Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Iran dengan Israel bersama Amerika Serikat (AS) masih memanas. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global terutama karena dampaknya terhadap Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Sekitar 20% konsumsi minyak global melewati selat sempit tersebut, termasuk Indonesia.
Sejumlah produsen di Timur Tengah juga mulai menekan produksi. Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, mengumumkan pemangkasan produksi dan output kilang sebagai langkah pencegahan setelah Iran mengancam keamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Gangguan pasokan juga datang dari Irak. Tiga pejabat industri mengatakan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan Irak turun sekitar 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Sebelum konflik memanas, ladang-ladang tersebut memproduksi sekitar 4,3 juta barel per hari.
Bagaimana dengan Indonesia?
Merespons hal tersebut, Anggota Unsur Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman berharap konflik yang terjadi tidak berlangsung lama dan kondisi geopolitik dapat segera stabil. "Pertama-tama, kita berharap kondisi perang segera berakhir," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Senin (9/3/2026).
Saleh lantas mendorong pengawasan terhadap penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Ia meminta PT Pertamina (Persero) untuk memperketat penerapan digitalisasi melalui sistem QR Code agar penyaluran subsidi semakin tepat sasaran.
Selain itu, ia menegaskan bahwa kondisi stok energi nasional saat ini masih dalam kondisi aman. Hal ini sebelumnya juga telah disampaikan oleh Ketua Harian DEN dalam Sidang Anggota DEN beberapa waktu lalu. "DEN terus memantau dinamika kondisi energi kita dan juga global untuk antisipasi berbagai kemungkinan demi menjaga ketahanan energi kita," katanya.
Oleh sebab itu, ia pun mengimbau masyarakat untuk mulai beralih menggunakan transportasi publik sebagai upaya menghemat konsumsi energi sekaligus mendukung efisiensi penggunaan BBM.
"Kita juga terus menghimbau agar masyarakat menggunakan transportasi publik dan pelayanan transportasi publik kita juga semakin baik, lebih aman, lebih nyaman," kata Saleh.
Sebagaimana diketahui, perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah menunjukkan eskalasi yang semakin luas, dengan serangan lintas negara, korban jiwa bertambah, hingga lonjakan harga minyak dunia.
Ketegangan antara Iran, Israel, dan sekutunya kini berdampak langsung pada sejumlah negara di kawasan serta memicu reaksi internasional.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

5 hours ago
5
















































