Saham Emiten Tambang Ngamuk, IHSG Menguat 0,65% ke Level 7.175

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan hari ini, Senin (27/4/2026). IHSG naik 46,13 poin atau 0,65% ke 7.175,62 pada akhir perdagangan sesi pertama.

Kebanyakan saham berada di zona hijau dengan nilai transaksi yang terbilang tinggi, yakni mencapai Rp 10,36 triliun. Sebanyak 22,21 miliar saham berpindah tangan dalam 1,41 juta kali transaksi.

Berdasarkan data pasar, saham bank jumbo mencatat nilai transaksi terbesar. BBCA memimpin dengan total Rp 2 triliun. Akan tetapi saham emiten grup Djarum ini melorot dan sempat menyentuh 5.975 atau turun 1% lebih. Selanjutnya ada saham Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan nilai transaksi masing-masing Rp 1,65 triliun dan Rp 830 miliar.

Mayoritas sektor perdagangan menguat, dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor barang baku dan infrastruktur, sedangkan hanya sektor keuangan dan energi yang terkoreksi hari ini.

Mengutip Refinitiv, saham komoditas menjadi penyebab IHSG menguat signifikan hari ini. Amman Mineral Internasional (AMMN) yang menguat 8,5% ke Rp 5.425 per saha, menjadi kontributor utama kenaikan IHSG dengan sumbangsih 18,43 indeks poin.

Merdeka Gold Resources (EMAS) yang naik 4,84% menyumbang 6,63 poin dan Bumi Resources (BUMI) yang naik 5,56% menyumbang 5,89 poin.

Kemudian emiten tambang lain yang ikut menjadi penggerak kinerja IHGS hari ini termasuk Bumi Resources Mineral (BRMS) dan Aneka Tambang (ANTM).

Tercatat sejumlah saham emiten milik Prajogo Pangestu juga mengalami lonjakan harga setelah pekan lalu tertekan aksi jual investor. Hanya saham Petrosea (PTRO) yang melemah di antara Grup Barito.

Gerak IHSG hari ini selaras dengan mayoritas bursa di kawasan.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,53% dan mencapai rekor tertinggi, sementara indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1% dan juga mencatatkan rekor tertinggi.

Namun, bursa Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,54%.

Sementara kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 26.041, dibandingkan dengan penutupan terakhir indeks tersebut di 25.978,07.

Mengutip CNBC Internasional, sentimen pasar tetap stabil meskipun harapan pasar terhadap terobosan diplomasi Iran-Amerika Serikat kembali menipis.

Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana untuk mengirim utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, Sabtu lalu untuk melakukan negosiasi dengan Iran.

"Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada perselisihan internal yang hebat dan kebingungan di dalam 'kepemimpinan' mereka," tulis Trump dalam sebuah postingan di Truth Social, dikutip Senin (27/4/2026).

Harga minyak melonjak sekitar 2% setelah rencana putaran kedua negosiasi perdamaian antara AS dan Iran kembali menemui jalan buntu.

Kontrak berjangka minyak Brent yang menjadi patokan internasional, naik lebih dari 2% menjadi US$107,49 per barel pada pukul 19.35 ET, sementara minyak mentah AS juga melonjak 1,79% menjadi US$96,19.

Ketegangan di Selat Hormuz tetap tinggi setelah Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan menaiki dua kapal kargo di dekat jalur laut strategis tersebut.

Adapun pasar keuangan Indonesia pekan ini hanya berlangsung empat hari yakni Senin-Kamis karena ada Libur Hari Buruh pada 1 Mei atau Jumat mendatang.

Fokus utama pasar pekan ini tertuju pada perkembangan terbaru negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran, keputusan suku bunga The Federal Reserve, rilis inflasi PCE AS, data manufaktur AS dan China, serta keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ).

Pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Ekspektasi ini muncul karena inflasi AS masih berada di atas target, sementara lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah membuat bank sentral AS sulit bergerak terlalu cepat untuk melonggarkan kebijakan.

Keputusan The Fed kali ini akan sangat penting bagi pasar global. Jika The Fed memberi sinyal masih akan menahan suku bunga lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat. Kondisi tersebut bisa kembali menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.

Sebaliknya, jika pernyataan The Fed mulai terdengar lebih lunak karena mempertimbangkan risiko perlambatan ekonomi, pasar bisa membaca adanya peluang penurunan suku bunga pada semester berikutnya. Skenario ini dapat memberi ruang bagi penguatan obligasi dan aset berisiko, termasuk saham di emerging market.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |