Tadabbur Ayat tentang Sabar dari Al-Qur'an, Perspektif Mufassir Kontemporer

1 week ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Dalam khazanah pemikiran Islam, sabar menempati posisi yang sangat strategis. Tadabbur ayat tentang sabar dari Al-Qur'an mengubah makna bahwa sabar bukan sekadar sikap pasif menerima kenyataan, melainkan kekuatan aktif yang menggerakkan jiwa untuk tetap tegak di jalan kebenaran.

Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsirnya, sebagaimana dikutip Jurnal Konsep Sabar dalam Al-Qur'an, oleh Sopyan Hadi menegaskan bahwa tidak ada akhlak utama lain di dalam Al-Qur'an yang disebutkan sebanyak sabar. Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya konsep ini dalam membangun peradaban muslim yang unggul.

Namun, di tengah masyarakat Muslim Indonesia, seringkali muncul pemahaman yang kurang tepat tentang hakikat sabar, yang menempatkan sabar dalam kerangka pasif dan stagnan. Padahal Al-Qur'an justru mengajarkan sabar yang aktif dan produktif.

Studi komparatif terhadap penafsiran Prof. HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar dan Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah membuka cakrawala baru tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memahami dan mengaktualisasikan kesabaran dalam kehidupannya, berdasar Al-Qur'an. Simak ulasannya.

Makna Sabar dalam Perspektif Al-Qur'an

Makna Etimologi

Secara bahasa (etimologi), kata sabar (صبر) berasal dari huruf shad, ba, dan ra. Ibn Manzhur dalam Lisan al-Arab menjelaskan bahwa makna asal dari shabr adalah menahan, seperti mengurung binatang, menahan diri, dan mengendalikan emosi.

Dalam konteks ini, puasa disebut juga sabar (menahan makan dan minum), dan bulan Ramadhan pun dinamakan syahr al-shabr (bulan kesabaran).

Menariknya, Ibn Faris dalam Mu'jam Maqayis al-Lughah menyebutkan dua arti shabr: a'la al-sya'i (puncak sesuatu) dan jins min al-hijarah (sejenis batu).

Dua makna ini mengandung filosofi mendalam, bahwa kedudukan sabar sangat mulia, dan orang yang sabar memiliki kekokohan jiwa laksana batu karang yang tidak goyah diterjang badai.

Makna Terminologi

Para ulama tasawuf, yang menjadikan sabar sebagai kajian utama, memberikan definisi yang beragam namun saling melengkapi:

Al-Muhasibi (w. 243 H) dalam karyanya mendefinisikan sabar sebagai "mengurung diri di tempat penghambaan (ubudiyyah) dan membuang rasa gelisah."

Dzu al-Nun al-Mishri (w. 246 H) menyatakan bahwa sabar adalah "menghindarkan diri dari pertentangan, tenang ketika ditimpa musibah, dan menampakkan diri berkecukupan ketika mengalami kefakiran."

Dari definisi-definisi ini, tergambar bahwa sabar adalah perisai jiwa yang melindungi seorang muslim dari kegelisahan dan keputusasaan.

Ayat-Ayat Sabar dalam Al-Qur'an

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah ayat yang berbicara tentang sabar. Perbedaan ini bukanlah kontradiksi, melainkan kekayaan metodologi dalam menghitung kata shabr yang tersebar di berbagai surat.

Abu Thalib al-Makki dalam Qut al-Qulub menyebutkan kata sabar lebih dari 90 kali, sementara Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menyebutkan lebih dari 70 tempat.

HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar menemukan pengulangan kata sabar hingga 101 kali, sedangkan Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah mencatatnya sebanyak 97 kali.

Terlepas dari perbedaan angka, yang jelas Al-Qur'an memberikan perhatian luar biasa pada konsep ini. Ayat-ayat sabar dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori besar: perintah untuk bersabar, kabar gembira bagi orang-orang sabar, dan kisah-kisah kesabaran para nabi dan umat terdahulu.

Hakikat Sabar dalam Perspektif Al-Qur'an

1. Sabar sebagai Pengendalian Diri (QS Thaha [20]: 130)

Allah SWT berfirman: "Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam..."

Hamka menguraikan bahwa ayat ini turun sebagai respons atas cemoohan dan hinaan kaum musyrik Mekah terhadap Nabi Muhammad SAW. Dalam penjelasannya, Hamka menegaskan bahwa sabar berarti tabah, tidak tergoncang oleh sepak terjang dan tipu daya musuh. Yang menarik, Hamka menghubungkan ayat ini dengan pengalaman pribadinya ketika berdakwah di Minangkabau—di mana ia dan ayahnya, Abdul Karim Amrullah, kerap dituduh sesat bahkan dicap kafir karena upaya mereka memberantas praktik keagamaan yang menyimpang.

Quraish Shihab memaknai ayat ini sebagai perintah untuk bersabar atas pendustaan dan cemoohan, yang harus disertai dengan penyucian Tuhan (tasbih). Menurutnya, sabar yang demikian akan membuat hati merasa tenang, senang, dan puas terhadap apa yang terjadi. Ia juga merujuk pada QS Ali Imran [3]: 186 yang menegaskan bahwa gangguan akan selalu ada, dan kesabaran adalah respon terbaik untuk menghadapinya.

2. Sabar dalam Menaati Perintah Allah (QS Al-Anfal [8]: 46)

Allah SWT berfirman: "Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar."

Hamka memberikan penjelasan yang sangat rinci tentang ayat ini. Menurutnya, sabar dalam ketaatan mencakup dua dimensi: pertama, sabar dalam melaksanakan kewajiban agama seperti shalat, zakat, puasa, dan haji; kedua, sabar dalam medan perang dengan tidak berselisih pendapat dan tetap taat kepada pemimpin. Ketaatan yang dibarengi kesabaran akan melahirkan sikap ikhlas dan tawakal, bukan menjadikan ibadah sebagai beban.

Quraish Shihab lebih memfokuskan pada konteks peperangan. Ia menjelaskan bahwa ayat ini menekankan pentingnya keteguhan hati saat berhadapan dengan musuh, memperbanyak dzikir dan doa, serta menghindari perselisihan yang dapat melemahkan kekuatan. Menariknya, dalam penafsirannya, Quraish Shihab tidak secara eksplisit membahas sabar dalam ketaatan di masa damai—sebuah titik perbedaan dengan Hamka.

3. Sabar dalam Menghadapi Ujian (QS Al-Baqarah [2]: 155-156)

Allah SWT berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'."

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan bahwa ayat ini memberikan kabar gembira sekaligus peringatan. Kabar gembira bagi yang sabar, peringatan bahwa ujian pasti datang. Hamka menekankan bahwa tujuan besar seperti menegakkan tauhid tidak akan tercapai tanpa melewati rintangan—semuanya harus dijalani dengan sabar dan shalat sebagai jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah melihat ayat ini sebagai penegasan bahwa hakikat kehidupan dunia adalah ujian. Ia merinci empat bentuk ujian yang harus dihadapi dengan sabar: (1) menghadapi ejekan dan rayuan, (2) melaksanakan perintah Allah, (3) menghadapi petaka dan kesulitan, serta (4) berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

Buah Sabar: Antara Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

1. Buah Sabar di Dunia

a. Mendapatkan yang Diinginkan (QS Al-A'raf [7]: 137)

Kisah Bani Israil yang mewarisi kekuasaan Fir'aun setelah bersabar dalam penindasan selama bertahun-tahun menjadi bukti nyata bahwa kesabaran berbuah kemenangan. Hamka dalam penafsirannya mengangkat kisah ini untuk membangkitkan semangat bangsa yang tertindas—bahwa tidak ada penjajahan yang abadi jika ada kesabaran dan perjuangan.

b. Menjadi Pemimpin Kaum (QS Al-Sajdah [32]: 24)

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar."

Baik Hamka maupun Quraish Shihab sepakat bahwa ayat ini menjadi pedoman fundamental: kepemimpinan tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan melalui proses panjang kesabaran. Untuk mencapai derajat imam (pemimpin), seseorang harus melewati berbagai rintangan dan halangan dengan ketabahan.

c. Memperoleh Pertolongan Allah (QS Ali Imran [3]: 125)

Dalam Perang Uhud, ketika pasukan muslimin hanya 700 orang menghadapi 3.000 pasukan musyrik, Allah menjanjikan pertolongan 3.000 malaikat, dan jika mereka sabar dan bertakwa, akan ditambah menjadi 5.000 malaikat. Hamka menegaskan bahwa kunci keberhasilan perjuangan adalah sabar—bukan sabar yang pasif dan termenung, melainkan sabar yang aktif, tahan hati, dan terus beramal.

2. Buah Sabar di Akhirat

a. Derajat Tinggi di Surga (QS Al-Furqan [25]: 75)

"Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka..."

Hamka menjelaskan bahwa orang-orang sabar akan mendapatkan bilik atau kamar istimewa di surga. Namun, ia mengingatkan bahwa surga tidak diraih dengan mudah—ia meminta kesungguhan, jihad, pengorbanan, dan kerja keras. Syarat pertama perjuangan adalah kesungguhan, syarat keduanya adalah sabar.

b. Pahala Tanpa Batas (QS Az-Zumar [39]: 10)

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."

Quraish Shihab menjelaskan bahwa pahala tanpa batas ini diperuntukkan bagi mereka yang sabar dalam berhijrah—baik hijrah fisik meninggalkan tanah kelahiran maupun hijrah spiritual meninggalkan kemaksiatan. Sementara itu, Hamka mengutip riwayat dari Anas bin Malik bahwa orang-orang yang tabah menghadapi ujian (ahlul bala') kelak tidak akan ditimbang amalnya, melainkan langsung mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Kisah-Kisah dalam Al-Qur'an tentang Akibat Ketidaksabaran

1. Bani Israil: Kehinaan karena Tidak Sabar (QS Al-Baqarah [2]: 61)

Kisah Bani Israil yang mengeluh dan tidak sabar dengan makanan manna dan salwa, lalu meminta diganti dengan makanan yang lebih "bumi", berakhir dengan kehinaan. Hamka dan Quraish Shihab sama-sama mencatat bahwa mereka ditimpa kenistaan, kemiskinan, dan kemurkaan Allah karena sikap tidak sabar dan tidak sopan kepada Nabi Musa.

