Negara Teluk "Hujan Rudal" Usai Presiden Iran Minta Maaf, Kenapa?

4 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang melibatkan Iran kini semakin meluas ke kawasan Teluk. Serangan rudal dan drone kembali dilaporkan menghantam sejumlah negara pada Sabtu (7/3/2026), ketika perang memasuki pekan kedua dan ketegangan regional meningkat tajam.

Ledakan keras terdengar di beberapa kota utama kawasan, termasuk Dubai di Uni Emirat Arab (UEA), Doha di Qatar, serta Manama di Bahrain. Serangan juga dilaporkan terjadi di Arab Saudi dan Kuwait.

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, perusahaan minyak nasional Kuwait bahkan mengumumkan pengurangan produksi secara sebagai langkah pencegahan.

Serangan terbaru ini terjadi tak lama setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk atas serangan sebelumnya. Ia sempat menyatakan bahwa Iran tidak akan lagi menargetkan wilayah negara-negara tersebut kecuali jika serangan terhadap Iran diluncurkan dari wilayah mereka.

Namun beberapa jam kemudian, Iran justru menyatakan akan tetap melanjutkan serangan terhadap lokasi di negara-negara Teluk yang dianggap mendukung musuh.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa operasi tersebut akan terus dilakukan terhadap fasilitas yang dianggap digunakan oleh pihak lawan.

UEA Sebut Berada dalam "Periode Perang"

Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan menyampaikan pernyataan langka melalui siaran televisi, menegaskan bahwa negaranya kini berada dalam situasi perang.

Ia mengatakan Uni Emirat Arab sedang melewati masa yang sangat sulit, tetapi menyatakan keyakinannya bahwa negara itu akan mampu melewatinya.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan UEA berada dalam "periode perang" dan bahwa negaranya "akan muncul lebih kuat" dari situasi tersebut.

Di Dubai, otoritas setempat melaporkan satu orang tewas akibat serpihan dari proses pencegatan serangan udara. Korban disebut merupakan warga negara Pakistan.

Sebelumnya pada hari yang sama, bandara utama Dubai, yang merupakan bandara tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional, sempat ditutup setelah otoritas melaporkan adanya objek tak dikenal yang dicegat di dekat area tersebut.

Seorang saksi mata mengatakan kepada AFP bahwa ia mendengar ledakan keras di sekitar kawasan bandara yang diikuti dengan munculnya kepulan asap.

Rekaman video yang telah diverifikasi AFP juga menangkap suara drone yang diikuti ledakan keras dan kepulan asap di dekat area terminal bandara.

Pemerintah kemudian menjelaskan bahwa telah terjadi "insiden kecil yang diakibatkan oleh jatuhnya puing-puing setelah pencegatan", tanpa secara langsung menyebut lokasi bandara. Pemerintah juga menyatakan tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.

Situs pelacak penerbangan Flightradar24 sebelumnya menunjukkan sejumlah pesawat berputar-putar di udara di atas bandara Dubai, tampaknya menunggu instruksi pendaratan.

Maskapai Emirates, maskapai terbesar di Timur Tengah, sempat mengumumkan penghentian seluruh penerbangan menuju dan dari Dubai dalam pernyataan di platform X. Namun pengumuman tersebut kemudian dihapus, dan maskapai menyatakan operasi penerbangan telah kembali berjalan.

Adapun UEA sejauh ini menjadi negara Teluk yang paling sering menjadi target serangan dalam perang yang sedang berlangsung.

Kementerian Pertahanan UEA mengatakan bahwa dari 16 rudal balistik yang ditembakkan ke negara itu pada Sabtu, semuanya berhasil dicegat kecuali satu yang jatuh ke laut.

Dari 121 drone yang terdeteksi, sebanyak 119 berhasil ditembak jatuh, sementara dua lainnya jatuh di wilayah UEA.

Secara keseluruhan, kementerian tersebut menyebutkan bahwa sejak perang dimulai pada Sabtu pekan lalu, UEA telah mendeteksi 221 rudal balistik yang ditembakkan ke wilayahnya. Jumlah drone yang terdeteksi bahkan telah melampaui 1.300 unit.

Serangan ke Negara Teluk Lain

Serangan Iran tidak hanya menyasar UEA. Di berbagai negara Teluk lainnya, otoritas juga melaporkan pencegatan rudal dan drone.

Kementerian pertahanan Qatar mengatakan militernya berhasil mencegat dua serangan rudal yang menargetkan wilayah negara tersebut.

Kuwait melaporkan telah mencegat tujuh drone sejak fajar pada Sabtu. Pemerintah menyatakan bahwa serangan tersebut hanya menyebabkan kerusakan material akibat jatuhnya serpihan.

Bahrain juga melaporkan telah mencegat 92 rudal dan 151 drone sejak dimulainya apa yang mereka sebut sebagai "agresi brutal Iran."

Pangkalan Militer di Arab Saudi Jadi Sasaran

Di Arab Saudi, kementerian pertahanan menyatakan telah menghancurkan tiga rudal balistik yang mengarah ke Pangkalan Udara Prince Sultan. Pangkalan tersebut diketahui menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat.

Selain itu, militer Saudi juga menembak jatuh 17 drone yang terbang di atas ladang minyak Shaybah di wilayah tenggara negara tersebut.

Kuwait juga melaporkan keberhasilan mencegat sebuah drone, sementara perusahaan minyak nasional negara itu mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah sebagai langkah pencegahan.

Langkah tersebut diambil karena meningkatnya serangan Iran dan ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi titik transit utama ekspor energi dari kawasan Teluk.

Iran Dituduh Serang Yordania

Ketegangan tidak hanya dirasakan negara-negara Teluk. Di bagian utara kawasan, Yordania juga menuduh Iran secara langsung menargetkan wilayahnya.

Militer Yordania menyatakan bahwa Iran telah menembakkan 119 rudal dan drone ke wilayah kerajaan tersebut dalam sepekan terakhir.

Juru bicara militer Brigadir Jenderal Mustafa Hayari mengatakan serangan itu tidak sekadar melintas di wilayah Yordania.

"Rudal dan drone ini menargetkan instalasi vital di dalam Yordania dan tidak melewati wilayah kami." kata Hayari.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |