Premier League Kembali Terapkan Jeda Buka Puasa: Pemain Muslim Dapat Berbuka di Tengah Laga

1 week ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Premier League kembali menegaskan komitmen mereka untuk mengakomodasi pemain Muslim selama bulan suci Ramadan 2026. Liga teratas Inggris ini akan melanjutkan kebijakan jeda buka puasa di Premier League, memungkinkan atlet yang berpuasa untuk berbuka di tengah pertandingan. Kebijakan ini bertujuan untuk mendukung kesejahteraan pemain dan menghormati praktik keagamaan tanpa mengganggu jalannya pertandingan.

Prosedur khusus ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2021 dan telah menjadi bagian penting dari kalender sepak bola Inggris. Salah satu momen paling dikenal terjadi pada April 2021, ketika pertandingan antara Leicester City dan Crystal Palace dihentikan sejenak. Kala itu, Wesley Fofana dari Leicester dan Cheikhou Kouyate dari Crystal Palace dapat mengonsumsi cairan serta gel energi.

Ramadan tahun 2026 diperkirakan berlangsung dari Selasa, 18 Februari hingga Rabu, 18 Maret, periode di mana umat Muslim menahan diri dari makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam. Dengan waktu matahari terbenam di Inggris yang biasanya antara pukul 17:00 hingga 19:00 GMT, jeda buka puasa di Premier League kemungkinan besar akan terjadi pada pertandingan akhir pekan dengan kick-off sore atau awal malam.

Mekanisme Jeda Buka Puasa di Lapangan

Sebelum setiap pertandingan yang berpotensi memerlukan jeda berbuka puasa, kapten tim dan ofisial pertandingan akan berdiskusi dan menyepakati apakah penghentian diperlukan. Mereka juga akan menentukan perkiraan waktu jeda tersebut. Proses ini memastikan bahwa semua pihak terkait memahami dan menyetujui pengaturan yang akan dilakukan.

Penting untuk dicatat bahwa permainan tidak akan dihentikan saat bola sedang dimainkan secara aktif. Sebaliknya, jeda berbuka puasa di Premier League akan dilakukan pada momen alami yang paling sesuai, seperti tendangan gawang, tendangan bebas, atau lemparan ke dalam. Pada momen tersebut, pemain yang berpuasa di bulan Ramadan diizinkan untuk menghidrasi diri dan mengonsumsi makanan ringan atau gel energi dengan cepat sebelum pertandingan dilanjutkan kembali.

Jeda ini dirancang agar singkat dan mulus, menyeimbangkan penghormatan terhadap ibadah keagamaan dengan integritas kompetitif permainan. Ofisial pertandingan juga telah menjelaskan bahwa jeda tersebut tidak dapat digunakan untuk pembicaraan taktis, jeda minum, atau instruksi dari pelatih. Tujuannya semata-mata untuk memungkinkan pemain makan atau minum sebentar.

Selama Ramadan 2026, pertandingan yang paling mungkin memerlukan jeda adalah pertandingan akhir pekan dengan kick-off sore atau awal malam. Contohnya, pertandingan Sabtu pukul 17:30 dan Minggu pukul 16:30 waktu setempat, mengingat waktu matahari terbenam di Inggris.

Dukungan dan Dampak Positif Kebijakan

Kebijakan jeda buka puasa di Premier League ini secara fundamental bertujuan untuk mendukung kesejahteraan pemain. Ini memungkinkan atlet untuk menjaga kondisi fisik mereka tanpa mengganggu sifat kompetitif permainan. Inisiatif ini mencerminkan upaya berkelanjutan oleh otoritas sepak bola Inggris untuk mengakomodasi praktik keagamaan sambil menjaga integritas kompetitif pertandingan.

Mantan gelandang Everton, Abdoulaye Doucouré, pada tahun 2023 pernah menyatakan apresiasinya terhadap kebijakan ini. Ia mengatakan bahwa di Premier League, pemain bebas melakukan apa pun yang sesuai dengan keyakinan mereka, dan ini adalah hal yang luar biasa. Doucouré juga menegaskan bahwa agamanya adalah hal terpenting dalam hidupnya, dan ia bersyukur dapat menjalankan Ramadan tanpa masalah pada kondisi fisiknya.

Beberapa pemain Muslim terkemuka di Premier League yang dapat memanfaatkan jeda ini termasuk Mohamed Salah (Liverpool), William Saliba (Arsenal), Rayan Aït-Nouri (Manchester City), dan Amad Diallo (Manchester United). Pemain Everton seperti Abdoulaye Doucouré, Idrissa Gueye, dan Amadou Onana juga pernah menghentikan pertandingan untuk berbuka puasa pada April 2024 saat melawan Newcastle.

Dengan kondisi tersebut, potensi jeda dapat terjadi dalam laga-laga mendatang, seperti West Ham United kontra Bournemouth atau pertandingan Tottenham Hotspur melawan Arsenal. Pemain seperti El Hadji Malick Diouf (West Ham United), Dango Ouattara (Bournemouth), Djed Spence (Tottenham Hotspur), serta William Saliba (Arsenal) juga berpeluang memanfaatkan kebijakan ini.

Inisiatif Komunitas dari Klub Liga Inggris

Selain mengakomodasi pemain di lapangan, klub-klub Premier League juga telah merangkul bulan Ramadan melalui berbagai inisiatif komunitas. Langkah ini menunjukkan dukungan yang lebih luas terhadap komunitas Muslim dan semangat kebersamaan.

Chelsea Football Club menjadi tim Premier League pertama yang menyelenggarakan Open Iftar di stadion mereka, Stamford Bridge. Acara ini mengundang individu dari semua agama untuk bergabung dalam berbuka puasa bersama, menciptakan suasana inklusif. West Ham United juga mengikuti jejak ini dengan mengadakan acara Iftar khusus, memperkuat ikatan dengan komunitas lokal mereka.

Inisiatif semacam ini tidak hanya menunjukkan dukungan terhadap pemain Muslim, tetapi juga mempromosikan pemahaman dan toleransi antarbudaya dalam lingkungan sepak bola. Ini adalah bagian dari upaya Premier League untuk menjadi liga yang lebih inklusif dan responsif terhadap keberagaman pemain serta penggemarnya.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |