Putin Tersenyum, Rusia Diam-diam Cuan Besar Gegara Konflik AS-Iran

4 hours ago 8

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

15 March 2026 13:00

Jakarta, CNBC Indonesia Perang di Teluk Persia membawa kejutan bagi pasar energi global. Harga minyak yang beberapa bulan lalu tenggelam kini melonjak tajam. Perubahan mendadak ini memberi ruang napas bagi Rusia. Di tengah tekanan sanksi Barat dan turunnya ekspor energi, konflik Iran justru membuka kembali aliran pendapatan Moskow.

Melansir dari The Economist, perubahan situasi itu tercermin dari perjalanan sebuah kapal tanker bernama Sarah. Kapal berbendera Hong Kong tersebut sempat mematikan transponder ketika memuat tiga kargo minyak Rusia dari kapal kecil di lepas pantai Oman pada akhir Februari. Awalnya kapal itu menuju Singapura untuk memindahkan muatan ke kapal "shadow fleet" yang biasanya menyalurkan minyak Rusia ke China.

Rencana berubah pada 6 Maret setelah Amerika Serikat memberikan pengecualian sanksi selama 30 hari yang memungkinkan kilang India membeli minyak Rusia. Kapal tersebut berbalik arah menuju India dan dijadwalkan tiba di kilang di wilayah barat negara itu pada 14 Maret.

Perubahan arah tanker itu mencerminkan perubahan nasib industri energi Rusia. Penutupan de facto Selat Hormuz akibat perang Iran membuat sekitar 15% pasokan minyak dunia di Teluk terjebak. Beberapa bulan sebelumnya pasar energi justru diliputi kelebihan pasokan. Pada Desember harga Brent sempat turun hingga US$59 per barel, level terendah dalam lima tahun. Kini Brent kembali mendekati US$100 per barel.

Lonjakan harga ini mengubah posisi minyak Rusia di pasar global. Minyak yang sebelumnya dihindari banyak pembeli akibat sanksi kini kembali dicari. Momentum tersebut datang pada saat yang sangat krusial bagi Kremlin. Sebelum perang Iran pecah, pendapatan energi Rusia sedang tertekan. Banyak kilang di India dan China menghentikan pembelian sekitar November menjelang berlakunya sanksi Amerika terhadap Rosneft dan Lukoil. Pada Februari volume ekspor minyak Rusia turun sekitar seperlima. Kombinasi penurunan volume dan harga membuat pendapatan minyak dan gas Kremlin anjlok 44% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dampaknya langsung terasa pada fiskal negara. Dalam dua bulan pertama tahun ini defisit anggaran Rusia sudah mencapai 3,4 triliun rubel, setara hampir sembilan persepuluh dari target defisit sepanjang 2026. Lonjakan harga minyak memberi peluang membalik keadaan. Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, Rusia berpotensi memperoleh keuntungan besar seperti yang terjadi pada 2022. Robin Brooks dari Brookings Institution memperkirakan keuntungan tersebut dapat menutup sebagian kerugian sekitar US$300 miliar cadangan devisa bank sentral Rusia yang dibekukan Barat setelah invasi Ukraina.

Manfaat paling cepat terlihat pada pasar ekspor. Krisis Teluk membuka jalan bagi Rusia untuk menjual kembali minyak yang sebelumnya menumpuk di laut akibat kekurangan pembeli. India meningkatkan pembelian sekitar 50%. Langkah ini membantu menurunkan stok minyak Rusia yang berada di kapal menjadi sekitar 122 juta barel, turun lebih dari 10%. Impor China juga meningkat. Sebagian kargo sebenarnya sudah terjual sebelumnya sehingga keuntungan utama dinikmati para pedagang. Namun kondisi pasar baru memberi Rusia peluang menjual produksi berikutnya dengan harga lebih tinggi.

Harga menjadi keuntungan terbesar bagi Rusia. Hilangnya sebagian pasokan minyak Teluk memicu perlombaan mencari sumber alternatif. Minyak Rusia menjadi kandidat utama karena kualitasnya mirip minyak Timur Tengah sehingga mudah diproses oleh kilang Asia.

Permintaan tinggi membuat minyak Urals yang dikirim ke India kini diperdagangkan dengan harga premium terhadap Brent. Sergey Vakulenko, mantan eksekutif Gazprom Neft, memperkirakan setiap kenaikan US$10 harga Brent selama sebulan meningkatkan nilai ekspor energi Rusia sekitar US$2,8 miliar, dengan sekitar US$1,6 miliar di antaranya masuk ke kas Kremlin.

Krisis energi global juga mempersulit negara Barat memperketat sanksi. Pemerintahan Amerika sebelumnya mempertimbangkan langkah lebih keras terhadap armada tanker bayangan Rusia. Namun lonjakan harga energi mengubah perhitungan politik.

Rachel Ziemba dari Centre for a New American Security menilai pelonggaran terbaru melemahkan kredibilitas sanksi Amerika.

Meski demikian, keuntungan Rusia belum tentu bertahan lama. Thane Gustafson dari Georgetown University menyebut lonjakan ini sebagai "sugar high".

Ukraina terus menyerang fasilitas energi Rusia sehingga perusahaan energi harus mengalihkan dana investasi untuk perbaikan infrastruktur. Sanksi Barat dan harga yang sempat rendah juga mengurangi kemampuan industri melakukan eksplorasi baru.

Perang di Teluk memberi Rusia satu hal yang sangat dibutuhkan: waktu. Pendapatan energi kembali mengalir dan tekanan fiskal mereda. Namun fondasi industri energi Rusia tetap rapuh. Produksi minyak diperkirakan terus turun sekitar 3% setiap tahun.

Konflik baru mungkin memberi keuntungan sesaat bagi Kremlin, tetapi kerusakan ekonomi akibat perang dan sanksi masih menjadi bayang-bayang panjang bagi Moskow.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |