Pasien BPJS Dihujat dan Meninggal, Rumah Sakit Harus Diaudit!

3 hours ago 2

loading...

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Slamet Budiarto. Foto: SindoNews TV

JAKARTA - Kasus seorang pasien BPJS Kesehatan Yurizal Tri Chaerawan yang di-bully sejumlah tenaga kesehatan (nakes) dan dokter di media sosial karena mengeluhkan soal pelayanan di sebuah rumah sakit menyedot perhatian banyak pihak. Sebab, Yurizal dalam utas di media sosial Threads @yurizaltrich mengungkapkan telah menunggu selama delapan jam namun tak kunjung mendapat kamar untuk rawat inap.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Slamet Budiarto, ada persoalan yang mendasar yang melandasi semua persoalan ini. “Masalah pertama adalah pernyataan dokter atau tenaga kesehatan yang menurut kami tidak sesuai dengan kode etik dan sumpah dokter. Itu masalah pertama,” kata Slamet dalam program SINDO FILES dikutip Senin (10/8/2026).

Dia mengungkapkan, IDI akan menindaklanjuti terkait pernyataan sejumlah nakes di medsos tersebut. “Harusnya seorang dokter itu berempati pada pasiennya, maupun bukan pada pasiennya atau pasiennya dokter lain itu harus berempati. Tata cara bermetsos juga sudah ada,” tuturnya.

Baca juga: Puan Maharani: Tenaga Kesehatan Harus Berempati, Termasuk kepada Pasien BPJS

Bahkan, kata dia, seorang dokter itu harus menghormati pasien mulai dari pembuahan sampai meninggal dan rahasia kedokterannya juga harus dijaga sampai setelah meninggal. “Yang kedua, ada persoalan lain yang lebih besar. Pasien ini terlantar 8 jam terus sekarang meninggal. Di rumah sakit mana saya juga tidak tahu,” katanya.

Menurut dia, dua masalah pokok tersebut harus dibuka. “Jangan-jangan di rumah sakit lain juga ada hal yang sama. Apakah ada diskriminasi pasien BPJS atau tidak? Nah, kalau ini pasien emergensi, kenapa tidak langsung ditangani? Harus membutuhkan waktu 8 jam. Saya kira ini rumah sakit harus diaudit oleh Kementerian Kesehatan,” katanya.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |