Perundingan AS-Iran Buntu, Waktunya China Beraksi

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - China disebut semakin dilirik untuk memainkan peran lebih besar dalam meredakan konflik nuklir Iran. Hal ini terjadi di tengah mandeknya perundingan antara Teheran dan Amerika Serikat (AS).

Seorang filantropis sekaligus pengusaha yang dekat dengan negosiator Iran, Mohamed Amersi, mengungkapkan bahwa Teheran berharap Beijing dapat menjadi mediator utama, bahkan hingga mengambil alih uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.

"Iran benar-benar menginginkan China," kata Amersi, seperti dikutip dari Newsweek, Selasa (28/4/2026). "Jika China ingin dihormati sebagai kekuatan global yang sedang naik, mereka harus bertindak. Mereka perlu menyampaikan kebenaran kepada Iran, lalu berbicara dengan AS dari posisi saling percaya."

Meski gencatan senjata telah tercapai dalam konflik yang mengguncang ekonomi global akibat gangguan ekspor minyak Timur Tengah, negosiasi antara AS dan Iran masih buntu. Kedua pihak bertahan pada tuntutan masing-masing.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menekan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium, membatasi program rudal, dan menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi. Sebaliknya, Iran menuntut kompensasi atas serangan militer AS dan Israel sejak perang pecah pada 28 Februari.

Di tengah kebuntuan tersebut, China disebut telah berperan di balik layar dalam mendorong tercapainya gencatan senjata. Hal ini dinilai meningkatkan posisi diplomatik Beijing dalam persaingannya dengan Washington.

Amersi menilai China berpotensi menjadi kunci solusi, termasuk dengan mengambil alih uranium Iran yang telah diperkaya tinggi, di mana langkah ini dapat mengurangi risiko pengembangan senjata nuklir.

Selain itu, China juga dapat menawarkan kerangka kerja baru terkait program nuklir Iran, sekaligus mengaitkan investasi yang sangat dibutuhkan Teheran dengan upaya de-eskalasi konflik.

Langkah tersebut berpotensi menjadi agenda penting dalam pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping yang direncanakan berlangsung pada Mei mendatang.

Pendiri Center for China and Globalization, Henry Huiyao Wang, menilai peluang China sebagai mediator cukup besar jika kedua pihak sama-sama ingin meredakan ketegangan.

"Jika AS dan Iran sama-sama ingin de-eskalasi, China bisa dengan mudah menjadi pihak ketiga untuk menengahi," ujarnya.

Namun, peran China tidak tanpa risiko. Akademisi Universitas Bahasa dan Budaya Beijing, Shou Huisheng, menilai Beijing akan berhitung matang agar tidak merusak hubungan strategisnya dengan AS.

"AS tetap lebih penting bagi China. Prioritas utama adalah menjaga hubungan agar tidak terjadi konflik besar," jelasnya.

Di sisi lain, konflik Iran juga berdampak pada kepentingan energi China. Meski menjadi pembeli utama minyak Iran, Beijing dinilai masih memiliki sumber pasokan alternatif serta cadangan energi yang cukup, ditambah percepatan adopsi kendaraan listrik di dalam negeri.

Dengan dinamika tersebut, isu Iran diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama dalam pertemuan puncak Trump dan Xi. Selain itu, kedua negara juga akan membahas isu lain seperti konflik Ukraina, Taiwan, hingga ketegangan perdagangan dan teknologi.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |