Perang Iran Makan Korban Baru: Petani!

9 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

06 March 2026 17:20

Jakarta, CNBC Indonesia- Konflik yang memanas di Timur Tengah mulai mengguncang rantai pasok pupuk global. Dampaknya merambat dari Asia Selatan hingga Amerika Utara tepat ketika musim tanam di belahan bumi utara dimulai.

Gangguan energi, jalur pelayaran yang terhambat, serta penutupan sejumlah fasilitas produksi membuat harga pupuk melonjak dan meningkatkan risiko krisis pasokan bagi sektor pertanian dunia.

Tekanan pertama terlihat di Bangladesh. Melansir Reuters, pemerintah negara itu menutup empat dari lima pabrik pupuk akibat kekurangan gas yang semakin parah. Beberapa fasilitas milik negara, termasuk Chittagong Urea Fertilizer Limited (CUFL) dan Karnaphuli Fertilizer Company Limited (Kafco), menghentikan produksi setelah pasokan gas menyusut drastis. Sebelum penutupan, kedua pabrik tersebut menerima sekitar 70-80 juta kaki kubik gas per hari.

CUFL sendiri memiliki kapasitas produksi sekitar 1.100 ton urea dan 800 ton amonia per hari, dengan kebutuhan gas 48-52 juta kaki kubik untuk beroperasi penuh.

Krisis energi ini berkaitan langsung dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Produksi LNG Qatar sempat terhenti, sementara ketegangan yang melibatkan Iran mengganggu pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz.

Jalur laut selebar sekitar 39 kilometer itu merupakan salah satu titik sempit perdagangan energi dunia. Banyak negara yang bergantung pada impor LNG, termasuk Bangladesh, mulai merasakan dampaknya. Pemerintah setempat bahkan sudah mengajukan tender untuk dua kargo LNG yang dijadwalkan tiba pada pertengahan Maret 2026 guna menutup kekurangan pasokan.

Implikasi Bagi Pasar Pupuk Global

Gangguan di Selat Hormuz memiliki implikasi besar bagi pasar pupuk global. The Globe and mail menyampaikan, sekitar 30% perdagangan urea dunia melewati jalur ini.

Selain itu, sekitar sepertiga ekspor LNG global dan 20% perdagangan amonia juga melintas di kawasan tersebut. Jalur yang sama turut mengangkut sekitar 22% ekspor pupuk fosfat jadi serta 45% perdagangan sulfur, bahan baku penting untuk produksi fosfat. Setiap hambatan di rute ini langsung memengaruhi produksi maupun distribusi pupuk di berbagai wilayah.

Pasar pupuk pun mulai bereaksi. Harga urea tercatat naik sekitar 27%, amonia meningkat 16%, fosfat naik 6%, dan sulfur bertambah 7%.

Di beberapa pasar impor Amerika Serikat, harga pupuk melonjak dari sekitar US$516 per ton menjadi sekitar US$683 per ton dalam waktu singkat. Kenaikan ini terjadi saat petani bersiap memasuki musim tanam musim semi, periode ketika kebutuhan pupuk biasanya mencapai puncak.

Ketegangan geopolitik juga menekan sisi produksi. Iran menyumbang sekitar 10-12% ekspor urea dunia. Israel memasok gas alam ke Mesir, negara yang memproduksi hampir 10% urea global.

Ketika keadaan darurat diumumkan di Israel, ladang gas biasanya dihentikan operasinya sehingga pasokan ke Mesir ikut terganggu. Pada saat yang sama, fasilitas produksi urea besar di Qatar ikut terdampak setelah pasokan gas ke pabrik terputus.

Gangguan tersebut mempersempit pasokan pupuk yang sebelumnya memang sudah ketat. Eropa mengurangi produksi setelah kehilangan gas murah dari Rusia. China membatasi ekspor pupuk untuk menjaga ketersediaan domestik. Di tengah kondisi ini, konflik baru di Timur Tengah memperburuk situasi karena banyak produsen besar pupuk nitrogen dan fosfat berada di kawasan Teluk.

Kenaikan harga pupuk datang ketika harga komoditas pertanian utama sedang lemah. Jagung, kedelai, gandum, dan kanola menghadapi tekanan harga setelah panen besar pada 2025. Kondisi ini mempersempit margin petani. Di Amerika Serikat, kebangkrutan petani pada 2025 tercatat 46% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Tekanan biaya produksi, terutama pupuk, menjadi salah satu faktor utama.

Sebagian petani mulai menyesuaikan strategi produksi. Nitrogen merupakan nutrisi utama tanaman dan sulit digantikan sehingga tetap harus dibeli. Pengurangan pembelian lebih mungkin terjadi pada pupuk lain seperti potash.

Kanada memproduksi lebih dari 30% potash dunia melalui sekitar 10 tambang di Saskatchewan. Namun permintaan dapat melemah karena petani memprioritaskan anggaran untuk pupuk nitrogen yang lebih krusial bagi hasil panen.

Jika harga pupuk terus meningkat, dampaknya berpotensi merambat ke produksi pangan global. Petani bisa mengurangi dosis pupuk atau mengganti jenis tanaman yang lebih hemat nutrisi.

Tanah yang kekurangan unsur hara secara bertahap akan kehilangan produktivitasnya. Penurunan kesuburan tanah pada akhirnya menekan hasil panen dan mempersempit pasokan pangan.

Risiko ini membuat krisis pupuk berpotensi menjadi isu global. Asia termasuk wilayah paling rentan karena ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku. India mengimpor sekitar 40% kebutuhan urea dan pupuk fosfat dari Timur Tengah, sementara Indonesia bergantung pada kawasan tersebut untuk sekitar 70% pasokan sulfur. Jika gangguan di jalur energi dan logistik berlanjut, tekanan terhadap biaya produksi pangan di Asia bisa meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |