Jakarta, CNBC Indonesia - Pabrik alas kaki di Cirebon, Jawa Barat, PT Yihong Novatex, merumahkan 1.126 pekerjannya pada bulan lalu. Menurut pihak perusahaan, PHK dikarenakan aksi mogok kerja yang dilakukan buruh.
PHK tersebut berdampak kepada banyak sektor, termasuk jajaran HRD. Namun, aksi mogok kerja 1 hingga 3 Maret itu dibantah oleh seorang pekerja bernama Suryana.
"Tidak ada mogok kerja. Kami hanya melakukan aksi spontanitas pada 1-3 Maret sebagai bentuk protes terhadap pemberhentian tiga rekan kami secara sepihak. Bahkan, saat itu tidak ada bahan produksi, dan kami tetap melakukan absensi," kata Suryana, dikutip dari detikJabar.
Menurutnya, tindakan PHK hanya akal-akalan perusahaan untuk pengangkatan karyawan sesuai dengan UU Ketenagakerjaan. Dia juga membantah adanya pesanan yang dibatalkan, seperti yang disebutkan perusahaan karena aksi yang dilakukan buruh.
"Padahal, tidak ada pesanan yang benar-benar dibatalkan. Kami curiga ini hanya akal-akalan perusahaan," sambungnya.
PHK massal itu akhirnya membuat para buruh melakukan aksi unjuk rasa. Aksi tersebut dilakukan di depan kantor Bupati Cirebon, pada Selasa (11/3/2025).
Para buruh tersebut menuntut keadilan dengan kebijakan PHK yang dilakukan perusahaan secara sepihak.
PHK yang dilakukan PT Yihong menambah panjang pabrikan dengan kebijakan serupa sebelumnya. Dua pabrik sepatu diketahui merumahkan ribuan pekerjanya yakni PT Adis Dimension Footwear dan PT Victory Ching Luh Indonesia.
PHK Adis berdampak pada 1.500 pekerja. Sedangkan Victory, yang juga memproduksi merek sepatu Nike, memecat 2.00 karyawan.
Selain itu PT Danbi International menghentikan produksi karena pailit pada Februari. Sekitar 2.079 pekerja kehilangan pekerjaan karena hal tersebut.
(wia)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Tsunami PHK, Deutsche Bank Bakal PHK 2.000 Pekerja di 2025
Next Article Awal Tahun Suram, 3 Pabrik Bakal PHK 4.050 Pekerja-Ada yang Mau Tutup