Peta IPO ASEAN: Duit Lari ke Singapura, Emiten Membludak di Malaysia

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja pasar penawaran umum perdana saham (IPO) di kawasan Asia Tenggara mencatatkan pemulihan yang signifikan sepanjang 2025.

Laporan terbaru dari Deloitte bertajuk "Southeast Asia IPO Capital Market 2025 Full Year Report" mengungkapkan bahwa pasar modal di kawasan ini berhasil menarik kembali minat investor untuk transaksi bernilai besar, meskipun jumlah perusahaan yang melantai mengalami penurunan.

Secara keseluruhan, pasar modal di enam negara utama Asia Tenggara mencatatkan total 120 IPO dengan nilai penggalangan dana mencapai US$ 6,5 miliar. Angka ini mencerminkan kenaikan nilai sebesar 76% dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat US$ 3,7 miliar.

Kenaikan ini terjadi di tengah penurunan volume jumlah perusahaan yang melakukan IPO, dari 136 perusahaan pada tahun sebelumnya menjadi 120 perusahaan pada tahun 2025.

Kenaikan nilai dana di tengah penurunan jumlah emiten ini didorong oleh tren pasar yang beralih ke kualitas dibandingkan kuantitas. Rata-rata nilai kesepakatan IPO tercatat naik dua kali lipat, dari sekitar US$ 27 juta pada tahun 2024 menjadi US$ 54 juta pada tahun 2025. Hal ini didukung oleh kemunculan sejumlah perusahaan besar yang melakukan pencatatan saham atau dikenal dengan istilah "blockbuster IPO".

Singapura Pimpin Nilai Dana, Malaysia Juara Volume Transaksi

Dinamika pasar di setiap negara Asia Tenggara menunjukkan tren yang bervariasi. Singapura kembali mengambil alih posisi sebagai pemimpin pasar dalam hal nilai dana yang dihimpun.

Bursa Singapura (SGX) berhasil mengumpulkan total dana sebesar US$ 2,0 miliar dari 13 IPO. Pencapaian ini merupakan lonjakan tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat US$ 34 juta.

Kebangkitan pasar Singapura ini terutama didorong oleh pencatatan saham dua perusahaan Real Estate Investment Trust (REIT) berskala besar yang menyumbang mayoritas dari total dana.

Sementara itu, Malaysia menjadi pasar yang paling aktif dari sisi jumlah perusahaan. Bursa Malaysia mencatatkan 59 IPO baru, yang merupakan angka tertinggi sejak tahun 2006.

Total dana yang dihimpun mencapai US$ 1,4 miliar. Aktivitas tinggi di Malaysia didominasi oleh perusahaan-perusahaan yang melantai di Pasar ACE, yang menunjukkan tingginya minat investor terhadap perusahaan-perusahaan berkembang dengan fundamental yang baik.

Sebaliknya, pasar modal Thailand menghadapi tantangan berat. Total dana yang dihimpun turun drastis sebesar 54% menjadi US$ 374 juta dari 18 IPO. Penurunan ini dipengaruhi oleh sentimen negatif akibat ketidakpastian politik dalam negeri serta tingginya tingkat utang rumah tangga yang membebani prospek ekonomi.

Kinerja Positif Pasar Modal Indonesia

Indonesia menempati posisi ketiga di kawasan ini dalam hal total nilai dana IPO. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan 26 perusahaan baru dengan total dana yang dihimpun sebesar US$ 1,1 miliar.

Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 22% dibandingkan tahun 2024. Sektor Energi dan Sumber Daya Alam menjadi motor penggerak utama aktivitas IPO di Indonesia, didorong oleh tingginya permintaan terhadap perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan mineral dan energi terbarukan.

Beberapa emiten yang mencatatkan nilai IPO terbesar di Indonesia pada tahun 2025 meliputi:

  • PT Merdeka Gold Resources Tbk (Sektor Energi & Sumber Daya Alam) dengan nilai US$ 279 juta.
  • PT Super Bank Indonesia Tbk (Sektor Jasa Keuangan/Bank Digital) dengan nilai US$ 168 juta.
  • PT Chandra Daya Investasi Tbk (Sektor Energi & Sumber Daya Alam) dengan nilai US$ 144 juta.
  • PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (Sektor Properti) dengan nilai US$ 141 juta.

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus melakukan perbaikan regulasi untuk memperkuat integritas pasar. Salah satunya adalah penerbitan aturan baru pada November 2025 yang memperjelas alokasi penjatahan saham untuk investor ritel dan non-ritel guna meningkatkan perlindungan investor.

Lonjakan Nilai Transaksi di Vietnam dan Filipina

Vietnam dan Filipina mencatatkan fenomena menarik pada tahun 2025. Meskipun jumlah perusahaan yang melantai sangat sedikit, nilai dana yang dihimpun melonjak drastis berkat adanya transaksi jumbo.

Vietnam hanya mencatatkan 2 IPO, namun nilai dananya mencapai US$ 1,0 miliar, naik 26 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh dua IPO besar di sektor jasa keuangan.

Serupa dengan Vietnam, Filipina juga mencatatkan 2 IPO dengan total nilai US$ 596 juta, naik 194% secara tahunan. Kesuksesan pasar Filipina tahun ini bertumpu pada satu pencatatan saham besar, yaitu perusahaan penyedia layanan air bersih, Maynilad Water Services, yang menyumbang US$ 584 juta.

Ilustrasi Bendera Asean (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Ilustrasi Bendera ASEAN (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Ilustrasi Bendera Asean (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Tren Sektoral dan Ekspansi ke Bursa Global

Dalam hal preferensi sektoral, investor di Asia Tenggara pada tahun 2025 lebih meminati sektor-sektor yang berbasis aset riil. Sektor Properti (Real Estate) memimpin perolehan dana terbesar di kawasan ini, menyumbang 28% dari total dana IPO, terutama berkat aktivitas REIT di Singapura.

Sektor Energi & Sumber Daya Alam serta Jasa Keuangan menyusul di posisi berikutnya. Namun, dari sisi jumlah perusahaan, sektor Konsumen tetap menjadi yang paling ramai, khususnya di pasar Malaysia dan Indonesia.

Selain fokus pada pasar domestik, perusahaan-perusahaan Asia Tenggara juga semakin gencar mencari pendanaan di pasar global. Laporan Deloitte mencatat adanya peningkatan sebesar 80% dalam jumlah perusahaan Asia Tenggara yang melantai di bursa NASDAQ, Amerika Serikat, dengan total 27 IPO yang menghimpun dana US$ 329 juta.

Bursa Hong Kong (HKEX) juga mengalami peningkatan aktivitas, dengan total dana yang dihimpun oleh perusahaan Asia Tenggara naik 70% menjadi US$ 587,8 juta.

Melihat tren pemulihan ini, Deloitte memperkirakan minat investor akan tetap sehat pada masa mendatang. Dukungan regulasi yang pro-bisnis di berbagai negara serta fokus pada perusahaan dengan fundamental kuat diperkirakan akan menjaga momentum positif pasar modal Asia Tenggara di tahun-tahun berikutnya.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |