Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan brutal yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah merusak sekolah, fasilitas umum, dan banyak korban berjatuhan. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, tewas sebagai martir.
Sejumlah anggota keluarga Khamenei, beserta para petinggi Iran juga meninggal dalam serangan gabungan AS dan Iran. Tak tinggal diam, Iran juga membalas dengan serangan ke Israel dan beberapa pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah (Timteng).
Iran secara spesifik menargetkan pangkalan militer dan infrastruktur kritis AS. Dua data center milik Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab (UEA dan Bahrain rusak dihantam drone Iran.
Televisi pemerintah Iran mengklaim bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran melancarkan serangan tersebut untuk mengidentifikasi peran dua data center milik AS tersebut dalam mendukung aktivitas militer dan intelijen musuh.
Serangan tersebut langsung membawa dampak besar. Jutaan orang di Dubai dan Abu Dhabi pada Senin (2/3) dilaporkan tak bisa memesan taksi, memesan makanan, atau mengecek rekening di aplikasi mobile-banking.
Belum jelas apakah lumpuhnya akses ke aplikasi tersebut hanya gara-gara serangan data center AWS, atau ada serangna lain di ranah siber yang belum terdeteksi. Yang jelas, perang yang terjadi langsung berdampak ke 11 juta orang di UAE yang 9 dari 10 masyarakatnya merupakan kebangsaan luar negeri.
Amazon telah merekomendasikan para kliennya untuk mengamankan data mereka ke luar dari kawasan tersebut.
Nasib Ambisi AI UAE
Serangan terhadap target perang infrastruktur teknologi ini kemudian menimbulkan pertanyaan tentang prospek UEA dalam membangun ambisi besarnya untuk menciptakan sumber 'minyak baru', yakni kecerdasan buatan (AI).
"UEA benar-benar ingin menjadi pemain utama AI," kata Chris McGuire, seorang ahli persaingan AI dan teknologi yang menjabat sebagai pejabat dewan keamanan nasional Gedung Putih di pemerintahan Joe Biden, dikutip dari The Guardian, Senin (9/3/2026).
"Pemerintah mereka memiliki keyakinan yang sangat kuat tentang teknologi ini, mungkin lebih kuat daripada pemerintah mana pun di dunia. Jika pertanyaan keamanan mulai muncul, maka mereka harus menyelesaikannya dengan sangat cepat, entah bagaimana caranya," ia menambahkan.
Data center merupakan fasilitas yang dirancang untuk menyimpan, mengelola, dan mengoperasikan data digital.
Permintaan yang meningkat di bisnis AI dan komputasi cloud memicu lonjakan terhadap kebutuhan data center yang memiliki daya komputasi tinggi. Fasilitas ini membutuhkan suplai terus-terusan untuk listrik yang murah.
Dalam upaya UAE untuk melakukan diversifikasi pendapatan dari bahan bakar fosil, telah mampu menunjukkan bahwa mereka memiliki sumber daya yang melimpah, bersama dengan dana kekayaan negara yang besar yang siap untuk berinvestasi dan mensubsidi proyek-proyek tersebut.
Menurut Indeks Pusat Data Global Turner & Townsend, peningkatan biaya global keseluruhan untuk pembangunan data center meningkat pada 2025 sebesar 5,5%. UEA berada di peringkat ke-44 dalam tabel peringkat biaya unit per watt termahal dari 52 negara.
Letak geografis UEA juga menjadikannya titik pendaratan kabel bawah laut yang penting, menyediakan akses antara Eropa dan Asia. Kemudian ada faktor geopolitik, dengan AS yang berupaya menjauhkan negara-negara Timur Tengah dari teknologi China.
Kunjungan empat hari Donald Trump ke Arab Saudi, Qatar, dan UEA pada Mei lalu bertepatan dengan pengumuman pembangunan kampus AI baru yang luas sebagai bentuk kemitraan antara UEA dan AS untuk tujuan melatih model AI yang canggih.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, pemerintahan Trump melonggarkan pembatasan penjualan chip canggih ke negara-negara Timur Tengah. OpenAI mengatakan kampus UEA yang direncanakan tersebut pada akhirnya dapat melayani setengah populasi dunia.
McGuire mengatakan perang yang terjadi saat ini akan sangat menentukan masa depan AI di UEA.
"Jika kita akan membangun data center skala besar di Timur Tengah, kita harus benar-benar serius tentang bagaimana cara melindunginya. Mungkin ini artinya membangun pertahanan rudal pada data center," katanya.
Sean Gorman, kepala eksekutif Zephr.xyz, sebuah perusahaan teknologi yang merupakan kontraktor untuk angkatan udara AS, mengatakan bahwa ambisi negara-negara Timur Tengah kemungkinan besar telah dipikirkan oleh para perencana militer di Teheran.
"Saya percaya Iran sedang membangun taktik yang telah mereka lihat efektif dalam konflik Ukraina. Perang asimetris yang dapat menargetkan infrastruktur penting menciptakan tekanan pada musuh dengan mengganggu keamanan publik dan aktivitas ekonomi," ia menuturkan.
"UEA dan Bahrain sama-sama memposisikan diri sebagai pusat AI global dengan berinvestasi besar-besaran di data center dan infrastruktur serat optik untuk menghubungkan mereka ke seluruh dunia," ia menjelaskan.
UAE Jadi Arena Balas Dendam Iran ke AS
Gorman mengatakan UEA memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola ketidakstabilan regional tanpa menjadi pihak yang terlibat di dalamnya. Namun, ada berbagai risiko yang berasal dari udara.
"UEA juga memiliki salah satu lingkungan pendaratan kabel bawah laut yang paling beragam di Timur Tengah, tetapi keragaman tersebut tidak merata secara geografis. Terdapat banyak stasiun pendaratan dan sistem kabel, tetapi banyak di antaranya terkonsentrasi di pantai timur di Fujairah, yang menciptakan hambatan geografis sebagian," ia menuturkan.
Lebih lanjut, ada risiko spesifik dari operasi siber Iran yang menargetkan infrastruktur digital terkait AS di Timur Tengah. Hal ini membawa petaka jangka pendek atas ancaman operasi cloud dan data center di wilayah tersebut, ketimbang sekadar tantangan geografis
Gorman mengatakan kekhawatiran akan muncul jika Iran menunjukkan kemampuan lebih lanjut untuk menargetkan infrastruktur digital Timur Tengah sebagai bagian dari pembalasannya.
"UEA perlu menunjukkan kepada para mitranya bahwa infrastrukturnya dapat dipertahankan. Inilah pertanyaan yang seharusnya diajukan oleh para investor, bukan apakah ambisi AI yang lebih luas akan bertahan," ia menjelaskan.
Vili Lehdonvirta, profesor kebijakan teknologi di Universitas Aalto dan peneliti senior di Oxford Internet Institute, Universitas Oxford, mengatakan ada biaya signifikan untuk pertahanan semacam itu, tetapi bahayanya nyata.
Mantan ketua Komisi Keamanan Nasional AS tentang AI, Eric Schmidt, tahun lalu menyarankan bahwa negara yang tertinggal dalam perlombaan senjata AI dapat mengebom data center lawannya.
Lehdonvirta mengatakan ia menduga tidak ada yang benar-benar percaya bahwa data center akan dibom meskipun skenario seperti itu telah diungkapkan secara terbuka untuk beberapa waktu.
Lantas, ke mana serangan Iran berikutnya akan berlabuh?
"Pihak Iran sangat menyadari bahwa kabel serat optik yang menghubungkan data center ini ke AS dan seluruh dunia melewati Selat Hormuz, meskipun kabel tersebut akan dipantau secara ketat oleh AS dan pasukan sekutunya,"kata Lehdonvirta.
(fab/fab)
Addsource on Google

6 hours ago
7
















































