Ramadan Ubah Media Sosial Arab Saudi Seiring Meningkatnya Interaksi di Malam Hari

19 hours ago 2

Liputan6.com, Riyadh - Ramadan mengubah pola penggunaan media sosial di Arab Saudi, dengan meningkatnya interaksi pengguna terutama pada malam hari. Setelah berbuka puasa dan menjalankan ibadah, banyak orang memanfaatkan waktu tersebut untuk bersosialisasi secara daring, berbagi pengalaman Ramadan, hingga mengikuti berbagai tren yang ramai di platform media sosial.

Saat jam puasa memadatkan aktivitas siang hari, interaksi di berbagai platform media sosial bergeser tajam ke malam hari. Jadwal posting berubah dan nada menjadi lebih lembut, sementara interaksi memuncak setelah salat Tarawih dan sebelum sahur.

Dikutip dari  arabnews pada Selasa (17/3/2026), sebelumnya tentang tren konsumen Ramadan menyoroti peningkatan transaksi digital dan e-commerce selama bulan suci ini, terutama di malam hari. Logika perilaku yang sama berlaku untuk konsumsi konten. Ketika pengeluaran bergeser ke malam hari, aktivitas scrolling pun ikut meningkat. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat melihat peningkatan interaksi di malam hari, sementara aktivitas siang hari melambat secara signifikan.

Bagi para kreator, Ramadan membutuhkan penyesuaian strategis.

“Saya tidak menggunakan jadwal normal saya,” kata Sara Al-Harbi, 26, seorang kreator konten gaya hidup yang berbasis di Riyadh. “Jika saya memposting sebelum iftar, interaksi menurun. Setelah Tarawih, orang-orang aktif. Saat itulah interaksi meningkat.”

Namun, pengaturan waktu hanyalah sebagian dari penyesuaian.

Nada konten berubah secara signifikan selama Ramadan. Makanan tetap menjadi tema utama, tetapi penyajiannya bergeser dari santapan mewah menjadi makanan sahur praktis, pengingat untuk tetap terhidrasi, dan rutinitas dapur yang realistis.

Tantangan Digital Baca Al-Qur'an Saat Ramadan

Klip pendek yang menunjukkan persiapan makanan cepat sebelum subuh seringkali lebih unggul daripada konten yang diproduksi secara profesional.

Partisipasi keagamaan juga mengambil bentuk digital yang terstruktur. Tantangan membaca Al-Qur'an singkat, di mana pengguna berbagi target bacaan harian, telah menjadi tren Ramadan yang berulang. Tantangan ini berfungsi sebagai sistem akuntabilitas informal, menggabungkan ibadah pribadi dengan dorongan publik.

“Saya bergabung dengan tantangan membaca Al-Qur'an karena saya terus melihatnya di beranda saya,” kata Hassan Al-Mutairi, 22, seorang mahasiswa di Dammam. “Mengunggah kemajuan harian membantu saya tetap konsisten.”

Ramadan merupakan musim puncak bagi platform digital di Kerajaan Arab Saudi, dengan peningkatan ketergantungan pada aplikasi seluler dan transaksi online. Meskipun laporan tersebut terutama berfokus pada perdagangan, pergeseran perilaku meluas ke pembuatan konten. Penggunaan aplikasi yang lebih tinggi di malam hari menghasilkan keterlibatan yang lebih tinggi bagi kreator dan merek.

Bisnis menyesuaikan diri. Restoran mempromosikan penawaran sahur menjelang tengah malam. Instruktur kebugaran menerbitkan rencana latihan yang ramah puasa. Akun kesehatan berbagi saran tentang manajemen energi dan siklus tidur. Waktu kampanye semakin selaras dengan jadwal salat daripada jam kerja konvensional. Ekspektasi audiens juga berkembang selama Ramadan.

“Keterlibatan selama Ramadan berbeda,” kata Reem Al-Otaibi, 31, seorang ahli strategi media sosial yang berbasis di Jeddah. “Pengguna lebih reflektif. Konten yang sangat dipoles tidak selalu berkinerja baik; video sederhana dan mudah dipahami sering kali lebih terhubung.”

Media Sosial Jadi Ruang Kebersamaan Ramadan

Pergeseran ini bukan semata-mata komersial; melainkan komunal. Bagian komentar selama Ramadan sering menjadi ruang untuk berbagi pengingat dan dorongan. Pengguna bertukar doa, membaca pembaruan, dan pesan motivasi. Dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, suasananya jauh lebih tenang.

Bagi warga Saudi yang tinggal mandiri atau belajar di luar negeri, media sosial mengurangi jarak.

“Melihat semua orang memposting tentang buka puasa membuat Anda merasa dilibatkan,” kata Al-Mutairi. “Meskipun Anda tidak bersama keluarga, Anda merasa menjadi bagian darinya.”

Tidak seperti tren digital global yang didorong terutama oleh perubahan algoritma, lonjakan media sosial selama Ramadan terstruktur di sekitar ritual. Jadwal puasa menentukan jam bangun. Jam bangun menentukan pola posting. Pengaturan waktu budaya mengesampingkan pengaturan waktu algoritmik.

Bagi merek, pelajarannya adalah pengaturan waktu; bagi kreator, itu adalah keaslian. Dan bagi audiens, itu adalah partisipasi.

Lonjakan media sosial selama Ramadan di Arab Saudi bukanlah hal yang acak atau semata-mata algoritmik. Ini bersifat musiman, terukur, dan berakar pada budaya.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |