Produksi Beras RI Diramal Cuma Naik Tipis, BPS Ungkap Biang Keroknya

3 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras nasional sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 19,31 juta ton atau naik tipis 0,05 juta ton (0,26%) dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Kenaikan tipis ini terbentuk dari rangkaian faktor berlapis, mulai dari kondisi tanam, luas panen, hingga produksi gabah yang sempat tertekan.

Secara rinci, BPS mencatat produksi padi (gabah kering giling/GKG) Januari-Juni 2026 diperkirakan mencapai 33,52 juta ton, naik 0,09 juta ton atau 0,26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, tren bulanan menunjukkan tekanan, terutama pada Maret dan potensi di April-Juni.

"Untuk produksi padi pada bulan Maret tahun 2026 diperkirakan sebesar 8,75 juta ton gabah kering giling (GKG), atau mengalami penurunan sebesar 3,69% dibandingkan pada Maret 2025," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono saat konferensi pers, Senin (4/5/2026).

BPS juga memperkirakan potensi produksi padi April-Juni 2026 hanya mencapai 16,68 juta ton GKG atau turun 1,51 juta ton. Angka ini menurun 8,31% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Penurunan ini menjadi faktor utama yang menahan kenaikan produksi beras.

"Dengan demikian produksi padi sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026 ini diperkirakan mencapai 33,52 juta ton GKG atau mengalami kenaikan 0,09 juta ton GKG atau 0,26% jika dibandingkan dengan perhitungan yang sama pada tahun 2025," ujarnya.

Penurunan produksi gabah ini tidak lepas dari dinamika luas panen. Pada Maret 2026, luas panen tercatat 1,61 juta hektare atau turun 3,16% dibandingkan Maret 2025 sebesar 1,67 juta hektare.

Untuk periode berikutnya, BPS memperkirakan koreksi lebih dalam. Potensi luas panen April-Juni 2026 diperkirakan hanya 3,16 juta hektare atau turun 0,26 juta hektare, atau menurun 7,66% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Panen gabah. (Dok. Kementan)Foto: Panen gabah. (Dok. Kementan)

Namun secara kumulatif, luas panen Januari-Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,27 juta hektare atau masih naik tipis 0,22% secara tahunan.

"Dengan demikian, luas panen padi sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan mencapai 6,27 juta hektare atau mengalami kenaikan seluas 0,01 juta hektare atau naik 0,22% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025," terang dia.

BPS menegaskan, angka ini masih sangat bergantung pada kondisi lapangan. "Tentunya angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi nanti sepanjang bulan April sampai dengan Juni tahun 2026, seperti pada saat ada serangan hama atau organisme pengganggu, pada kondisi banjir, pada kekeringan, waktu pelaksanaan panen oleh petaninya juga," jelasnya.

Lebih jauh ke hulu, Ateng memaparkan, kondisi luas tanam ini tercermin dari hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Maret 2026. Mayoritas lahan masih berada dalam fase standing crop atau sedang ditanami padi.

"Hasil amatan survei KSA pada Maret tahun 2026 memperlihatkan bahwa mayoritas lahan pertanian sedang dalam fase ditanami padi atau standing crop, yaitu sekitar 40,24 persen," ungkap Ateng.

Selain itu, lahan yang sedang ditanami padi tercatat 21,19%, dipanen 20,03%, diberakan 10,73%, dan persiapan lahan 7,57%. Dari total standing crop tersebut, mayoritas sudah masuk fase generatif sebesar 20,25% yang akan segera dipanen.

"Sebagai catatan, tanaman padi pada fase generatif umumnya akan dipanen 1 bulan ke depan, fase vegetatif akhir ini akan dipanen 2 bulan ke depan, sedangkan fase vegetatif awal akan dipanen pada 3 bulan ke depan," jelasnya.

BPS menilai komposisi fase tanam ini berpengaruh langsung terhadap luas panen ke depan, yang kemudian menentukan produksi gabah hingga beras.

Selain faktor tanam, Ateng menyebut kondisi cuaca juga menjadi penentu. Berdasarkan analisis dari BMKG, curah hujan pada Maret tahun 2026 secara umum mayoritas wilayah di Indonesia berada pada kriteria menengah.

"Nah, tinggi rendahnya curah hujan tentunya ini akan mempengaruhi budidaya tanaman padi di setiap wilayahnya," ucap dia.

BPS juga memetakan lokasi potensi panen April-Juni 2026 yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten. Di luar Jawa, potensi tersebar di Lampung, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, serta Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di tingkat kabupaten/kota, potensi besar antara lain berada di Bojonegoro, Lamongan, Jember, Indramayu, Subang, Karawang, hingga Grobogan dan Pati.

Sejalan dengan itu, produksi beras Maret 2026 diperkirakan mencapai 5,04 juta ton atau turun 3,67% dibandingkan Maret 2025. Untuk periode April-Juni 2026, produksi beras diperkirakan mencapai 9,61 juta ton atau turun 8,30% secara tahunan.

"Dengan demikian, produksi beras sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 0,05 juta ton atau naik 0,26 persen dibandingkan tadi periode yang sama di tahun 2025," papar Ateng.

NTP Turun Tipis, Harga Beras Naik

Sementara di sisi kesejahteraan petani, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) April 2026 sebesar 125,24 atau turun 0,09% dibandingkan Maret 2026.

"Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima oleh petani ini naik sebesar 0,16% lebih rendah jika dibandingkan dengan peningkatan indeks harga yang dibayar oleh petani sebesar 0,24%," terangnya.

Penurunan terdalam terjadi pada subsektor hortikultura.

"Subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 5,31% karena tadi ya, indeks harga yang diterima oleh petani turun sebesar 4,99% sedangkan indeks harga yang dibayar oleh petani naik sebesar 0,33%," papar dia.

Sementara itu, harga beras justru naik di seluruh rantai distribusi. Di tingkat penggilingan, harga beras naik 0,50% secara bulanan dan 7,42% secara tahunan. Di tingkat grosir, inflasi tercatat 0,39% (mtm) dan 5,45% (yoy), serta di eceran sebesar 0,58% (mtm) dan 4,36% (yoy).

Ateng menegaskan, data harga tersebut merupakan rata-rata nasional yang mencakup berbagai kualitas beras di seluruh wilayah Indonesia.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |