Timur Tengah yang kini memasuki minggu ketiga telah melumpuhkan Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia, dan menghentikan total produksi LNG Qatar. Akibatnya, seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global lenyap dari pasar dalam sekejap.

Kondisi ini menjadi ancaman eksistensial bagi raksasa ekonomi Asia seperti Jepang, Singapura, hingga Taiwan yang menggantungkan sepertiga kelistrikan mereka pada gas.

Mengutip laporan The New York Times, putusnya pasokan Qatar memaksa perusahaan utilitas di Asia menyerbu pasar spot. Untuk menghindari kelangkaan massal, perusahaan utilitas di seluruh kawasan terpaksa berebut sisa kargo di pasar spot dengan harga yang menyentuh rekor tertinggi. Persaingan ketat ini mendorong harga ke level rekor.

Kondisi ini memperlebar jurang ekonomi antara negara kaya yang mampu membeli kargo mahal dan negara berkembang yang terancam pemadaman listrik.

Negara-negara berkembang seperti Pakistan dan Bangladesh kini berada di posisi sulit, kalah bersaing harga dengan negara kaya, yang memicu risiko pemadaman listrik bergilir.

Demi menjaga ketahanan energi, tren transisi energi di Asia tampak putar balik dan kembali melirik batu bara.

Di Thailand, pemerintah telah memerintahkan pembangkit listrik tenaga batu bara beroperasi dengan kapasitas penuh dan mengucurkan dana subsidi besar-besaran untuk meredam lonjakan harga. Langkah serupa diambil oleh Taiwan dan Korea Selatan yang mulai menghidupkan kembali pembangkit batu bara lama serta meningkatkan output energi nuklir guna mengompensasi volatilitas pasokan gas dan minyak.

Ketidakpastian ini merusak reputasi LNG yang selama ini digadang-gadang sebagai "bahan bakar transisi" yang bersih dan stabil. Analis dari Eurasia Group, Henning Gloystein, menilai bahwa Asia kini berada dalam persaingan harga penuh, di mana setiap negara yang memiliki opsi beralih ke batu bara akan segera melakukannya. Kejadian ini merupakan krisis besar kedua dalam lima tahun terakhir setelah invasi Rusia ke Ukraina, yang membuat para importir mulai meragukan keandalan ketergantungan pada gas laut.

Di tengah kekacauan pasokan Timur Tengah, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Trump mulai bergerak agresif dengan agenda "Dominasi Energi". Washington menawarkan LNG sebagai alternatif stabil, termasuk proyek masif di Alaska, untuk menggantikan ketergantungan Asia pada Rusia dan Qatar. Namun, beberapa negara seperti Pakistan mulai memilih jalan berbeda dengan mempercepat transisi ke energi surya secara masif demi melindungi diri dari ketidakstabilan pasar global yang kian tak menentu.

(fsd/fsd)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |