Mengapa IHSG Terguncang Hebat oleh MSCI? Ini Risiko-Skenario ke Depan

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami guncangan hebat pada perdagangan hari ini. Indeks komposit terpaksa terjun bebas dari level 8.975,33 hingga terpuruk ke level 8.393,51.

Penurunan tajam ini terjadi di tengah sentimen negatif global terkait pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti masalah transparansi pasar modal Indonesia.

Koreksi masif ini tidak hanya didorong oleh aksi jual panik investor ritel, namun juga kekhawatiran serius investor institusi global terhadap masa depan klasifikasi pasar modal Indonesia.

MSCI Bekukan Penyesuaian Bobot & Ancaman Turun Ke Frontier Market

Pemicu utama keruntuhan indeks hari ini adalah rilis resmi dari MSCI pada 27 Januari 2026 waktu setempat. MSCI mengumumkan telah menyelesaikan konsultasi terkait penilaian free float (saham publik) sekuritas Indonesia.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyatakan akan menerapkan pembekuan sementara terhadap perubahan indeks tertentu untuk sekuritas Indonesia, efektif segera. Langkah ini diambil karena adanya kekhawatiran signifikan dari investor global mengenai:

  1. Struktur Kepemilikan Saham: Kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham emiten.

  2. Perilaku Perdagangan Terkoordinasi: Adanya indikasi perdagangan yang terkoordinasi yang dinilai merusak pembentukan harga yang wajar.

Akibatnya, MSCI memutuskan untuk membekukan semua peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak mengimplementasikan penambahan indeks ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak melakukan migrasi kenaikan segmen, termasuk dari Small Cap ke Standard Index.

Lebih lanjut, MSCI memberikan tenggat waktu hingga Mei 2026. Jika tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia yang berpotensi berujung pada pengurangan bobot sekuritas Indonesia di Indeks MSCI Emerging Markets dan downgrade pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

MSCIFoto: MSCI

Saham Konglomerasi Bertumbangan Hingga ARB

Dampak dari pengumuman tersebut langsung menghantam saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar dan volatilitas tinggi, terutama yang terafiliasi dengan grup konglomerasi tertentu. Saham PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk, misalnya jeblok 15.00%

Sektor Energi dan Infrastruktur Pimpin Pelemahan

Aksi jual ini merata hampir di seluruh sektor, namun Sektor Energi dan Infrastruktur menjadi yang paling terpukul, sejalan dengan jatuhnya saham-saham komoditas dan energi terbarukan yang memiliki bobot besar.

Pandangan Analis: Krisis Kepercayaan Investor Global

Menanggapi fenomena ini, Maximilianus Nico Demus, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo, mengungkapkan bahwa sentimen MSCI menjadi pemberat utama pasar.

"Adanya ketidakpercayaan investor global terhadap pasar Indonesia menjadi sorotan. Kurangnya transparansi dari kepemilikan saham berpotensi membuat perdagangan terkoordinasi sehingga harga menjadi tidak wajar. Jika kita tidak segera melakukan sesuatu, investor global akan semakin meninggalkan Indonesia," ujar Nico. Ia menambahkan bahwa risiko penurunan status menjadi Frontier Market akan memperkuat alasan investor asing untuk keluar (capital outflow).

Sementara itu, Muhammad Nafan Aji Gusta S. IP, M. Si, CTA, CSA, menjelaskan bahwa secara teknikal, tren IHSG yang sebelumnya uptrend kini terpatahkan.

"Sentimen MSCI mengubah struktur pasar. Investor menuntut transparansi, terutama terkait free float. Wajar jika terjadi capital outflow ketika ada risiko downgrade ke Frontier Market karena likuiditas di pasar tersebut jauh lebih rendah," jelas Nafan.

Meski demikian, ia melihat penurunan ini sebagai peluang buy on dip bagi investor dengan cakrawala investasi jangka panjang, mengingat fundamental makroekonomi Indonesia masih relatif solid.

Risiko Lanjutan ARB dan Skenario Terburuk IHSG

Melihat data perdagangan hari ini, tekanan jual tampaknya belum akan berakhir. Mayoritas saham yang masuk dalam daftar top losers di atas adalah saham-saham yang sebelumnya menjadi penggerak utama kenaikan IHSG dalam beberapa bulan terakhir, khususnya dari grup konglomerasi Barito (BREN, BRPT, CUAN, PTRO) dan Grup Bakrie (BUMI, BRMS, DEWA).

Fakta bahwa saham-saham ini ditutup pada level Auto Rejection Bawah (ARB) dengan antrean jual yang masih menumpuk mengindikasikan potensi ARB lanjutan pada perdagangan esok hari. Investor cenderung masih akan melakukan aksi panic selling di pembukaan pasar besok untuk mengamankan aset.

CNBC Indonesia Research sebelumnya pernah mempublikasikan riset simulasi mengenai dampak valuasi saham-saham konglomerasi ini. Jika saham-saham high flying ini mengalami rebalancing agresif atau keluar dari perhitungan bobot utama IHSG akibat isu free float, valuasi IHSG berisiko tergerus dalam.

Skenario terburuk menunjukkan bahwa tanpa penopang dari saham-saham bervaluasi premium ini, IHSG memiliki potensi risiko terseret kembali ke level psikologis 7.001,59 bahkan melanjutkan ke level 6.000-an.

Pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan mencermati langkah regulator (BEI dan OJK) dalam merespons ultimatum dari MSCI ini hingga Mei 2026 mendatang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |