Jakarta, CNBC Indonesia - Perang hukum antara Elon Musk dan CEO OpenAI Sam Altman memasuki babak baru. Sidang antara kedua 'raja' ini akan membuka dokumen internal berupa buku harian pribadi seorang eksekutif.
Persidangan di pengadilan federal Oakland, California, telah memulai proses pemilihan juri. Kasus ini bukan sekadar sengketa bisnis, tetapi berpotensi menentukan masa depan OpenAI, chatbot ChatGPT, bahkan arah perkembangan kecerdasan buatan secara keseluruhan.
Salah satu bukti datang dari buku harian Presiden OpenAI Greg Brockman tahun 2017. Dalam catatan itu ia menulis, "Ini satu-satunya kesempatan yang kita punya untuk keluar dari Elon." Ia juga mempertanyakan kepemimpinan Musk dengan kalimat, "Apakah dia 'pemimpin agung' yang akan saya pilih?".
Dokumen tersebut menjadi bagian dari ribuan halaman bukti yang terungkap setelah Musk menggugat OpenAI, Sam Altman, dan Microsoft pada 2024. Musk menuntut ganti rugi hingga US$150 miliar dan menuduh OpenAI mengkhianati misi awalnya sebagai organisasi nirlaba demi keuntungan.
Musk mengklaim dirinya ditipu untuk mendanai OpenAI. Ia menyebut Altman dan Brockman menyimpang dari tujuan awal membantu kemanusiaan dan justru membangun "mesin kekayaan" untuk kepentingan mereka.
Ia juga menuntut OpenAI kembali menjadi organisasi nirlaba, mencopot Altman dan Brockman dari jabatan eksekutif, serta mengeluarkan Altman dari dewan direksi.
Namun OpenAI membalas keras. Perusahaan menyebut gugatan Musk hanya upaya cemburu untuk menghambat pesaing sekaligus mengangkat perusahaan AI miliknya sendiri, xAI.
"Gugatan ini sejak awal merupakan upaya tanpa dasar dan didorong kecemburuan untuk mengganggu pesaing," kata OpenAI dalam unggahan di X, dikutip dari Reuters, Selasa (28/4/2026).
Musk langsung membantah tudingan tersebut. "Saya yang memulainya, mendanainya, merekrut talenta penting dan mengajarkan semua yang saya tahu tentang bagaimana membuat startup sukses DEMI KEBAIKAN PUBLIK. Lalu mereka mencuri badan amal itu," tulisnya.
Dokumen pengadilan juga mengungkap konflik lama antara kedua kubu. Pada 2015, Altman mengajak Musk membangun OpenAI dengan konsep "Proyek Manhattan untuk AI" demi menandingi Google. Keterlibatan Musk kemudian membantu OpenAI merekrut peneliti top.
Namun hubungan memburuk pada 2017 ketika Musk mempertanyakan kelayakan bisnis OpenAI dan disebut ingin menjadi CEO. Hal ini memicu ketegangan internal.
Dalam catatan pribadinya, Brockman bahkan menulis soal ambisi finansial. "Secara finansial, apa yang bisa membawa saya ke US$1 miliar?" tulisnya. Ia juga mencatat, "Menerima syarat Elon menghancurkan dua hal: kemampuan kita untuk memilih dan ekonomi."
Musk akhirnya mundur dari dewan pada 2018. Setahun kemudian, OpenAI mengubah struktur menjadi entitas berorientasi laba, yang kini menjadi inti sengketa.
Kasus ini juga menyeret Microsoft sebagai investor besar OpenAI. CEO Microsoft Satya Nadella, Musk, dan Altman diperkirakan akan bersaksi dalam persidangan.
Sidang ini muncul di tengah ambisi besar OpenAI menuju IPO dengan valuasi yang bisa menyentuh US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan AI Musk, xAI, masih tertinggal dalam penggunaan dan kini digabung ke dalam SpaceX.
(fab/fab)
Addsource on Google

5 hours ago
2
















