2. Nabi Yunus: Pelajaran Kesabaran dalam Dakwah (QS Al-Qalam [68]: 48)

Kisah Nabi Yunus yang "kabur" dari tugas dakwah karena tidak sabar menghadapi kaumnya, lalu ditelan ikan paus, menjadi pelajaran berharga. Quraish Shihab menekankan bahwa kisah ini ditampilkan untuk menunjukkan pentingnya kesabaran dalam berdakwah, serta ketulusan dalam berdoa ketika menghadapi kesulitan.

Hikmah Tadabbur Ayat tentang Sabar dalam Al-Qur'an

Dari tadabbur ayat-ayat sabar dan analisis komparatif atas pemikiran dua mufassir terkemuka Indonesia, kita dapat merumuskan hakikat sabar sebagai berikut:

  • Sabar adalah kemampuan mengendalikan diri, menaati perintah Allah, dan menghadapi ujian dengan ketabahan. Ia adalah sikap jiwa yang besar dan terlatih, yang diperoleh melalui latihan terus-menerus.
  • Sabar dalam Al-Qur'an adalah konsep yang aktif dan produktif. Bukan sikap pasif menerima kemalangan, melainkan kekuatan dinamis yang mendorong seorang muslim untuk terus berjuang, bekerja keras, dan tidak pernah menyerah.
  • Buah sabar dapat dipetik di dunia—berupa kemenangan, kepemimpinan, dan pertolongan Allah—maupun di akhirat, berupa derajat tinggi di surga dan pahala tanpa batas.
  • Ketidak-sabaran membawa konsekuensi serius: kehinaan, kemiskinan, dan bahkan murka Allah, sebagaimana tercermin dalam kisah Bani Israil dan pelajaran dari Nabi Yunus.

Di tengah kompleksitas kehidupan modern, pemahaman yang benar tentang sabar menjadi semakin relevan. Sabar bukanlah alasan untuk diam dan pasrah, melainkan energi untuk terus bergerak maju. Sabar adalah perisai yang melindungi, sekaligus pedang yang membuka jalan menuju kemenangan, di dunia maupun di akhirat.

People Also Ask:

Quran surat apa yang menjelaskan tentang sabar?

Al-Qur'an memiliki banyak ayat tentang sabar, menekankan bahwa Allah bersama orang yang sabar dan menjanjikan pahala tanpa batas, seperti dalam Al-Baqarah: 153 (jadikan sabar & salat penolong), Ali 'Imran: 146 (Allah mencintai orang sabar), Az-Zumar: 10 (pahala orang sabar tanpa batas), dan Al-'Imran: 200 (perintah bersabar & kuatkan kesabaranmu). Ayat-ayat ini mengajarkan sabar sebagai kekuatan dalam menghadapi ujian, perselisihan, dan ketaatan agar meraih keberuntungan.

Al-Baqarah ayat 153 tentang apa?

Surat Al Baqarah Ayat 153, Arab Latin, Arti, Tafsir dan KandunganIsi kandungan Surat Al-Baqarah ayat 153 adalah perintah bagi orang beriman untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam menghadapi cobaan hidup, karena sesungguhnya Allah SWT selalu bersama orang-orang yang sabar, memberikan pertolongan, keteguhan hati, dan ketenangan, baik dalam ketaatan, menjauhi maksiat, maupun menghadapi musibah. Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran dan shalat adalah kunci meraih pertolongan Allah di dunia dan akhirat.

Apa keutamaan sikap sabar pada surat Az Zumar ayat 10?

Keutamaan Sabar dalam Islam: Pahala Tanpa Batas | TikTokKeutamaan sikap sabar dalam Surah Az-Zumar ayat 10 adalah pahala yang disempurnakan tanpa batas (tanpa perhitungan), menunjukkan betapa besar balasan dari Allah SWT bagi mereka yang sabar dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan menerima takdir-Nya, serta sabar membantu segala urusan hidup, menjanjikan derajat tinggi di sisi Allah dan kehidupan yang baik.

Sabar ada 4 apa saja?

Macam-Macam Sabar dalam Islam

Sabar dalam ketaatan (as-shabr 'ala tha'ah) → konsisten menjalankan perintah Allah. Sabar menjauhi maksiat (as-shabr 'anil ma'shiyah) → menahan diri agar tidak melanggar larangan Allah. Sabar menghadapi musibah (as-shabr 'ala al-bala') → tabah menerima cobaan hidup.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |