Sejarah Disyariatkannya Idul Fitri, Makna Mendalam dan Hikmahnya

4 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam di dunia. Namun jarang yang tahu sejarah disyariatkannya Idul Fitri tiap Ramadhan berakhir, sekaligus disebut hari kemenangan.

Sebagian dari kita menganggap bahwa hari kemenangan itu sekadar perayaan setelah sebulan penuh berperang melawan hawa nafsu. Padahal, pensyariatan Idul Fitri lebih mendalam dari itu.

Merujuk studi Hadis dan Sejarah Idul Fitri, UIN Kudus, terdapat kaitan pensyariatan Idul Fitri dengan perang Badar, pertempuran besar pertama umat Islam melawan kaum kafir. Kemenangan dalam perang Badar itu meningkatkan kepercayaan diri dan mengubah peta politik Jazirah Arab kala itu. 

Merujuk studi di atas dan berbagai sumber otoritatif, berikut ini adalah ulasan lengkap sejarah Idul Fitri, landasan hukumnya dalam hadis, serta pandangan para ulama tentang pelaksanaannya.

Sejarah Pensyariatan, 2 Dimensi Kemenangan di Bulan Syawal

Idul Fitri pertama kali dilaksanakan oleh umat Islam pada tahun ke-2 Hijriah. Tahun ini merupakan momen yang sangat bersejarah, karena bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar. Perang besar yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan ini dimenangkan oleh pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih kecil.

Dengan demikian, umat Islam saat itu merayakan dua kemenangan sekaligus. Pertama, kemenangan batin setelah berhasil menunaikan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Kedua, kemenangan fisik di medan perang, yang menjadi simbol keteguhan iman dan kejayaan Islam di muka bumi.

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi tonggak sejarah adanya perayaan Idul Fitri sebagai bentuk syukur atas segala nikmat dan pertolongan Allah SWT.

Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Risalah fil Aqaid menjelaskan, sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab Jahiliyah sudah memiliki dua hari raya yang digunakan untuk bersenang-senang dan bermain. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau melihat tradisi tersebut dan bersabda, "Allah telah menggantikan kedua hari rayamu dengan hari raya yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha." (HR. Abu Daud dan An-Nasa'i).

Hadis ini menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar tradisi, melainkan syariat yang memiliki nilai ibadah dan ketauhidan.

Berikut ini adalah makna mendalam Idul Fitri dalam Islam.

1. Makna Historis: Kemenangan Ganda Umat Islam

Idul Fitri pertama kali disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriah, yang bertepatan dengan kemenangan umat Islam dalam Perang Badar. Peristiwa ini menjadikan Idul Fitri sebagai perayaan atas dua kemenangan sekaligus:

  • Kemenangan Spiritual: Keberhasilan umat Islam menunaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh, yang merupakan latihan pengendalian diri dan peningkatan ketakwaan.
  • Kemenangan Fisik: Kemenangan dalam Perang Badar, yang menjadi simbol kejayaan Islam dan kekuatan iman dalam membela kebenaran.

Dengan demikian, Idul Fitri menjadi momen untuk mensyukuri nikmat kemenangan dan pertolongan Allah SWT.

2. Makna Spiritual: Kembali kepada Kesucian

Idul Fitri menandai kembalinya seorang Muslim kepada keadaan fitrah, yaitu kesucian lahir dan batin setelah sebulan berpuasa dan memohon ampunan. Hal ini diwujudkan melalui:

  • Penghapusan Dosa: Dengan puasa Ramadan yang disertai keimanan dan pengharapan pahala, dosa-dosa yang lalu diampuni. Idul Fitri menjadi puncak dari proses pembersihan jiwa tersebut.
  • Peningkatan Kedekatan dengan Allah: Selama Ramadan, umat Islam membiasakan diri dengan takbir, tahmid, dzikir, dan doa. Tradisi ini memuncak pada malam dan hari raya dengan mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan dan rasa syukur kepada Allah.

3. Makna Sosial: Mempererat Persaudaraan dan Kasih Sayang

Idul Fitri memiliki dimensi sosial yang kuat, yang tercermin dalam berbagai anjuran dan tradisi:

Silaturahmi dan Saling Memaafkan: Momen Idul Fitri menjadi ajang untuk saling mengunjungi, bermaaf-maafan, dan membersihkan hati dari dendam atau kesalahan terhadap sesama. Ini mempererat tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah).

  • Meningkatkan Kepedulian (Gotong Royong): Kewajiban membayar zakat fitrah sebelum shalat Id bertujuan untuk membersihkan harta dan berbagi kebahagiaan dengan kaum fakir miskin, sehingga mereka pun dapat merasakan sukacita hari raya. Hal ini menumbuhkan rasa solidaritas dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat.
  • Kebersamaan Umat: Anjuran untuk melaksanakan shalat Id secara berjamaah di lapangan atau masjid, serta khutbah yang disampaikan, menciptakan rasa persatuan dan kebersamaan di antara seluruh lapisan masyarakat.

4. Makna Etika dan Moral: Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Esensi Idul Fitri bukan hanya pada perayaan, melainkan juga pada perubahan perilaku. Setelah menjalani latihan Ramadan, seorang Muslim diharapkan dapat mempertahankan nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesabaran, dan pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.

Idul Fitri mengajarkan untuk "bertanggung jawab sebagai pondasi keagamaan" dan senantiasa mensucikan diri dari perilaku yang melanggar nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Dengan memahami makna-makna ini, Idul Fitri tidak hanya menjadi hari raya seremonial, tetapi juga momentum refleksi dan transformasi diri menuju pribadi yang lebih bertakwa dan bermanfaat bagi sesama.

Hukum dan Keutamaan Shalat Idul Fitri

Para ulama sepakat bahwa hukum melaksanakan shalat Idul Fitri adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan dan hampir mendekati wajib. Bahkan, sangat tidak dianjurkan bagi seorang muslim untuk meninggalkannya tanpa uzur yang syar'i.

Anjuran ini berlaku untuk semua kalangan, baik laki-laki, perempuan, bahkan wanita yang sedang dalam kondisi haid pun dianjurkan untuk turut hadir ke lapangan tempat pelaksanaan shalat Id. Tujuannya adalah untuk menyaksikan kebaikan, mendengarkan khutbah, dan merasakan kebersamaan umat, meskipun mereka tidak diperkenankan untuk ikut shalat.

Landasan Hadis Pelaksanaan Shalat Id

Praktik shalat Id yang dilakukan di tanah lapang (mushala) merupakan tradisi yang berasal langsung dari Rasulullah SAW. Dokumen tersebut mengutip beberapa hadis shahih yang menjadi landasannya, di antaranya:

Hadis Riwayat Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudri: "Rasulullah SAW biasa keluar menuju mushala (tanah lapang) pada hari Idul Fitri dan Adha. Hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat..." (HR. Bukhari).

Hadis Riwayat Muslim, An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad juga meriwayatkan dengan redaksi yang serupa, menguatkan bahwa kebiasaan Nabi adalah keluar ke lapangan, memulai dengan shalat, kemudian menyampaikan khutbah.

Dari hadis-hadis ini, kita juga belajar tentang tata cara shalat Id, seperti tidak ada azan dan iqamah, jumlah takbir (7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua), serta imam membaca surat dengan suara keras. Setelah shalat, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah yang berisi nasihat, perintah bersedekah (yang paling banyak dilakukan oleh kaum wanita), serta menyampaikan keperluan umat.

Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Fitri

Berikut adalah amalan-amalan sunnah yang dianjurkan di hari raya Idul Fitri:

  1. Mengumandangkan Takbir: Disunnahkan untuk memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil. Takbir ini dikumandangkan sejak malam hari raya (menjelang 1 Syawal) hingga pelaksanaan shalat Id. Ini adalah syiar terbesar di hari raya yang menandakan pengagungan kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya.
  2. Mandi: Dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempat shalat. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan menyucikan badan dalam rangka menyambut hari yang fitri dan mulia.
  3. Memakai Pakaian yang Paling Bagus: Disunnahkan untuk berhias dengan mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki. Ini sebagai bentuk penghormatan dan ekspresi kegembiraan dalam menyambut hari raya.
  4. Makan dan Minum Terlebih Dahulu: Berbeda dengan Idul Adha, pada Idul Fitri dianjurkan untuk makan atau minum sesuatu sebelum berangkat shalat. Hal ini sebagai tanda bahwa puasa Ramadan telah usai dan kita tidak lagi dalam keadaan berpuasa. Biasanya dilakukan dengan makan kurma dalam jumlah ganjil.
  5. Memakai Wangi-wangian: Menggunakan wewangian atau parfum juga disunnahkan untuk menambah kesegaran dan keharuman saat menghadiri shalat Id dan bertemu dengan sesama muslim.
  6. Melewati Jalan yang Berlainan Saat Berangkat dan Pulang: Dalam perjalanan menuju dan pulang dari tempat shalat Id, dianjurkan untuk mengambil rute atau jalan yang berbeda. Hikmahnya adalah agar semakin banyak tempat yang menyaksikan kebesaran Allah melalui dzikir dan takbir yang dikumandangkan, serta untuk memperbanyak saksi amal kebaikan di hari itu.
  7. Mendengarkan Khutbah dengan Khusyuk: Setelah shalat Id selesai, disunnahkan untuk tetap tinggal dan mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh khatib dengan penuh perhatian dan kekhusyukan.

Hikmah di Balik Gemerlap Idul Fitri

Di balik rangkaian ibadah dan takbir yang bergemuruh, Idul Fitri menyimpan hikmah yang mendalam bagi setiap muslim:

  • Mempererat Tali Persaudaraan: Idul Fitri menjadi momen silaturahmi, saling mengunjungi, dan bermaaf-maafan, yang memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah.
  • Meningkatkan Kasih Sayang: Perayaan ini mengajarkan untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama, termasuk dengan membayar zakat fitrah yang membersihkan harta dan jiwa.
  • Menghapus Dosa dan Saling Memaafkan: Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu dan membuka lembaran baru dengan hati yang bersih, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
  • Mendekatkan Diri kepada Allah: Gemuruh takbir, tahmid, dan tahlil yang dikumandangkan bukan sekadar ritual, melainkan bentuk pengagungan dan rasa syukur atas segala petunjuk dan ampunan-Nya.

People also Ask:

Bagaimana sejarah singkat munculnya perayaan Idul Fitri?

Sejarah Hari Raya Idul Fitri

Dalam sejarah Islam, perayaan Idul Fitri pertama kali diselenggarakan pada tahun 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriyah. Waktu perayaan tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin.

Apa kisah sebenarnya di balik Hari Raya Idul Fitri?

Sejarah. Menurut tradisi Muslim, Muhammad menetapkan perayaan Idul Fitri . Menurut sebuah hadits tertentu, festival ini dimulai di Madinah setelah hijrahnya Muhammad dari Mekah.

Penetapan Idul Fitri berdasarkan apa?

Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menetapkan Hari Raya Idul Fitri berdasarkan hasil hisab dan rukyat yang diverifikasi bersama berbagai lembaga dan organisasi Islam.

Siapa penemu Idul Fitri?

Idulfitri dicetuskan oleh Nabi Muhammad SAW. Menurut tradisi tertentu, festival atau acara besar ini dimulai di Madinah setelah migrasi Nabi Muhammad SAW dari Makkah.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |