Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan mulai meninggalkan penggunaan sistem satelit navigasi Global Positioning System (GPS) buatan Amerika Serikat, dan beralih ke sisten navigasi BeiDou Navigation Satellite System milik China.
Melansir, National Herald India, kini Iran diam-diam mulai meninggalkan GPS, dan langkah ini dinilai bisa membuat negara Barat khawatir.
Dulu, sistem rudal Iran, jaringan seluler, hingga armada kapal dagangnya bergantung pada sinyal navigasi yang dipancarkan dari satelit milik Amerika Serikat. Tapi itu kini sudah berakhir.
Kini Iran secara tegas beralih dari GPS yang dikendalikan Amerika Serikat ke jaringan satelit milik China, BeiDou Navigation Satellite System. Dijelaskan bahwa dampak hal ini jauh lebih besar dai yang disadari, khususnya dari kemampuan militer Iran termasuk keseimbangan kekuatan teknologi di Timur Tengah dan kawasan lain.
Perubahan ini bukanlah langkah mendadak, melainkan proses pemisahan yang berlangsung secara bertahap. Selama bertahun-tahun, para perencana Iran menyadari bahwa GPS merupakan tulang punggung sistem navigasi dan penentuan waktu global, yang dikendalikan oleh Pentagon. Meskipun secara resmi bersifat gratis dan terbuka, akses GPS sebenarnya dapat dikurangi kualitasnya atau bahkan dibatasi secara selektif.
Dengan posisi Iran yang sering berada di bawah sanksi dan pengawasan Amerika Serikat, risiko tersebut tidak pernah hanya sekadar teori.
Pasukan Amerika Serikat diketahui pernah mengganggu (jam) atau memalsukan sinyal GPS di kawasan teluk. Sementara itu Israel juga kerap memanipulasi sinyal satelit untuk membingungkan sistem sipil maupun militer.
Respons Tehran tidak dilakukan secara keras, tetapi cukup jelas. Yaitu, berhenti bergantung pada infrastruktur Amerika dan mulai membangun alternatif.
Sistem Satelit China
Sehingga Iran mencari alternatif yaitu sistem GPS dari China yaitu BeiDou. Sistem ini dikembangkan selama lebih dari dua dekade dan kini menawarkan cakupan global penuh serta sinyal militer terenkripsi dengan tingkat akurasi hingga skala desimeter.
Iran mulai bekerja sama secara resmi dengan program BeiDou sekitar tahun 2015, dan pada 2021 memperoleh akses ke sinyal militer tingkat tinggi-status yang sebelumnya hanya diberikan kepada mitra terdekat China.
Perubahan ini bukan sekadar soal peta yang lebih akurat atau navigasi drone yang lebih stabil. Ini juga berarti memutus salah satu titik kendali penting yang sebelumnya dimiliki Amerika Serikat terhadap negara-negara yang dianggap lawan.
Dalam serangan rudal Iran terhadap Israel pada April 2024, sejumlah senjata Iran dilaporkan menunjukkan tingkat akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapa rudal bahkan mengenai target dengan selisih hanya sekitar 10 meter, jauh lebih presisi dibandingkan generasi sebelumnya.
Kemungkinan besar peningkatan akurasi ini bukan hanya karena peningkatan teknologi senjata, tetapi juga karena drone dan rudal Iran tidak lagi bergantung pada sinyal GPS yang dapat diganggu atau dimanipulasi. Sebagai gantinya, mereka menggunakan panduan dari BeiDou.
Dampaknya juga meluas ke sektor sipil. Penggunaan BeiDou kini semakin berkembang di Iran. Drone pertanian menggunakan rute berbasis BeiDou untuk menyemprot tanaman, otoritas pelabuhan memanfaatkan sistem ini untuk pemetaan maritim, dan bahkan aplikasi transportasi daring mulai mengintegrasikan perangkat yang kompatibel dengan BeiDou.
Seperti sering terjadi pada teknologi baru, penggunaan militer sering menjadi jalan bagi penerapan massal di sektor sipil.
Namun mungkin dampak paling penting dari peralihan Iran ini adalah pesan geopolitiknya. Dominasi global GPS mulai retak-bukan hanya secara teknologi, tetapi juga secara politik.
Strategi "Space Silk Road" China, di mana BeiDou menjadi pilar utama, bertujuan membangun ekosistem infrastruktur global yang menjadi alternatif bagi sistem Barat.
Iran kini menjadi salah satu anggota garis depan dalam ekosistem tersebut. Negara lain juga mulai bergerak ke arah yang sama. Sistem navigasi GLONASS milik Russia mulai diintegrasikan dengan BeiDou. Korea Utara dilaporkan juga bereksperimen dengan sistem yang kompatibel, sementara Pakistan telah lebih dulu bergabung.
Blok Baru Terbentuk
Blok baru mulai terbentuk bukan berdasarkan ideologi, tapi kedaulatan digital dan kepentingan geopolitik yang sama.
Bagi AS ini menjadi tantangan. Dalam konflik masa depan yang melibatkan Iran mematikan akses GPS tidak lagi membuat serangan itu menjadi "buta" arah.
Di sisi lain, Bei Dou juga belum menjadi solusi sempurna. Iran masih bergantung pada perangkat keras, pembaruan perangkat lunak, dan pemeliharaan satelit dari China. Beijing tetap memiliki kemampuan untuk membatasi atau mencabut akses tersebut, meskipun kemungkinan kecil dilakukan mengingat hubungan strategis kedua negara yang semakin erat.
Di masa depan, perang dan perdamaian tidak hanya ditentukan pasukan darat atau kapal di laut. Tapi juga logika senyap satelit di orbit yang memandu rudal sekaligus ekonomi di atas bumi.
(emy/haa)
Addsource on Google

7 hours ago
3
















































