Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, pemerintah lebih memilih menerapkan efisiensi anggaran ketimbang menaikkan batas defisit APBN di atas 3% produk domestik bruto (PDB) dalam menghadapi tekanan harga minyak mentah dunia, akibat konflik di Timur Tengah.
Opsi ini pun kata dia telah dibahas dalam agenda Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang digelar hari ini, Senin (16/3/2026).
"Jadi tadi ada didiskusikan, kalau harga BBM naik terus, langkah pertama ya itu, efisiensi. Kita sudah mempersiapakan langkah-langkah yang diperlukan oleh kementerian atau lembaga (K/L) nanti," ucap Purbaya.
Dalam rakortas itu, setiap kementerian atau lembaga telah diminta untuk mulai mempersiapkan porsi anggaran yang bisa dipangkas. "Mereka sudah kita suruh siapkan, kita minta siapkan, berapa persen anggarannya dipotong," tegasnya.
Purbaya menuturkan, arahan untuk efisiensi anggaran ini termasuk untuk Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjadi pelaksana program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis alias MBG.
"Kan ada anggaran tambahan-tambahan yang membuat gelembung sekali. Jadi dengan anggaran sekarang yang pertama ya kita fokus ke yang ada aja programnya. Yang tambahan kita tunda dulu sampai waktu yang memungkinkan, tapi sekarang jelas enggak mungkin," tutur Purbaya.
Menurutnya, Kementerian Keuangan mulai pekan depan mulai menghitung besaran efisiensi anggaran yang akan dilakukan pemeirntah untuk mengantisipasi gejolak harga minyak mentah dunia yang kerap melampaui US$100 per barel atau di atas asumsi makro APBN US$70 per barel efek perang AS-Israel dengan Iran.
"Tapi belum tentu eksekusi ya, kalo mau dipotong yang mana yang mau dipotong, kira-kira gitu. Nanti mereka adjust kebijakannya berdasarkan potongan Kementerian Keuangan," paparnya.
Purbaya menegaskan, efisiensi menjadi opsi yang paling baik untuk mengantisipasi tekanan harga minyak mentah dunia ketimbang memperlebar defisit APBN. Sebab, pemerintah tak lagi perlu menambah beban fiskal melalui utang.
"Enak amat kerja saya, yaudah pak kita naikin aja defisit, saya santai, ngutang lagi lebih banyak, tapi kan entar kalia marah-marah lagi, pemerintah ngutang terus," tegas Purbaya.
Di sisi lain, ia menekankan, saldo anggaran lebih atau SAL pemerintah pun masih cukup kuat untuk menutup potensi defisit APBN yang melebar ke level 3,5% PDB atau setara tambahan Rp 110 triliun dari rancangan defisit saat ini Rp 698 triliun.
"Kalau cuma butuh Rp 110 triliun saja saya bisa tutup dari SAL saya, masih cukup kan uang saya, jadi anda gak usah takut, saya masih punya tabungan, jadi jangan takut," ungkap Purbaya.
(arj/haa)
Addsource on Google

3 hours ago
4
















































