PBB Mulai Bergerak, Serangan AS Bom SD Iran Bakal Ditindak

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Volker Türk mendesak dilakukan penyelidikan cepat atas serangan mematikan yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran selatan. Desakan ini muncul setelah sebuah investigasi media menyebutkan bahwa serangan tersebut kemungkinan besar dilakukan oleh militer Amerika Serikat.

Serangan itu terjadi pada hari pertama perang, Sabtu pekan lalu, ketika sebuah sekolah dasar di kota Minab dilaporkan terkena serangan udara. Pejabat Iran menyebutkan sedikitnya 150 orang tewas dalam insiden tersebut.

Türk mengecam keras peristiwa itu dan menyebutnya sebagai tragedi besar. Ia menegaskan bahwa penyelidikan harus dilakukan dengan cepat dan terbuka.

"Ini adalah insiden yang benar-benar tragis. Saya berharap investigasi dilakukan dengan segera dan secara penuh transparan," ujar Türk kepada wartawan di Geneva, Swiss dilansir dari AFP.

Ia juga menegaskan pentingnya pertanggungjawaban atas insiden tersebut.

"Kami juga berharap ada akuntabilitas, karena jelas kesalahan telah terjadi," katanya.

Hingga kini baik Israel maupun Amerika Serikat belum secara resmi mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Lokasi sekolah yang terkena serangan berada tidak jauh dari sejumlah fasilitas yang dikuasai oleh Islamic Revolutionary Guard Corps.

Departemen Pertahanan AS sendiri menyatakan sedang melakukan investigasi terkait insiden itu.

Laporan investigasi yang dipublikasikan oleh The New York Times pada Kamis menyebut pernyataan militer AS mengenai operasi serangan terhadap target angkatan laut di sekitar Selat Hormuz mengindikasikan bahwa pasukan AS kemungkinan besar berada di balik serangan tersebut.

Analisis terhadap unggahan media sosial pada saat kejadian, serta foto dan video dari para saksi, menunjukkan bahwa sekolah Shajare Tayyebeh School terkena serangan pada waktu yang sama dengan target pangkalan angkatan laut IRGC di wilayah tersebut.

Dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya juga mengatakan kepada Reuters bahwa penyelidik militer "meyakini kemungkinan besar" pasukan AS bertanggung jawab atas serangan itu.

AFP menyatakan belum dapat mengakses langsung lokasi kejadian untuk memverifikasi secara independen jumlah korban maupun kronologi peristiwa.

Kepala perwira militer tertinggi AS, Dan Caine, sebelumnya menyampaikan bahwa Amerika Serikat memang tengah melakukan serangan di wilayah Iran selatan pada waktu yang sama.

Menurut laporan The New York Times, Caine bahkan menunjukkan sebuah peta yang menggambarkan area yang mencakup Minab sebagai bagian dari wilayah yang menjadi target serangan dalam 100 jam pertama operasi militer tersebut.

Kota Minab sendiri berada sekitar 25 kilometer dari Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia.

Caine juga menyebut bahwa operasi militer Israel lebih banyak berlangsung di wilayah Iran bagian utara.

Türk menyambut baik pernyataan pemerintah AS yang menyatakan akan melakukan penyelidikan. Namun ia menegaskan bahwa proses tersebut harus dilakukan dengan cepat.

"Kami membutuhkan hal ini dilakukan dengan sangat cepat, dan kami juga harus memastikan ada akuntabilitas serta pemulihan bagi para korban," ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya kekhawatiran serius terkait kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional dalam konflik yang sedang berlangsung.

"Ada kekhawatiran signifikan terkait penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, terutama terkait cara operasi militer dilakukan, termasuk langkah-langkah kehati-hatian, prinsip pembedaan target, serta proporsionalitas," kata Türk.

Ia menegaskan bahwa sekolah merupakan institusi sipil yang seharusnya tidak pernah menjadi sasaran serangan.

"Ketika yang terkena serangan adalah sebuah sekolah, itu jelas merupakan institusi sipil yang seharusnya tidak pernah diserang," ujarnya.

Selain itu, menurutnya masih ada pertanyaan mengenai jenis senjata yang digunakan serta waktu terjadinya serangan.

"Serangan itu terjadi pada pagi hari, saat anak-anak kemungkinan besar sedang berada di sekolah. Faktor-faktor ini harus dipertimbangkan," tambahnya.

Kelompok pemantau HAM berbasis di Norwegia, Hengaw Organization for Human Rights, melaporkan bahwa sekolah tersebut sedang menjalankan sesi belajar pagi ketika serangan terjadi dan diperkirakan sekitar 170 siswa berada di lokasi.

Türk mengatakan tragedi tersebut menyimpan pelajaran pahit bagi komunitas internasional.

"Ada pelajaran yang sangat mengerikan dan tragis ketika anak-anak perempuan terbunuh dengan cara seperti ini," katanya.

Ia berharap insiden tersebut tidak hanya diikuti jaminan agar kejadian serupa tidak terulang, tetapi juga evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasi militer yang berlaku.

"Saya berharap tidak hanya ada jaminan bahwa hal ini tidak akan terulang, tetapi juga dilakukan peninjauan terhadap seluruh prosedur operasi standar yang berkaitan dengan situasi seperti ini," ujarnya.

Türk menegaskan tanggung jawab penyelidikan kini berada pada pihak yang melakukan serangan tersebut.

"Beban tanggung jawab sekarang benar-benar ada pada pihak yang melakukan serangan ini untuk melakukan penyelidikan seperti itu," kata dia.

"Kami berharap akuntabilitas benar-benar ditegakkan." lanjutnya.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |