Perang Iran Guncang Dubai, Orang Kaya Ramai-Ramai Angkat Kaki

5 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran mulai mengguncang posisi Dubai, kota di Uni Emirat Arab (UEA) sebagai pusat kekayaan global. Kota yang selama satu dekade terakhir menjadi magnet bagi miliarder dan investor dunia kini menghadapi gelombang keberangkatan ekspatriat kaya yang khawatir dengan situasi keamanan di kawasan.

Data dari Henley & Partners menunjukkan populasi jutawan di kota itu telah meningkat dua kali lipat sejak 2014 menjadi lebih dari 81.000 orang. Dubai juga menjadi rumah bagi sekitar 237 centimillionaires, individu dengan kekayaan lebih dari US$100 juta (Rp 1,68 triliun), serta sedikitnya 20 miliarder.

Pada 2025 saja, sekitar 9.800 jutawan pindah ke Dubai dengan membawa kekayaan gabungan sekitar US$63 miliar. Ini menjadikannya salah satu tujuan utama migrasi orang kaya di dunia.

Namun, selama seminggu terakhir, Hotel Fairmont The Palm bintang lima Dubai, yang terletak di kepulauan buatan berbentuk pohon palem yang terkenal, dihantam oleh ledakan. Puing-puing dari drone Iran yang jatuh membakar hotel Burj Al Arab, dengan bandara Dubai rusak akibat serangan rudal.

Konsulat AS di Dubai juga menjadi sasaran drone. Perang disebut telah menghancurkan ketentraman di sana.

"Perang AS-Israel terhadap Iran mengacaukan aura keamanan yang sangat penting di Dubai," kata seorang peneliti di Baker Institute Universitas Rice, Jim Krane, dikutip CNBC International, Minggu (8/3/2026).

"Model ekonomi Dubai didasarkan pada penduduk ekspatriat yang menyediakan kecerdasan, tenaga kerja, dan modal investasi. Anda membutuhkan stabilitas dan keamanan untuk menarik orang asing yang cerdas," katanya.

Sebenarnya petinggi Dubai dan UEA berupaya meyakinkan investor. Otoritas Manajemen Krisis dan Bencana Darurat Nasional UEA mengumumkan pada hari Sabtu, bahwa situasinya "terkendali".

Kepolisian Dubai pekan ini mengancam akan menangkap dan memenjarakan influencer media sosial yang membagikan konten sosial yang "bertentangan dengan pengumuman resmi atau yang dapat menyebabkan kepanikan sosial". Namun ini tak dapat menghentikan orang-orang kaya keluar dari sana.

Permintaan Pesawat Pribadi Meningkat

Sejak serangan udara AS dan Israel membombardir Iran, 28 Februari, dan dibalas dengan serangan drone oleh Teheran ke Israel dan pangkalan militer Amerika di Arab termasuk yang ada di UEA, perusahaan penyewaan pesawat melaporkan bahwa permintaan jet pribadi jauh melebihi ketersediaan kursi dan penerbangan.

CEO Vimana Private Jets, Ameerh Naran, mengatakan bahwa broker tersebut menerima lebih dari 100 pertanyaan klien dalam semalam. Dia mengatakan belum pernah melihat permintaan seperti itu sejak pandemi.

"Jet dari Riyadh ke Eropa dapat berharga hingga US$350.000," katanya.

"Mereka tidak merasa tidak aman," katanya.

"Hidup hampir normal, hanya ada sedikit kebisingan tambahan di latar belakang dengan semua rudal ini. Tapi hidup harus terus berjalan. Mereka perlu bepergian."

Mirip Ukraina

Dale Buckner, CEO perusahaan keamanan Global Guardian dan mantan anggota Pasukan Khusus Green Beret, mengatakan eksodus tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Pada Selasa pagi, kata Buckner, perusahaan tersebut telah memiliki tujuh klien korporat termasuk perusahaan keuangan dan konsultan besar yang ingin mengevakuasi 1.000 hingga 3.000 karyawan.

"Ini sangat mirip dengan Ukraina," katanya.

"Saya pikir semua orang telah menyadari bahwa Iran berhasil menargetkan hotel bintang lima dan bandara dalam skala besar, dan sekarang mereka mulai menutup infrastruktur minyak," tambahnya.

"Saya tidak percaya ada yang mengira itu mungkin terjadi.

Properti Bisa Terguncang

Konflik geopolitik juga berpotensi menekan pasar properti mewah Dubai yang sebelumnya melonjak tajam selama lima tahun terakhir. Program Golden Visa yang memberikan izin tinggal 10 tahun bagi pembeli properti minimal sekitar US$550.000 telah mendorong lonjakan transaksi real estat.

Namun lembaga pemeringkat Fitch Ratings sebelumnya sudah memperingatkan kemungkinan koreksi harga properti pada 2025 hingga 2026. Analis Fitch menyebut keluarnya ekspatriat akibat konflik dapat menambah tekanan pada pasar perumahan Dubai, terutama jika ketegangan geopolitik berlangsung lama.

Meski demikian, banyak investor menilai daya tarik Dubai belum sepenuhnya hilang. Sistem pajak yang rendah, regulasi bisnis yang ramah investor, dan sektor keuangan yang stabil masih menjadi alasan utama kalangan kaya dunia menempatkan aset mereka di kota tersebut.

(sef/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |